Kebangkitan Dinasti Marcos, Mengapa Bongbong Marcos Jr Menang?

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 23 Mei 2022 14:15
Kebangkitan Dinasti Marcos, Mengapa Bongbong Marcos Jr Menang?
Hoaks dan disinformasi di media sosial jadi senjata Marcos Jr.

Dream- Alex Escandor, 57 tahun, berdiri bersama puluhan orang di sepanjang jalan EDSA, Metro Manila, Filipina, di luar markas kampanye Marcos-Duterte pada Selasa, 10 Mei 2022. Dia membawa bingkai kaca selebar tubuhnya. Tertempel di tengah bingkai itu adalah satu sosok yang tidak asing lagi:  Potret mantan diktator Presiden Filipina yang terguling, Ferdinand Marcos.

Escandor telah menyimpan bingkai foto besar itu selama sekitar 36 tahun. Itu adalah semacam pusaka warisan dari ibunya, yang diminta ibunya untuk dia jaga.

“ Sabi sa akin: ‘Anak, itabi mo iyan hanggang sa bumalik ang mga Marcos. Hindi man si Apo, pero isa sa mga anak niya’,” kenangnya seperti dikutip Rappler. Artinya: “ Dia mengatakan kepada saya, “ Nak, simpan potret itu sampai keluarga Marcos kembali. Mungkin bukan Apo yang akan melakukannya, tapi salah satu anaknya.’”

Ketika ibunya sudah lama meninggal dunia, harapan ibunya itu akhirnya menjadi kenyataan.

Sekitar 36 tahun kemudian setelah kejatuhan diktaktor Marcos, puteranya, Ferdinand “ Bongbong” Marcos Jr. , 64 tahun, ditetapkan sebagai pemenang kursi kepresidenan Filipina dalam pemilu presiden yang paling memecah belah sepanjang sejarah bangsa itu.

Menurut hasil Komisi Pemilihan Umum Filipina (Comelec), Bongbong Marcos Jr. menerima lebih dari dua kali lipat suara pesaing terdekatnya, mantan pengacara hak asasi manusia dan Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo. Dengan 97,84% suara yang sudah masuk dari daerah pemilihan,  Bongbong Marcos Jr. mendapat 31.091.482 suara, sementara pesaing terdekatnya Leni Robredo hanya memperoleh 14.815.276 suara.

Escandor sendiri rela naik bus dari Imus ke Metro Manila, bergabung dengan sesama pendukung saat mereka bersukacita menyambut kembalinya dinasti Marcos ke Istana Malacañang. Saat dia berdiri menghadap jalan bersejarah, di belakangnya, puluhan pendukung Marcos menyanyikan “ Bagong Lipunan”, lagu populer di masa jayanya Ferdinand Marcos. Lagu yang bagi banyak orang yang selamat dari Darurat Militer, justru membangkitkan kenangan traumatis.

“ Dia akan mengangkat negara kita dari kemiskinan yang kita alami sekarang,” kata pendukungnya yang lain, seorang pensiunan polisi Anthony Sola, yang menggambarkan dirinya sangat gembira.

Pria berusia 50 tahun itu menepis tuduhan bahwa keluarga Marcos mencuri sebanyak U$ 10 miliar atau Rp 146 triliun dari rakyat Filipina selama periode terakhir kekuasaan mereka.

“ Saya tidak percaya mereka mencuri uang. Karena jika mereka melakukannya, mereka seharusnya sudah dipenjara,” katanya seperti dikutip Taipei Times.

***.

Reaksi pendukung Bongbong Marcos Jr. itu memang mencengangkan.   Ayah Bongbong adalah seorang diktaktor yang kejam. Sementara Ibunya Imelda Marcos mendapatkan ketenaran internasional untuk koleksi mewah ribuan sepatu bermereknya.

Bongbong (paling kanan) saat bersama Marcos, Imelda dan kakaknya© BBC

(Bongbong (paling kanan) saat bersama Marcos, Imelda dan kakaknya/BBC)

Jadi, bagaimana Ferdinand Marcos Jr. yang lebih dikenal dengan nama panggilannya Bongbong bisa menjadi presiden Filipina terpilih pada Pilpres 9 Mei?

Senjatanya adalah paduan dari politik dinasti, loyalitas dari generasi ke generasi, dan manipulasi media sosial.

Di daerah asal Marcos, llocos Norte, berdiri sebuah bangunan bergaya kolonial Spanyol yang mengesankan - Malacañang of the North.

Di sinilah Bongbong menghabiskan masa kecilnya. Tepat di samping ranjang tidurnya yang bertiang empat itu tergantung sebuah lukisan luar biasa dari calon pemimpin masa depan. Siapakah itu?

Ternyata di lukisan itu menggambarkan Bongbong mengenakan mahkota emas, menunggang kuda putih menembus awan. Di satu tangan ia membawa bendera Filipina, di tangan lain sebuah Alkitab. Referensi mazmur di sudut lukisan membantu memecahkan kode citra - Apo 21:1 wahyu yang menggambarkan seorang malaikat terbang di atas kota suci Yerusalem yang bertembok.

Digulingkan dalam revolusi kekuatan rakyat pada tahun 1986, keluarga Marcos secara global memang diindikasikan kuat memupuk kekayaan dengan korupsi.

Ketika kaum revolusioner menyerbu Istana Kepresidenan Malacanang, mereka menemukan potret keluarga yang fantastis, jacuzzi dengan aksesoris berlapis emas murni, 15 mantel bulu, 508 gaun haute couture. Dan, yang paling mencengangkan mereka mendapati lebih dari 3.000 pasang sepatu desainer terkenal milik Imelda Marcos.

Koleksi sepatu Imelda Marcos© BBC

(Koleksi sepatu Imelda Marcos/BBC)

Tapi saat Bongbong berkampanye sebagai calon presiden, para pendukungnya tidak memercayai fakta-fakta itu. Rivalnya mengatakan, ini karena media sosial telah digunakan untuk menabur disinformasi dan menutupi sejarah. Nyatanya memang selama bertahun-tahun, Facebook telah dibanjiri dengan unggahan propaganda dan akun anonim yang membela keluarga Marcos.

Manipulasi masa lalu ini telah begitu tersebar luas sehingga orang-orang meyakini hoaks tersebut dengan keyakinan mutlak. Mereka meyakini bahwa pemerintahan tirani Ferdinand Marcos sebenarnya adalah " masa keemasan" bagi Filipina. Meskipun, faktanya pada waktu itu ekonomi Filipina sempat berada di ambang kebangkrutan dan  banyak berutang ke bank asing.

***

Bongbong memang dipersiapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan sejak usia muda. Rekaman arsip dari tahun 1986 menunjukkan dia (saat itu berusia 28 tahun) berdiri di samping ayahnya dengan seragam tentara. Foto itu diambil di hari keluarga tersebut terpaksa meninggalkan Istana Malacang akibat revolusi tahun 1986.

Tetapi, salah satu catatan buku harian ayahnya dari tahun 1972 -seperti dikutip BBC– justru mengungkapkan kekhawatiran Marcos Sr. terhadap puteranya: " Bongbong adalah kekhawatiran utama kami. Dia terlalu riang dan malas."

Bongbong dan Marcos Sr© Twitter

(Bongbong dan Marcos Sr/Twitter)

Pada tahun 1975, Bongbong belajar di Universitas Oxford, Inggris, untuk mendapatkan gelar dalam bidang Filsafat, Politik dan Ekonomi (PPE), sekolah yang dipandang sebagai pintu gerbang menuju karir sebagai politisi. Tapi, dia gagal lulus.

Sebuah laporan oleh situs berita Filipina Verafiles mengungkapkan bahwa diplomat Filipina melobi sampai universitas agar Bongbong diberikan diploma khusus dalam ilmu sosial. Ini setelah Bongbong dua kali gagal dalam ujian.

Namun kontroversi tersebut tidak menghentikannya untuk memulai karir politik yang cemerlang selama rezim ayahnya berkuasa.

Marcos Jr. menjadi Wakil Gubernur provinsi asalnya, Ilocos Norte pada usia 23 tahun. Dua tahun kemudian didapuk menjadi Gubernur di provinsi itu. Tapi enam tahun kemudian, keluarganya tersingkir dari Filipina.

Keluarga itu diizinkan kembali ke Filipina setelah Marcos wafat. Mereka kembali ke Filipina pada tahun 1991, dan Marcos Jr. sekali lagi terpilih sebagai Gubernur di Ilocos Norte.

Pada tahun 2010, ia terpilih menjadi senator. Enam tahun kemudian,  ia mencalonkan diri sebagai wakil presiden  (2016). Tapi, gagal.  Ia kalah tipis dari mantan pengacara hak asasi manusia Leni Robredo - juga saingan utamanya dalam Pemilihan Presiden Filipina 2022.
Pasangan Bongbong dalam Pilpres Filipina  2022 adalah Sara Duterte (43 tahun). Sara merupakan putri dari Presiden Filipina saat ini, Rodrigo Duterte.

Konstitusi negara itu mencegah Presiden Rodrigo Duterte mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, setelah menyelesaikan enam tahun masa jabatannya.

Rodrigo Duterte terkenal sebagai  pemimpin kontroversional. Pada tahun 2016 misalnya, Duterte melancarkan " perang melawan narkoba" yang mengakibatkan ribuan pengedar dan pengguna dieksekusi mati tanpa proses peradilan apa pun.

Sara Duterte sepertinya akan mengikuti jejak kontroversional ayahnya. Sara misalnya ingin membuat wajib militer untuk anak berusia 18 tahun. Sedangkan Bongbong mengatakan dia terbuka untuk menjatuhkan hukuman mati pada penjahat yang tidak dapat direhabilitasi.

***

Untuk memahami sepenuhnya bagaimana Bongbong Marcos mampu melakukan kebangkitan politik bagi keturunan Marcos, dapat melihatnya dari  Provinsi Ilocos Norte. Provinsi ini merupakan benteng tradisional keluarga Marcos.

Banyak rakyat di sana tetap setia kepada keluarga Marcos, karena daerah itu menerima dana istimewa. Sementara provinsi lainnya harus tunduk pada darurat militer yang brutal selama 14 tahun sejak 1972.

Orang-orang di Ilocos Norte juga menolak memercayai keluarga Marcos bersalah atas korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia. Sebuah sentimen yang dibantu oleh manipulasi media sosial yang cerdik.

Padahal, pelanggaran hak asasi manusia merajalela selama masa jabatan Marcos, yang ditandai dengan penangkapan sewenang-wenang, penghilangan paksa, penyiksaan dan pembunuhan. Amnesty International melaporkan bahwa 70.000 orang –termasuk pendeta, pembela hak asasi manusia, pemimpin buruh dan jurnalis– dijebloskan ke balik jeruji besi, lebih dari 34.000 orang disiksa dan lebih dari 3.000 orang dibunuh.

Untuk menghapus cacat sejarah keluarga Marcos, Bongbong mencoba melakukan pencitraan baru bagi keluarganya. Ia pun menghubungi konsultan politik Cambridge Analtyca yang berhasil menaikkan Donald Trump menjadi Presiden AS dan sukses membuat Inggris lepas dari Uni Eropa dalam referendum Brexit.

Brittany Kaiser, mantan karyawan perusahaan konsultan politik Inggris Cambridge Analytica, mengatakan kepada Rappler bahwa Bongbong mendekati perusahaannya untuk " mengubah citra" keluarga Marcos di media sosial.

Brittany Kaiser, Direktur Cambridge Analytica© Wkipedia

(Brittany Kaiser, Direktur Cambridge Analytica/Wikipedia)

“ Jadi kami mendapat permintaan langsung dari Bongbong Marcos untuk melakukan rebranding keluarga Marcos. Permintaan ini dibawa melalui staf internal di Cambridge Analytica, dan menjadi perdebatan. Ada beberapa orang yang tidak ingin menyentuhnya. Dan ada yang lain, seperti CEO kami, Alexander Nix, yang melihatnya sebagai peluang finansial dan tetap meminta untuk membuat proposal penawaran,” kata Kaiser.

Cerita Kaiser mengingatkan kembali pada jaringan disinformasi luas yang ditemukan oleh Rappler pada tahun 2019. Jaringan yang digunakan keluarga Marcos secara sistematis untuk membuka jalan bagi kebangkitan masa depan dinasti Marcos dalam politik Filipina.
Investigasi Rappler menemukan bahwa jaringan propaganda grup Facebook yang dikelola secara anonim digunakan untuk mengubah persepsi publik tentang keluarga tersebut.

Ini dilakukan dengan mengecilkan atau secara terang-terangan menyangkal kleptokrasi dan pelanggaran hak asasi manusia selama tahun-tahun Darurat Militer Marcos. Kelompok yang sama juga telah melebih-lebihkan pencapaian Marcos, serta memfitnah kritikus, saingan, dan media massa.

Penyelidikan Rappler menemukan bahwa beberapa halaman Facebook Marcos dibuat jauh lebih awal. Pembuatan halaman propaganda Marcos di Facebook meningkat pada tahun 2014, saat mantan ibu negara Imelda Marcos pertama kali menyebutkan bahwa dia ingin putranya Bongbong mencalonkan diri sebagai presiden.

***

Bongbong tidak hanya memanipulasi narasi sejarah. Ia juga menyebarkannya di media sosial.

Masalahnya, di Filipina konsumsi media sosial di negara itu lebih tinggi dari rata-rata penikmat sosial media dunia.

Sebuah studi tahun 2020 oleh perusahaan basis data Jerman Stastista, menemukan bahwa orang Filipina berusia 16 hingga 64 tahun, menghabiskan rata-rata hampir empat jam sehari untuk terhubung ke jejaring media sosial. Sebagai perbandingan, penduduk Inggris rata-rata hanya menghabiskan waktu di media sosial hampir dua jam sehari.

Fakta ini membantu menjelaskan penyebab Bongbong Marcos Jr. memenangkan lebih dari 24,7 juta suara dari generasi muda, berusia 18-41 tahun. Ini karena para penikmat media sosial ini memang tidak merasakan kepemimpinan Ferdinand Marcos Jr. berkuasa. Pemilih usia 41 misalnya, sewaktu Marcos berkuasa, pada 36 tahun lalu, itu  masih di bawah lima tahun umurnya.  Mana tahu soal politik!

Alih-alih menjauhkan diri dari warisan ayahnya, Marcos Jr menggunakan platform online untuk mengubah sosok ayahnya menjadi pahlawan nasional, mengklaim bahwa ayahnya membawa " zaman keemasan" ke Filipina.

Bongbong Marcos© The Nation

(Bongbong Marcos/The Nation)

Menurut The Nation, Bongbong juga mengunjungi makam ayahnya di Taman Makam Pahlawan nasional di Metro Manila. Selama beberapa dekade, keluarga Marcos dan pendukung mereka berkampanye agar jenazahnya dipindahkan ke sana, sebelum Presiden Rodrigo Duterte setuju untuk melakukannya pada tahun 2016.

Marcos Jr. memang memenangkan Pemilihan Presiden Filipina dengan menggunakan media sosial sebagai alat propaganda. Bongbong mendalangi kampanye strategis selama bertahun-tahun di media sosial. Ini akhirnya telah membantu membangun kembali dan memoles citra keluarganya. Propaganda pro-Marcos telah menjamur di media sosial –mulai dari Facebook sampai klip TikTok mengkilap yang menunjukkan “ masa-masa menyenangkan” selama era Marcos hingga video YouTube yang menyatakan tidak ada darurat militer.

Selain itu, Bongbong menghindari wawancara dengan media selama kampanye. Ia juga menolak hadir dalam debat Capres terbuka yang digelar Comelec. Ia dan timnya lebih fokus bermain di media sosial.

Lewat manipulasi sejarah dan penggunaan media sosial untuk disinformasi sesuai saran Cambridge Analtyca yang sudah terbukti sukses menaikkan Donald Trump di Amerika, ternyata juga memuluskan langkah Bongbong kembali ke Istana Malacanang. Menjadi anak diktaktor pertama yang kembali duduk manis jadi Filipina 1. (eha)

Beri Komentar