Kehabisan Anggaran, Tes PCR Gratis Cuma Buat Pasien Suspek dan Tracing Kontak

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 9 November 2021 07:00
Kehabisan Anggaran, Tes PCR Gratis Cuma Buat Pasien Suspek dan Tracing Kontak
PCR untuk skrining tidak akan ditanggung Negara.

Dream - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan pelaksanaan tes PCR gratis kepada masyarakat nantinya akan dibatasi. Kebijakan ini diambil karena Pemerintah sudah tidak memiliki anggaran untuk pelaksanaan PCR.

" Untuk tahun ini kita agak sulit (PCR gratis) karena kita tidak memiliki anggaran untuk itu," ujar Budi.

Tes PCR gratis selanjutnya hanya diperuntukkan bagi suspek dan pelacakan (tracing) kontak dekat. Sedangkan untuk kebutuhan skrining tidak akan ditanggung negara.

Budi mengatakan kebijakan ini sudah berdasarkan saran dari para epidemiolog. Menurut dia, testing yang benar hanya untuk suspek dan tracing.

" Karena memang secara medis juga para epidemiolog selalu bilang testing yang benar adalah testing suspek dan kontak erat yang dilakukan di Puskesmas," kata dia.

Selain itu, Budi juga mengungkapkan Presiden Joko Widodo meminta testing epidemiologi dikaji kembali. Sebab, meski disarankan cara ini memiliki kelemahan yaitu masyarakat tidak mau dites jika kontak dekat.

" Jadi orang-orang kita tuh begitu sudah turun, dia kontak erat, mau dites nggak mau (menolak)," terang dia, dikutip dari Merdeka.com.

1 dari 4 halaman

Menkes Khawatir Pemimpin G20 Ogah Datang Jika Covid-19 Melonjak di Awal 2022

Dream - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengaku khawatir terjadi lonjakan kasus Covid-19 pada Januari-Februari 2022. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pelaksanaan KTT G20.

" Saya benar-benar khawatir, kalau nanti Januari-Februari loncat, itu enggak ada yang mau datang, kepala negara G20 itu ke kita," ujar Budi, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IX, disiarkan kanal DPR.

Karena itu, Budi meminta semua pihak untuk mempertahankan kondisi saat ini yang cukup longgar hingga awal tahun. Kemenkes juga telah menerapkan kebijakan konservatif mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 usai libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.

" Kondisi sekarang kan sebenarnya sudah cukup longgar, kita tahan dulu," kata Budi.

2 dari 4 halaman

Jika Januari-Februari Lewat

Dia juga meminta agar anggota Dewan turut membantu menahan laju penularan Covid-19. Salah satunya dengan cara mengingatkan masyarakat untuk tidak bereuforia lebih dulu karena pelonggaran.

" Nanti kalau kita bisa lewati Januari-Februari dengan baik, itu Insya Allah ke depannya kita bisa lebih baik karena kita sudah lebih ketemu cara menangani pandemi ini," kata dia.

Budi menerangkan, kenaikan kasus kerap terjadi ketika tren kasus baru sudah cukup melandai yang berdampak pada diberlakukannya pelonggaran. Sayangnya, masyarakat kerap melakukan euforia berlebihan yang akhirnya memicu kemunculan kasus baru yang semakin banyak.

" Semua kenaikan kasus itu selalu terjadi sesudah penurunan, karena kita euforia, kita lupa, kita pengen buru-buru terbuka, sehingga naik lagi dan itu terjadi terus sudah dua kali," kata dia.

3 dari 4 halaman

Menkes: PCR Rp300 Ribu Paling Murah di Dunia

Dream - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan tarif PCR diturunkan sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo sebesar Rp300 ribu. Menurut dia, tarif tersebut adalah harga termurah di seluruh dunia.

" Harga PCR yang ditentukan Presiden kemarin itu sudah 10 persen paling bawah, paling murah dibandingkan tes PCR di seluruh dunia," ujar Budi, disiarkan kanal Perekonomian.

Menurut Budi, tarif PCR awal sebesar Rp900 ribu sebenarnya 25 persen lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Apalagi jika diturunkan menjadi Rp300 ribu.

" Kalau misalnya diturunkan ke Rp300 ribu, itu mungkin masuk yang paling murah dibandingkan dengan harga PCR airport di dunia," kata dia.

 

4 dari 4 halaman

India Masih Termurah

Budi mengakui tarif PCR termurah di dunia masih dipegang di India. Di India, tarif PCR dipatok Rp160 ribu.

" Tapi memang India membuatnya di dalam negeri kemudian ekonominya berkembang karena juga rakyatnya banyak, itu bisa tercapai," kata dia.

Lebih lanjut, Budi menyatakan penurunan tarif PCR tidak mendapat subsidi dari Pemerintah. Sebab, tarif normalnya memang sudah turun.

" Pemerintah tidak merencanakan ada subsidi karena memang kalau kita lihat harganya, apalagi sudah diturunkan, itu sudah cukup murah," kata dia.

Beri Komentar