Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Shutterstock.com)
Dream - Kementerian Kesehatan menetapkan rapid test antigen sebagai metode pelacakan kasus Covid-19. Metode ini diharapkan dapat mempercepat pelacakan kasus Covid-19.
Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, rapid test antigen akan disediakan di setiap puskesmas. Metode ini diyakini dapat mempercepat pelacakan Covid-19 di tingkat kelurahan dan desa.
Tetapi, Nadia menekankan rapid test antigen oleh puskesmas digunakan untuk keperluan epidemiologi atau untuk diagnosis. Rapid test antigen tidak digunakan untuk syarat perjalanan.
" Seperti arahan Menteri Kesehatan, rapid test antigen ini digunakan untuk kepentingan epidemiologi, jadi untuk mendiagnosis. Jangan sampai kemudian antigen digunakan screening ataupun untuk seseorang melakukan perjalanan," ujar Nadia dalam konferensi pers disiarkan channel YouTube Kementerian Kesehatan RI.
Nadia menyatakan, pemeriksaan antigen harus dipastikan untuk kepentingan epidemiologis. Sedangkan dalam pencatatan pelaporannya, hasil pemeriksaan rapid test antigen akan sama dengan RT-PCR.
" Akan dilaporkan sebagai kasus konfirmasi melalui sistem pencatatan dan pelaporan kita. Hanya kita nanti akan memisahkan mana kasus konfirmasi positif yang dilakukan dengan pemeriksaan RT-PCR dan mana yang kasus positif yang kita dapatkan dari pemeriksaan antigen," ucap Nadia.
Nadia menambahkan, pelacakan kontak erat dari kasus terkonfirmasi akan ditingkatkan. Sebelumnya, pelacakan dilaukan pada 5 sampai 10 kontak erat maka akan dinaikkan menjadi 20 sampai 30 kontak erat.
" Sehingga diharapkan mengakselerasi pelacakan kasus, kita bisa dini mendapatkan kasus positif tanpa gejala dan segera kita lakukan penanganan dengan isolasi mandiri," ucap Nadia.
Rapid test antigen dinilai memiliki hasil sama dengan RT-PCR namun dalam waktu relatif singkat. Hanya saja, kata Nadia, pemeriksaan rapid test antigen membutuhkan pengulangan satu kali jika hasilnya negatif sementara RT-PCR cukup satu kali.
Bagi daerah yang kesulitan mengakses laboratorium RT-PCR, pemeriksaan rapid test antigen dengan hasil negatif harus diulang dalam waktu kurang dari 48 jam.
" Tetapi pada daerah-daerah yang memiliki akses terhadap pemeriksaan PCR maka dilakukan pengambilan spesimen yang kemudian diperiksa dengan pemeriksaan lab RT-PCR," ucap Nadia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya