Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Dream - Media sosial semakin banyak digunakan untuk penyebaran sentimen anti-Muslim dan anti-Semitisme, sekelompok Anggota Parlemen Inggris mengatakan dalam sebuah laporan.
Dalam laporannya pada Senin pekan lalu, para anggota parlemen Inggris menyerukan pemerintah dan anggota parlemen untuk memperlakukan orang-orang yang menyebarkan kebencian rasial secara online dengan cara yang sama seperti pelaku kejahatan seks.
Menurut laporan itu, umat Islam hampir tiga kali dan Yahudi delapan kali lebih mungkin menjadi korban kebencian agama dibandingkan dengan orang-orang Kristen.
Menariknya, tim penyelidik menemukan bahwa ada "variasi penting dalam jumlah tweet rasial setiap hari" untuk "Muslim" dan "Yahudi" masing-masing selama Juli dan Agustus.
Tren tersebut semakin meluas setelah Israel menyerang Jalur Gaza tahun lalu.
Menurut laporan, tweet yang berkaitan dengan Yahudi meningkat setelah konflik dimulai, dan puncaknya pada 13 Juli. Tweet rasial itu tidak mereda bahkan saat Israel menarik pasukannya dari Gaza.
"Tweets dalam kaitannya dengan umat Islam mengikuti waktu konflik yang sama, tetapi puncaknya hanya ada pada hari-hari tertentu. Ini tampaknya berhubungan dengan pesan dan panggilan untuk perdamaian saat Idul Fitri," kata laporan itu.
Laporan meminta pemerintah Inggris untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk memerangi "meningkatnya anti-Semitisme di Inggris".
Orang-orang yang menyebarkan kebencian rasial online harus ditendang dari situs media sosial dan juga dilarang menggunakan identitas palsu, tambah laporan itu.
The Anadolu Agency berbicara dengan Akeela Ahmed, warga negara dan aktivis kesetaraan Muslim Inggris, tentang pengalamannya di Twitter setelah serangan di Paris.
"Muslim adalah target serangan kebencian di media sosial, terutama mereka yang mengenakan jilbab dan Twitter tidak mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah serangan tersebut terhadap umat Islam."
Dia juga mengatakan pernah mengalami "pelecehan beberapa Islamofobia" dalam menanggapi salah satu tweet-nya oleh orang yang mengatakan, "Muslim harus diserang."
"Twitter tidak melakukan apa-apa ketika orang-orang biasa diserang secara online, tetapi akan bertindak cepat saat orang terkenal terlibat," Ahmed menduga.
Tingkat kebencian cyber terhadap Muslim di Inggris telah meningkat sangat tinggi, menurut Fiyaz Mughal, direktur "Tell Mama," sebuah proyek yang mencatat insiden anti-Muslim di Inggris.
(Sumber: World Bulletin)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?

Suka Camilan Gurih Dan Renyah? Ini Pilihan Untuk Temani Aktivitas Sehari-hari