Polisi (1): Kisah Para Polisi Jujur

Reporter : Syahid Latif
Senin, 19 Januari 2015 19:30
Polisi (1): Kisah Para Polisi Jujur
Dari polisi yang tinggal di bekas kandang sapi, menilang istri sendiri, hingga Kapolri yang tak punya rumah.

Dream - Azan membelah kesunyian subuh itu. Syahdu hingga ke relung jiwa. Membangunkan Muhammad Taufiq Hidayat dari dipan itu. Dia lalu bergegas mengambil air wudhu. Lalu menunaikan kewajiban. Sesudah itu menyelinap ke luar rumah. Bergegas tanpa berisik. Agar tak ada orang terganggu.

Taufiq harus bergerak cepat. Pukul enam pagi  harus tiba di kantor. Dari jalan di muka rumah, dia mulai berlari. Perut keroncongan, juga angin dini hari yang menggilukan tulang tak dihirau. Taufik memang tak punya kendaraan. Angkutan umum pada dini hari itu juga belum bergerak. Berlari adalah satu-satunya pilihan.  

Baru seperempat perjalanan, keringat mengucur deras. Pada tubuh terutama dahi. Napas terengah-engah. Dia harus menurunkan kecepatan. Berlari pelan demi menghemat helaan napas. Meski dia tahu, waktu tak bisa menunggu. Satu jam lebih berlari, Taufiq sudah meninggalkan 7 kilometer. Jarak yang sungguh sangat meletihkan.

Meski sudah sekuat tenaga berusaha, hari itu Taufiq kurang beruntung. Jam di kantor sudah pukul 6 lewat. Rekannya sudah pungkas menggelar apel pagi. " Siap salah komandan. Saya tidak punya kendaraan, jadi harus lari dari rumah saya di Jongke ke sini," jelas Taufiq soal keterlambatan itu kepada atasannya sembari menahan letih.

Muhammad Taufiq Hiayat memang seorang anggota polisi,  yang nasibnya kurang beruntung. Selain tak punya kendaraan, uang di saku juga pas-pasan. Itu sebabnya dia memilih berkaki ke Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu. Agar lekas sampai dia terpaksa berlari. Lantaran terlambat, dia haruslah menerima hukuman.   

Komisaris Besar (Kombes) Yulza Sulaiman, Direktur Sabhara Polda DIY memang berhak marah. Meski begitu, rasa penasaran sungguh menggangu. Benarkan anak buahnya begitu miskin sampai harus berlari 7 KM ke kantor. Jika itu benar terjadi, nasib Taufiq memang memelas.

Naluri polisi dengan tiga melati di pundaknya ini menyala. Bersama anggota polisi lain, Yulza mengintai Taufiq.  Dan betapa kaget Yulza melihat kenyataan ini dengan mata kepalanya sendiri. Anak buahnya, Bripda Taufiq tidur di bekas kandang sapi. Bersama keluarganya di situ. Tempat itu sungguh tak layak dihuni. Silahkan membayangkan seberapa pahit hidup Taufiq Hidayat.

***
 
Kisah miris Bripda Taufik ini menyentuh nurani banyak orang. Cerita nyata ini ditulis banyak media. Menyebar cepat lewat media sosial dan membangunkan kesadaran orang ramai tentang nasib polisi kita. Di tengah hinggar binggar berita kurang sedap tentang seorang petinggi polisi belakangan ini, kabar tentang Taufik itu sungguh memilukan.

Dan nasib pilu itu berhulu dari cara kita menghargai mereka yang bergelut di profesi ini. Jangankan kaya, menjadi polisi seperti mengubur mimpi hidup berkecukupan. Lihat saja besaran gaji polisi di bawah ini.

Seorang anggota polisi dengan pangkat terendah cuma mengantongi uang Rp 1.476.600 per bulan. Jumlah ini memang masih lebih baik. Tahun lalu gaji polisi berpangkat Bhayangkara Dua ini cuma Rp 1.393.000 per bulan.

Dan bukan cuma polisi berpangkat rendah yang bergaji kecil. Seorang polisi dengan pangkat tertinggi, uang yang dibawa ke rumah juga tak banyak. Dengan bintang empat di pundak, polisi berpangkat jenderal menerima gaji terendah Rp 4.438.200 atau tertinggi Rp 5.025.000. Tak sebanding dengan kilau bintang-bintang di baju seragam itu.

Dan janganlah coba membandingkan penghasilan para penegak hukum Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Dekan Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Suparmin, menyimpan angka-angka soal gaji ini.

Bacalah uraian berikut ini. Polisi dengan pangkat terendah di Thailand bisa membawa pulang Rp 5 juta per bulan. Sama nilainya dengan gaji polisi bintang empat di Tanah Air. Singapura punya cerita lain lagi. Gaji polisi di negara ini paling rendah sebesar Rp 16 juta per bulan.

Bahkan dengan Malaysia, kehidupan ekonomi polisi Indonesia bagaikan bumi dan langit. Negeri Jiran ini mengganjar gaji terendah polisi sebesar Rp 6 juta per bulan, tiga kali lipat dari gaji polisi kita pada level yang sama. Seorang polisi bintang 4 diganjar gaji Rp72 juta sebulan.

***

Uang Tak Buat Gelap Mata ...

1 dari 1 halaman

Uang Tak Bisa Beli Polisi Jujur

Tapi gaji yang rendah itu, tidak membuat sejumlah polisi kita gelap mata. Selain Taufik Hidayat, banyak contoh lain tentang polisi yang mengabdi tanpa memburu uang. Yang ramai ditulis memang cuma satu dua kisah.

Dan kisah yang melegenda adalah tentang Jenderal Hoegeng. Kepala kepolisian yang menilai uang bukan segala-galanya. Bukan sesuatu yang dimuliakan. Yang dibanggakan adalah seragam cokelat. Dan tak ada uang yang sanggup membelinya.

Hoegeng Imam Santoso, begitu nama lengkapnya, adalah legenda abadi bagi kepolisian Indonesia. Cerita kebaikan dan kejujuran pria kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 ini terus hidup. Meski pernah menjabat Kapolri 1968 hingga 1997 dan menjadi menteri, Hoegeng tetap tak punya rumah, mobil, dan barang mewah, saat tak lagi menjadi pejabat. 

Hoegeng baru memiliki rumah setelah pensiun. Sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Itu pun bukan didapat dari membeli. Melainkan hibah institusi Polri. Keluarga Hoegeng mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor dikembalikan ke kepolisian.

Setelah pensiun, dia menghidupi keluarganya dari uang pensiun sebesar Rp 10 ribu. Selain itu, dia menjual lukisan dan tampil dalam acara musik di TVRI dengan kelompok Hawaiian Seniors –yang akhirnya ditutup oleh pemerintah Orde Baru karena dinilai tak sesuai dengan budaya bangsa.

Selain tak dikuasai uang, Hoegeng adalah juga polisi yang tak terbuai jabatan. Seorang Soeharto, presiden dengan kuasa tak terbatas selama 33 tahun, berani ditentangnya. 

Lantaran berani memeriksa kasus pemerkosaan seorang pembantu yang diduga melibatkan seorang pejabat tinggi, Hoegeng harus lengser dari jabatan. Dipensiunkan sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971.

“ Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan kepada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan  garam,” ujar Istri Hoegeng, Merry Roeslani, dalam buku, Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan. Kata-kata itulah, lanjut Merry, “ Yang menguatkan saya.”

Buku tentang Hoegeng itu ditulis wartawan Kompas, Suhartono. Diluncurkan di Toko Buku Gramedia di Jakarta Selatan, 17 November 2013. Saat itu Merry Roeslani hadir di sana. Banyak media massa yang berburu dan menulis tentang kisah Hoegeng ini. 

Meski sudah wafat satu dasawarsa silam, kisah Jenderal Hoegeng menginspirasi banyak orang. Termasuk sejumlah orang di korps baju cokelat. Bacalah kisah Aiptu Jailani ini. Polisi jujur. Tak ada yang mampu menyeretnya keluar dari jalur kebenaran. Bahkan isterinya sekalipun. Aiptu Jaelani mungkin cuma satu-satunya polisi lalu lintas yang berani menilang isteri sendiri. 

Tak cuma keluarga, Aiptu Jailani juga keras pada pelanggar aturan. Perwira polisi bahkan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sekalipun akan disikat. Jailani sungguh menegakkan adagium ini: hukum harus ditegakkan meski langit runtuh. Meski isteri sendiri atau atasan yang menjadi pelaku pelanggaran. 

Pada sebuah kesempatan, Jailani pernah menilang seorang perwira dari Polda Jawa Timur. Si perwira memarkir kendaraan tepat di rambu larangan parkir. Mobil itu diparkir di depan rumahnya sendiri, yang berada tepat di pinggir salah satu jalan protokol.

Keesokan harinya, sekitar pukul 6 pagi, Jailani yang bertugas dan melihat mobil itu, mendatangi rumah si perwira. Perlahan dia mengetuk pintu. Sang pemilik rumah marah besar dengan ulah Jailani dan menelepon Kapolres Gresik agar menindak tegas ulah Jailani. 

“ Saya ini dari Polda loh Dik. Saya bisa saja meminta Kapolres untuk memberi sanksi sama kamu’,” ancam perwira itu sebagai dituturkan Jailani kepada sejumlah media massa. Tapi Aiptu Jailani tidak tunduk. Ia menjelaskan bahwa mobil sang perwira melanggar.  

Akhirnya sang perwira Polda Jawa Timur itu memahami  dan mengerti tanggung jawab bintara itu  sebagai petugas lalu lintas.

Kepolisian kita selama ini memang masih jadi sorotan publik. Namun bukan berarti orang jujur sama sekali tak ada di lembaga ini. Banyak orang baik di sana. Dari lapis paling bawah kita mengenal Bripda Taufik serta Aiptu Jailani. Pada pucuknya ada kisah Jenderal Hoegeng.

Baca juga:

Jenderal Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng Aiptu Jailani, Polisi Langka Penilang Istri Sendiri Bripda Taufiq, Polisi yang Tinggal di Kandang Sapi

Beri Komentar
Cerita dan Music Bersama Ify Alyssa | Online Dream Camp 2020