Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto Ilustrasi
Dream - Umi Sultan kehilangan orangtuanya ketika dia masih kecil, sehingga ia terpaksa menikah saat masih remaja. Setelah menikah dia sering mendapat perlakuan tak pantas dari suaminya, Al-Hayat melaporkan.
Hidup di lingkungan miskin di Riyadh, Umi Sultan sudah hidup dalam kesulitan sebelum usianya menginjak 10 tahun.
Pada usia 11 tahun, dia harus menikah di mana ia melahirkan tiga putra dan seorang putri. Suami dan kedua putranya kemudian meninggal dan dia tinggal bersama dengan putrinya.
Umi Sultan menikah lagi pada usia 17 tahun dan memiliki delapan anak dengan suaminya yang kedua. Di pernikahan kedua yang berlangsung 30 tahun itu, Umi Sultan menggambarkannya sebagai " neraka" .
Meski faktanya tak memiliki orang tua atau saudara, Umi Sultan kerap menghadapi pelecehan dari suaminya yang terus-menerus menghina keluarganya. Umi Sultan sering menangis diam-diam saat malam tiba.
Dia berpikir untuk melarikan diri dari suaminya, tapi pikiran dibuangnya karena tak ada tempat lain baginya selain jalan raya.
Dia berkata: " Kami hidup di lingkungan miskin. Suami saya bekerja sebagai sopir dan dia sering tidak punya cukup uang untuk memberi kami makan. Kami sering menggantungkan pada pemberian orang."
Sekarang Umi Sultan menjadi wanita tua yang menderita banyak penyakit akibat tekanan hidup yang dihadapinya.
Dia sering kejang dan tidak dapat berjalan karena banyaknya anestesi yang diterimanya saat di rumah sakit. Dia telah bercerai dari suaminya dan tinggal bersama anak dan cucunya di kamar apartemen yang disediakan oleh dermawan setempat.
Dia bertahan hidup dengan asuransi sosial sebesar SR 800 sebulan dan sumbangan pakaian dan makanan.
Anak-anaknya tidak memiliki pekerjaan dan dilarang oleh ayah mereka untuk mengajukan asuransi sosial dan perumahan. Suami Umi Sultan beralasan hal itu akan merusak reputasinya di sukunya.
Setelah bertahun-tahun berusaha untuk menyediakan tempat bagi anak-anaknya dan memberi mereka kehidupan yang bermartabat, Umi Sultan kini meminta bantuan dari masyarakat.
Apartemen kecilnya sudah tidak bisa menampung dia dan delapan anaknya, ditambah dengan delapan cucu dari dua anak perempuan yang sudah bercerai.
(Sumber: Saudi Gazette)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya