6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Ilustrasi (sorensenclinic.com)
Dream - Para ilmuwan berhasil membuka misteri mengapa manusia menjadi satu-satunya primata yang memiliki dagu. Ternyata semuanya tidak ada hubungannya dengan seksualitas, tapi berkaitan dengan penemuan memasak makanan.
Penelitian dari University of Florida menemukan upaya terbaru untuk menjelaskan mengapa manusia--seperti semua primata lainnya--memiliki dagu.
Penulis James Pampush menunjukkan fakta bahwa kera dan monyet tidak memiliki dagu. Ini membuktikan mereka harus berevolusi, setelah nenek moyang manusia memisahkan diri dari cabang keluarga primata.
Beberapa berpendapat di masa lalu bahwa perkembangan dagu bisa jadi hanyalah contoh acak dari 'pergeseran genetik', tanpa tujuan evolusi apapun.
Namun, penelitian baru yang dipublikasikan dalam Journal of Human Evolution mengatakan, bahwa karena evolusi dagu terjadi 77 kali lebih cepat dari perubahan genetik pada umumnya, sangat tidak mungkin hal itu terjadi secara acak.
Menurut perhitungan Pampush dagu manusia mulai muncul beberapa waktu antara enam juta sampai 200.000 tahun yang lalu, dengan perkiraan yang paling mungkin berada di sekitar dua juta tahun yang lalu.
Hal ini bertepatan dengan lompatan besar berupa kecerdasan manusia, yang menyebabkan terobosan ke depan termasuk penemuan memasak.
Evolusi dagu muncul sebagai akibat dari gigi dan rahang manusia menyusut, karena mereka tidak lagi diperlukan untuk mengunyah daging dan tanaman mentah.
" Dugaan saya adalah bahwa hal itu terjadi sekitar dua juta tahun yang lalu ketika ada lonjakan ukuran otak manusia. Kita sudah mengunyah makanan yang lembut, jadi tidak membutuhkan gigi yang besar," kata Pampush kepada Independent pada Minggu kemarin.
Pampush menduga perubahan pada dagu secara langsung berhubungan dengan memasak, dan secara tidak langsung berhubungan dengan otak dan tubuh yang lebih besar.
Karena dagu adalah produk sampingan dari perubahan evolusioner, bukannya dipilih untuk langsung, maka dagu oleh para ilmuwan disebut sebagai 'gerbang'.
Teori baru Pampush bertentangan teori sebelumnya yang menyebut dagu adalah contoh dari seleksi seksual yang menganggap pria dengan dagu yang menonjol cenderung akan memiliki pasangan yang baik.
Namun faktanya, baik laki-laki dan perempuan memiliki dagu yang berarti teori seleksi seksual tidak mungkin, karena perkembangan tersebut biasanya hanya berlaku untuk satu jenis kelamin, tidak keduanya.
Teori lain yang diajukan di masa lalu mengklaim bahwa dagu adalah cara untuk mengimbangi stres yang diterima rahang dengan aksi mengunyah, namun Pampush juga meragukan teori itu.
(Ism, Sumber: Daily Mail)
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya