Ketabahan Relawan Perawat `Anak-anak HIV`

Reporter : Eko Huda S
Minggu, 19 Oktober 2014 14:02
Ketabahan Relawan Perawat `Anak-anak HIV`
"Dalam setiap kematian, saya hanya berdoa dan berharap bahwa ini adalah anak terakhir yang meninggal," ujar Tabassum.

Dream - Ini kisah Tabassum. Perempuan muslim India yang bertahun-tahun mengabdikan dirinya untuk membantu anak-anak pengidap HIV. Dia menempuh segala risiko untuk menyelamatkan anak-anak dari kalangan Hindu. Segala tentangan dari masyarakat dia terabas untuk niat mulia itu.

" Saya dengan bangga mengatakan bahwa di Snehadeep, saya merawat 14 anak perempuan yang berusia 7 hingga 12 tahun dan mereka semua adalah orang Hindu,” kata Tabassum dikutip Dream dari On Islam, Minggu 19 Oktober 2014.

Tabassum tak pernah memandang dari kalangan mana orang yang dia tolong. Di pusat perawatan medis Snehadeep itu dia mengulurkan tangannya dengan tulus. “ Tidak ada agama yang tahu anak-anak ini jatuh sakit.”

Tabassum telah dua tahun menjalankan pengobatan kepada anak-anak yang positif mengidap HIV. Tak mudah bagi dia untuk menjalankan pelayanannya di Negara Bagian Karnataka ini. Sebab, tentangan juga datang dari keluarganya sendiri.

Meski mendapat tentangan, Tabassum tetap meneruskan bantuannya. Dia terus mendedikasikan diri kepada anak-anak malang tersebut. Apa yang dia lakukan ini karena terinspirasi oleh kerabatnya yang meningal setelah dua hari terdeteksi terjangkit HIV.

“ Selama 14 tahun terakhir, saya telah bekerja untuk anak-anak pengidap HIV positif dan perempuan hamil. Pandanganku berubah setelah kejadian itu,” tutur dia.

Bagi seorang muslimah di India, tak mudah bekerja sebagai relawan lembaga swadaya masyarakat di negara yang mayoritas menganut agama Hindu.

“ Ini tak pernah mudah bagi perempuan untuk maju dan bekerja, khususnya dengan LSM di mana Anda berurusan dengan beragam orang. Saya kadang-kadang berjuang untuk tentangan yang datang dari keluarga dan terus maju,” kata dia.

Ketabahan Relawan Perawat Anak-anak HIV© On Islam
Apa yang dibayangkan oleh Tabassum adalah masa depan anak-anak pengidap HIV ini. Mereka ditinggalkan oleh orangtua, kerabat, dan teman-temannya. Secara psikologis, anak-anak itu terluka. Itulah yang dipahami oleh Tabassum.

“ Sering kali, keluarga mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari anak-anak. Lebih dari kesehatan fisik mereka, anak-anak ini menderita sakit psikologis,” ujar Tabassum.

Tabassum juga mengajarkan anak-anak itu untuk membaca surat kabar setiap hari. Mencari tahu setiap obat baru yang dapat menyembuhkan mereka. Menurut dia, anak-anak itu tahu umurnya tak akan panjang lagi. Inilah bagian yang sulit bagi Tabassum untuk membuat anak-anak itu tetap optimis.

“ Ketika anak-anak ini berada pada tahap terakhir mereka dan dipindahkan ke rumah sakit, tak seorang pun dari keluarga mereka menjenguk anak-anak ini. Seringkali, mereka dibiarkan mati sendiri,” ujar dia.

Saat itulah hati Tabassum merasa tercacah. Pilu meratapi nasib anak-anak malang ini. Namun, dia menguatkan hati untuk terus memberikan perhatian kepada mereka. Tanpa rasa lelah. Dia berbuat apapun yang bisa dilakukan.

“ Dalam setiap kematian, saya hanya berdoa dan berharap bahwa ini adalah anak terakhir yang meninggal,” ujar dia.

Untuk menjalankan pelayanan ini, Tabassum harus merogoh koceknya. Karena biaya terus membengkak, mau tak mau dia harus meminta sumbangan kepada masyarakat.

“ Saya biasanya meminta sumbangan dari rumah ke rumah pada hari Minggu, meminta bantuan orang,” kata Tabassum.

Beri Komentar