Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Ribuan orang meriung di tanah lapang. Tua dan muda. Mereka berjejal. Mengular di tengah kepulan debu. Barisan itu tak surut. Meski terik matahari membakar dari angkasa. Orang-orang bertubuh garing itu bertahan untuk satu alasan. Jatah makanan.
Begitulah pemandangan di kamp pengungsian Kota Mogadishu. Empat tahun lalu, pinggiran Ibukota Somalia itu dipenuhi warga kelaparan. Kekeringan selama berbulan-bulan di negeri itu benar-benar menyeret ribuan orang ke ujung kehidupan.
Ke situlah Pangeran Alwaleed bin Talal berkunjung. Sabtu 27 Agustus 2011. Bersama sang istri, Ameera Altaweel, Pangeran Kerajaan Arab Saudi itu keluar masuk sejumlah tenda pengungsi. Menyapa tubuh-tubuh kelaparan itu. Membangkitkan semangat wajah-wajah penuh gurat putus asa itu.
Beberapa saat di situ, sang pangeran merekam kesulitan itu dalam satu kalimat, “ Kondisinya sangat buruk.” Ameera dan Alwaleed merasa prihatin. Rona kesedihan meruap jelas dari raut pasangan, yang bercerai dua tahun setelah kunjungan, ini.
Kelaparan yang mengurung warga Somalia saat itu memang sungguh mengerikan. Hampir sama ngerinya dengan serangan kelompok Alshabab, yang selalu meninggalkan jasad tak bernyawa. Sepanjang tahun 2011 itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat 6 juta orang dirubung gizi buruk. Kelaparan itu sudah merengut 29 ribu nyawa balita.
Demi melihat keadaan yang mengharukan itu, Pangeran Alwaleed merogoh kocek. “ Kami berkomitmen memberikan batuan sekitar US$ 4 juta (sekitar Rp 52 miliar),” ujar Alwaleed. Bantuan itu disalurkan melalui Alwaleed bin Talal Foundation. Yayasan yang didirikan Pangeran Alwaleed. Kebaikan budi sang pangeran memompa semangat hidup warga di situ.
***
Alwaleed memang dikenal sangat dermawan. Bekerja keras meroketkan imperium bisnisnya, dia juga rajin menyumbang. Lewat Alwaleed bin Talal Foundation itulah sang pangeran menaburkan rezekinya untuk kalangan tak mampu. Pada setidaknya 84 negara.
Tangan pangeran kelahiran Riyadh 7 Maret 1955 ini seolah tak pernah henti mengulur. Kebaikannya selalu hadir pada setiap bencana besar dunia.
Bantuan Alwaleed pun turut dirasakan oleh warga Indonesia. Dia pernah menyumbang lebih dari US$ 19 juta atau sekitar Rp 246 miliar, dalam bencana gempa bumi Sumatera Barat dan tsunami Aceh.
Bantuan Alwaleed juga mengalir pada bidang pendidikan Islam. Memberi kontribusi bagi perlindungan warisan dan seni Islam di museum-museum dunia. Dia juga sangat peduli pada upaya dialog antar-agama. Mendirikan pusat-pusat studi serta forum dialog antar-agama di dunia.
Di negerinya sendiri, kedermawanan sang pangeran sudahlah kondang. Lihatlah aksi Alwaleed tahun lalu. Dia membangun 617 unit rumah untuk kalangan fakir miskin Saudi. Proyek pembangunan rumah massal ini, dilakukan sebagai respons titah Raja Saudi kala itu, Abdullah bin Abdulaziz.
Dan kejutan itu datang saat Ramadan setahun lalu. Sang pangeran melunasi utang seribuan tahanan Arab Saudi dan Mesir. Pelunasan itu membawa para narapidana itu ke gerbang kebebasan. Mereka keluar dari penjara.
Meski jutaan dolar pundi Alwaleed dikuras demi amal, sumur rejekinya tak pernah susut. Majalah Forbes pada 26 April 2015 mencatat, total kekayaan bersih Alwaleed mencapai US$ 23,1 miliar. Jika dirupiahkan jumlah itu mengangkasa di bilangan Rp 298,5 triliun. Angka itu menempatkan Alwaleed sebagai orang paling tajir di Saudi. Atau menempati urutan ke-34 sebagai manusia terkaya di sekujur Bumi.
Meski dia seorang pangeran, kekayaan Alwaleed tak seluruhnya dari harta warisan. Sebagai pebisnis andal, dia memiliki berbagai usaha yang terus mengalirkan uang ke pundi-pundinya. Salah satu perusahaan Alwaleed yang sangat sohor adalah Kingdom Holding Company (KHC). Perusahaan inilah yang membenam fulus ke sejumlah usaha raksasa dunia. Antara lain Four Seasons Hotels & Resorts, Movenpick Hotel & Resorts, Fairmont Raffles Holding, serta saham di Citigroup dan News Corp.
Pada kuartal ke dua tahun lalu, perusahaan ini tercatat menyumbang pemasukan Rp 650 miliar untuk Alwaleed. Nilai itu naik jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp 557 miliar.
***
Alwaleed hanyalah satu di antara banyak miliader berdarah Arab yang dermawan. Di Uni Emirat Arab ada Abdullah bin Ahmad Al Ghurair. Pria dengan kekayaan mencapai US$ 6,4 miliar atau sekitar Rp 80,2 triliun ini juga dikenal sangat bermurah hati.
Orang terkaya ke-220 dunia ini aktif memberikan bantuan kepada para kaum dhuafa kepada negara-negara berkembang. Semua bantuan itu disalurkan lewat melalui ‘Dubai Cares’. Melalui lembaga ini, Abdullah mendirikan sekolah di beberapa negara berkembang. Membuka kesempatan bagi kaum dhuafa menikmati pendidikan.
Pemimpin Grup Al Ghurair itu juga sangat peduli terhadap gizi masyarakat. Terutama di negara berkembang. Abdullah sangat prihatin dengan kondisi gizi masyarakat Sri Lanka. Keprihatinan itulah yang mendorong Abdullah mengulurkan bantuan berupa makanan bergizi. Terutama untuk anak-anak usia dini dan usia sekolah.
Abdullah juga melakukan kampanye hidup sehat. Dialah yang menginisiasi gerakan ‘Fruit a Day’. Sebuah gerakan yang membangunkan kesadaran warga negara berkembang akan pentingnya peran buah untuk kelancaran metabolisme tubuh.
Kisah kedermawanan miliader Arab juga menggaung dari Amerika Latin. Seorang miliader keturunan Arab, Joseph Safra, sohor di kalangan kaum miskin lantaran kebaikan hatinya. Di negeri “ ibukota sepak bola dunia itu pria asal Suriah ini berkibar dengan bendera Safra Group.
Dia memulai bisnisnya dari 60 tahun silam. Dari umur yang sangat belia dalam dunia bisnis, 16 tahun. Joseph mendirikan Banco Safra pada tahun 1955. Kini perusahaan itu menjadi bank swasta terbesar ke-6 di Brasil. Bank ini memberikan pelayanan untuk wilayah Eropa, Afrika Utara, dan Selatan. Berdasarkan data Forbes bulan April 2015, total kekayaan Joseph mencapai lebih US$ 16,8 miliar. Jumlah itu menempatkan Joseph pada peringkat ke-56 sebagai orang terkaya di dunia.
Seperti halnya Alwaleed dan Abdullah Al Ghurair, lelaki 76 tahun ini juga selalu mengalirkan bantuan bagi yang tak mampu. Joseph secara rutin memberikan bantuan ke sejumlah rumah sakit, termasuk rumah sakit muslim. Dia pun membuat lembaga nirlaba yang mengurus donasi itu.
Alwaleed, Abdullah Al Ghurair, dan Joseph Safra, boleh jadi hidup dengan segenap semerbak kemewahan. Tapi mereka tak mabuk kepayang dengan kekayaan itu. Mereka berbagi. Menjadi harapan, bagi mereka yang hidupnya sudah di ujung.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya