Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Kondisi Anak-anak Di Tenda Pengunngsian Di Palu (Foto : Ilman/Dream)
Dream - Sudah satu bulan gempa dan tsunami di Palu terjadi. Meski demikian, perisitiwa mengerikan itu masih terekam jelas di pikiran anak-anak yang berada di pengungsian sekitar Masjid Agung, Palu.
Musibah yang terjadi menjelang waktu Maghrib itu, terjadi saat mayoritas masyarakatnya tengah bersiap untuk melaksanakan sholat. Termasuk anak-anak yang ini tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Salah satunya Dayat, secara jelas ia menceritakan detik-detik gempa hingga akhirnya tsunami menyapu rumahnya yang berada di sekitar anjungan pantai talise, Palu.

Foto : Ilman/Dream
" Waktu itu saya sedang ganti pakaian, mau pergi sholat ke masjid," kata Dayat saat berbincang dengan Dream, Sabtu 27 Oktober 2018.
Belum sempat melaksanakan Sholat Maghrib, Dayat merasakan goncangan gempa. Awalnya, ia tak menghiraukan karena sudah biasa.
Karena ada gempa itu, ia memutuskan untuk Sholat Maghrib di rumah saja. Dengan raut wajah yakin, Dayat melafalkan niat sholat. Di tengah melaksanakan Rukun Islam ke dua itu, gempa kembali terasa dengan kekuatan lebih besar yakni 7,4 Skala Richter.

Foto : Ilman/Dream
Dalam hatinya bingung, harus melanjutkan sholat atau pergi menyelamatkan diri. Kebingungan itu juga semakin bertambah ketika sang ibu memanggil-manggil namanya.
Akhirnya, bocah berusia 12 tahun ini memutuskan untuk membatalkan sholatnya dan lari keluar rumah bersama ibu, kakak serta adiknya.
" Saya lari sama ibu dipegang. Bapak sedang kerja," ucap dia.
Setelah satu bulan dari musibah yang terjadi, para korban masih menempati tenda-tenda pengungsian karena dirasa itu menjadi tempat paling aman.
Meski demikian, anak-anak rupanya tak begitu mempersoalkan mau di mana mereka tinggal. Asalkan ada teman dan juga hadiah, begitu menurut pengakuan gadis mungil bernama Rani.
" Saya senang tinggal di pengungsian karena ada yang suka bagi-bagi uang," kata Rani.
Menurut bocah bermata cokelat itu, setiap hari Jumat biasanya ada relawan yang datang bagi-bagi uang untuk anak-anak. Nilainya beragam, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

" Saya kalau dapat uang Rp 50 ribu kasih ke mama, terus mama kasih uang belanja (uang jajan) ke saya Rp10 ribu atau Rp20 ribu," ujar dia.
Rumah Rani tidak hancur seperti milik Dayat. Rumah itu hanya rusak di bagian sampingnya saja. Meski demikian, keluarga khawatir akan runtuh jika ditempati.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam