Kilang Minyak Aramco Diserang, AS Tuduh Iran

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 16 September 2019 12:02
Kilang Minyak Aramco Diserang, AS Tuduh Iran
Pompeo disebut sebagai pembohong.

Dream - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Richard Pompeo meluapkan amarah ke Iran. Amarah itu meluap karena Iran diduga menjadi otak di balik pembakaran kilang minyak milik perusahaan Arab Saudi, Aramco.

Mike menolak klaim aksi itu dilakukan pemberontak Houthi, yang didukung Iran. Seperti diketahui, Arab Saudi memimpin koalisi militer yang didukung Barat menentang gerakan pemberontak Houthi di Yaman.

" Tehran (ibu kota Iran) dibalik sekitar 100 serangan di Saudi Arabia, ketika Rouhani dan Zarif memilih untuk berdiplomasi," kata Pompeo dalam cuitannya, diakses Senin, 16 September 2019.

Dia menggambarkan serangan itu sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia.

" Kami menyerukan semua negara untuk secara terbuka dan tegas mengutuk serangan Iran," kata Pompeo.

Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Pompeo sebagai penipu.

Sementara itu, Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan pembakaran kilang minyak itu telah mengurangi produksi minyak mentah sebesar 5,7 juta barel per hari atau sekitar setengah dari produksi Arab Saudi.

1 dari 5 halaman

Buntut Serangan Aramco

Kondisi ini punya dampak signifikan terhadap harga minyak dunia.

Dilaporkan BBC, serangan yang diduga oleh drone alias pesawat tanpa awak di kilang Minyak Saudi di Abqaiq terjadi pada Sabtu. Lokasi ini merupakan pengolahan minyak terbesar Aramco.

Serangan-serangan itu tiba dengan latar belakang ketegangan yang terus-menerus antara AS dan Iran, menyusul sikap Presiden AS Donald Trump yang mundur dari perjanjian kegiatan nuklir Iran.

Melihat kasus ini, AS akan bekerja dengan sekutunya untuk memastikan pasar energi tetap tersuplai dengan baik.

Gedung Putih mengatakan Trump telah menawarkan dukungan AS untuk membantu Arab Saudi mempertahankan diri dari serangan Iran.

2 dari 5 halaman

Tumbangkan Apple, Saudi Aramco Jadi Perusahaan Berprofit Terbesar Dunia

Dream - Rekor perusahaan dengan profit terbesar di dunia kini tidak lagi dipegang oleh Apple. Rekor tersebut kini dipegang oleh Saudi Aramco.

Dikutip dari New York Times, Selasa 2 April 2019, perusahaan minyak terbesar di dunia milik Kerajaan Arab Saudi mencatatkan pendapatan sepanjang 2018 sebesar US$111,1 miliar, setara Rp1.582,14 triliun. Angkanya dua kali dari pendapatan Apple Inc. yang mencapai US$59,5 miliar, setara Rp852,3 triliun.

Tak hanya itu, jumlah pendapatan tersebut melebihi catatan pencapaian profit dua raksasa minyak dunia, Royal Dutch Shell dan Exxon Mobile. Sepanjang 2018, dua perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan masing-masing US$23,9 miliar, setara Rp340,35 triliun dan US$20,8 miliar, setara Rp296,2 triliun.

Selain membukukan pendapatan terbesar di dunia, Aramco siap merilis surat utang senilai US$15 miliar, setara Rp213,61 triliun. Instrumen ini disiapkan untuk menekan ketergantungan pendapatan Pemerintah Saudi dari sektor industri minyak dan gas.

 

3 dari 5 halaman

Investasi Baru

Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohamed bin Salman, ingin mendiversifikasi ekonomi negara agar tidak melulu mengandalkan sektor energi. Beberapa langkah yang ditempuh seperti menempatkan kekayaan negara pada investasi di perusahaan teknologi seperti Tesla dan Uber.

Sebelumnya, Saudi Aramco sempat berencana melakukan penjualan saham untuk membiayai diversifikasi tersebut. Tetapi, rencana penjualan saham itu akhirnya ditunda pada tahun lalu.

Penjualan saham di Saudi Basic Industries, perusahaan petrokimia, jadi alternatif untuk mengumpulkan dana.

Sementara itu, Mohamed mencari sumber investasi baru dan mencoba pulih dari kejatuhan politik akibat kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khasoggi tahun lalu. Terdapat rencana Aramco tengah didorong menjadi produsen energi yang lebih luas.

Direktur Utama Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan sedang mengejar akuisisi internasional di bidang-bidang seperti gas alam cair yang bisa diangkut menggunakan kapal.

4 dari 5 halaman

Bukti Besarnya Aramco, Jual 1% Saja Sudah Kalahkan Facebook

Dream – Kalangan investor dunia tengah menantikan salah satu sejarah pencatatan saham paling ditunggu. Perusahaan yang akan go public itu adalah perusahaan pelat merah sektor migas Arab Saudi, Aramco.

Chief Executive Officer (CEO) Aramco, Amin Nasser memastikan proses go publik perusahaan tetap berjalan. Pelaksanaannya diperkirakan akan berlangsung tahun depan.

Listing akan dilakukan pada paruh kedua tahun 2018,” kata Amin, dikutip dari Arabian Business, Selasa 7 Maret 2017.

Berapa harga saham yang ditawarkan oleh perusahaan ini? Tidak ada penjelasan dari Nasser. Dikatakan bahwa perusahaan tersebut sedang menghitung harga sahamnya.

“ Kami sedang mengevaluasi harga. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Tapi, semuanya berjalan sesuai dengan rencana,” kata dia.

 

5 dari 5 halaman

Pada 2020 Tanpa Minyak

Sekadar informasi, pada April 2016, pemerintah Arab Saudi memutuskan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Beberapa langkah “ move on” dipersiapkan. Salah satunya dengan melepas 5 persen saham Aramco.

Putera Mahkota Kerajaan, Mohammed bin Salman, mengatakan 1 persen saham Aramco bisa menghasilkan dana yang cukup besar dan melebihi penjualan saham Facebook dan Alibaba.

“ Kita masih bisa hidup tanpa minyak pada 2020,” kata Pangeran Mohammed.

Beberapa laman media menyebut nilai valuasi IPO Aramco diprediksi sebesar US$400 miliar (Rp5.335 triliun)-US$2 triliun (Rp26.677 triliun).

Bahkan, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, berkeliling untuk mempromosikan investasi di Arab Saudi, dalam lawatan ke Asia. Salah satu yang dipromosikan adalah saham Aramco sebesar 5 persen.

Beri Komentar