Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Beribadah Haji (Foto: Shutterstock.com)
Kementerian Kesehatan akan menerjunkan tim preventif mengawal jemaah haji risiko tinggi.
Dream - Jemaah haji yang berpotensi mengidap jantung disarankan untuk membatasai aktivitasnya selama menjalankan Rukun Islam kelima itu. Imbaun ini disampaikan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan, Eka Jusup Singka.
Menurut Eka, jemaah haji yang berpotensi mengidap penyakit jantung akan mendapatkan tindakan antisipatif. Salah satu caranya diawali dengan tindakan preventif melalui penyuluhan.
"Yang mengalami kelainan jantung bisa membatasi aktivitasnya, bukan membatasi ibadahnya," ujar Eka, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Selatan, Minggu, 3 Juni 2018.
Eka mencontohkan salah satu upaya preventif itu adalah dengan tak memaksakan kondisi tubuh demi ibadah. Jemaah yang merasakan kondisi tubuhnya melemah dapat beribadah di pondokan kecuali untuk wajib haji.
"Ibadah harus tetap kita lakukan. Karena rukun dan wajib haji penting," ujar dia.
Eka menuturkan sebagian besar jemaah yang mengidap penyakit jantung telah didata di dalam negeri. Meski sudah menurunkan tim preventif, Eka meminta jemaah tetap memperhatikan kondisi tubuh sendiri.
"Jemaah harus sadar diri," ujar dia.
Sementara itu, bahaya lain yang mengancam jemaah haji yaitu headstroke. Eka mengimbau jemaah haji untuk selalu mengenakan payung dan istirahat. "Serta sering minum," kata dia.
(Sah)