Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Monica Nirmala, Penasihat Menkomarinvest Untuk Peningkatan Testing Dan Tracing Bersama Soeprapto Tan, Managing Director IPSOS Indonesia Jadi Pembicara Dialog Produktif "Optimisme Masyarakat Terhadap 3T" Di Jakarta Kamis, 12 November 2020
Perilaku 3T (Tracing, Testing, Treatment) menjadi upaya yang tidak kalah penting dalam upaya memutuskan mata rantai penularan COVID-19. Setelah memahami kampanye 3M, sekarang saatnya masyarakat juga memahami perilaku 3T.
“3M banyak membicarakan apa peran kita sebagai individu. Kalau 3T berbicara tentang bagaimana kita memberikan notifikasi untuk waspada, bisa jadi kamu tertular COVID-19,” jelas Monica Nirmala, Penasihat Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinvest) untuk Peningkatan Testing dan Tracing dalam Dialog Produktif secara daring yang bertema ‘Optimisme Masyarakat terhadap 3T (Tracing, Testing, Treatment)’ di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis (12/11/2020).
Dia mengakui bahwa masyarakat memang lebih memahami perilaku memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan pakai sabun (3M) dibandingkan dengan 3T. Hal ini karena kampanye 3M dilakukan lebih dulu ketika COVID-19 pertama kali diumumkan di Indonesia.
Monica memaparkan, 3T terdiri atas tiga kata yakni pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment). Pertama, pemeriksaan dini menjadi penting supaya bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, kita bisa menghindari potensi penularan ke orang lain.
Kedua, pelacakan erat akan dilakukan kepada orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien COVID-19. Setelah diidentifikasi oleh petugas kesehatan, orang yang memiliki kontak erat dengan pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut. “Seandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes balik ke nomor 1 [testing],” katanya.
Ketiga, perawatan akan dilakukan jika si kontak erat ternyata positif COVID-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, maka si kontak erat harus dilakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika si kontak erat menunjukkan gejala, maka para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya