Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Sumber: Www.livescience.com)
Dream - Ada yang bilang bahasa musik itu bersifat universal, namun bisa hilang ditelan zaman.
Karena itulah, setelah melakukan upaya rekonstruksi selama 20 tahun, seorang peneliti menghidupkan kembali lagu 'hilang' dari Abad Pertengahan.
Lagu berjudul 'Songs of Consolation' itu baru-baru ini dipentaskan di University of Cambridge, Inggris. Direkonstruksi dari 'neumes' (simbol-simbol di Abad Pertengahan yang digunakan untuk mewakili notasi musik), nada-nada tersebut kemudian dibawakan bersama puisi karya filsuf Romawi Boethius, 'The Consolation of Philosophy'.
Dua dekade mungkin tampak seperti persiapan yang terlalu lama untuk sebuah konser, tapi mementaskan karya-karya kuno tidak hanya sekadar membaca lembaran musik dan memainkannya.
Satu milenium yang lalu, musik ditulis dalam kerangka melodi, bukan notasi seperti yang dilakukan musisi modern sekarang.
Setelah jadi, musik kemudian diperdengarkan secara aural dan melalui ingatan kenangan. Karena tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi sejak ratusan tahun yang lalu, hampir tidak mungkin untuk memahami musik dari era tersebut karena pitch-nya (tinggi-rendah nada) tidak diketahui, para ahli mengatakan.
Sam Barrett, seorang dosen musik senior di University of Cambridge, menghabiskan 20 tahun terakhir untuk mengidentifikasi teknik musik dan melodi 'Songs of Consolation'.
Dia kemudian bekerja dengan Benjamin Bagby, anggota dari Sequentia, grup musik yang tertarik menggali lagu-lagu Abad Pertengahan. Bersama-sama, mereka menguji teori musik Abad Pertengahan dengan iringan musik yang ada.
" Ben mencoba berbagai kemungkinan, dan saya hanya perlu bereaksi terhadapnya. Begitu sebaliknya," kata Barrett dalam sebuah pernyataan. " Ketika saya melihat dia memainkan lagu abad 11, itu benar-benar sensasional. Dia membawa titik terang untuk teka-teki intelektual yang selama bertahun-tahun saya merasa frustrasi untuk memecahkannya."
Para peneliti menghadapi satu rintangan besar dalam proyek rekonstruksi mereka: halaman yang hilang dari naskah abad ke-11 yang disebut 'Cambridge Songs'. Halaman hilang ini mengandung notasi penting yang digunakan untuk memahami prinsip-prinsip musik pada zaman tersebut.
Barrett mengatakan notasi tersebut memungkinkan dia dan Bagby untuk 'mencapai waktu kritis" 'yang tidak mungkin diselesaikan tanpa potongan teka-teki itu.
" Ada saat-saat ketika saya meneliti ini yang saya berpikir saya di abad ke-11," kata Barrett.
(Ism, Sumber: livescience.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya