Sejarah Perayaan Tahun Baru, Awalnya Bukan 1 Januari!

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 2 Januari 2019 19:00
Sejarah Perayaan Tahun Baru, Awalnya Bukan 1 Januari!
Ada peristiwa sainstis di balik peristiwa pergantian tahun.

Dream - Tahun 2018 baru saja dilewati. Orang-orang merayakan pergantian tahun dengan kembang api, doa bersama, atau bahkan berkumpul dengan keluarga.

Hampir di seluruh dunia, pergantian tahun dirayakan tepat menjelang akhir 31 Desember. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengapa banyak merayakan pergantian tahun pada 1 Januari dini hari?

Livescience mengatakan, tradisi merayakan pergantian tahun pada 1 Januari dini hari berakar dari tradisi kuno. Beberapa tradisi bangsa besar seperti Mesopotamia kuno merayakan festival Akitu selama 12 hari pada vernal equinox atau waktu ketika matahari melintasi garis khatulistiwa bumi.

Sementara orang-orang Yunani berpesta saat titik balik matahari pada musim dingin, pada 20 Desember.

Sejarawan Romawi, Censorius, melaporkan orang-orang Mesir merayakan akhir matahari pada 20 Juli.

Romawi di bawah Julius Cesar juga memiliki kalender tersendiri pada 46 Sebelum Masehi. Dibantu antronom Aleksandria, Sosigenes, dia menghilangkan siklus bulan dan mengikuti siklus matahari sebagai pusat, sebagaimana dilakukan bangsa Mesir.

Sebelum dia berkuasa, bangsa-bangsa Romawi menjadikan Maret sebagai awal kalender.

Perayaan tahun baru sempat bergonta-ganti. Sempat tahun baru dirayakan bertepatan dengan Hari Natal.

Perubahan pergantian tahun berubah pada era Paus Gregorius XIII yang menerapkan kalender Gregorian pada 1582. Kalender ini sebagai upaya untuk membuat perubahan tanggal terjadi secara serempak.

Meskipun pemilihan tahun baru pada bersumber pada perspektif planet, namun pergantian tahun menyimpan fenomena saintis. Pada awal Januari, Bumi berada paling dekat dengan matahari. Atau dikenal sebagai perihelion.

Saat ini, 1 Januari telah ditetapkan sebagai awal tahun pada kalender universal. Tapi, di beberapa negara, misalnya, Ethiopia, Iran, Nepal, dan Arab Saudi, digunakan konvensi kalender tersendiri.

Perubahan kalender juga mengikuti budaya dan kepercayaan tertentu. Umat Islam misalnya, memiliki kalender Islam yang berbasis perputaran bulan, bangsa Yahudi yang memiliki Festival Tahun Baru bernama Rosh Hashanah yang biasanya dirayakan antara September dan Oktober, atau masyarakat Jawa yang memiliki bulan awal Sura sebagai penanda pergantian tahunnya.

Beri Komentar
Yenny Wahid Rilis Produk Kecantikan Halal