JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Dokter Dari Kementerian Kesehatan Mengoperasi Korban Bencana Di Palu Dan Donggala (Foto: Kemenkes)
Dream - Menteri Kesehatan, Nila Moeloek memastikan kecukupan tenaga kesehatan dan logistik untuk menangani korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
“ Kapasitas nasional masih mampu menangani, sehingga kita belum membutuhkan bantuan dari asing, baik orang maupun logistik kesehatan,” kata Nila, dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis, 4 Oktober 2018.
Sementara itu, menurut Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Ahmad Yurianto, jumlah tenaga medis yang dikirimkan saat ini masih dalam jumlah kecil. Ahmad menyebut, jumlah tenaga medis yang diturunkan belum sampai 20 persen dari kapasitas nasional.
" Kita masih mengatur kedatangan tenaga kesehatan dan tim logistik ke Palu – Donggala," ujar Ahmad.
Meski begitu, Ahmad tidak dapat mengkalkulasi jumlah ideal tenaga medis untuk menanggung beban bencana itu.
“ Ukuran kita bukan seberapa banyak tenaga yang dikirim akan cukup, 1000 Nakes akan cukup atau 5 dokter sudah cukup, tidak seperti itu, tapi fokus pada bebannya,” ujar dia.
Ahmad menyontohkan, saat ini dokter spesialis bedah yang sedang bertugas kurang lebih hanya 15 orang. Merujuk pada kasus bedah, di antara jumlah pasien yang harus dioperasi baik yang darurat maupun yang dipersiapkan, jumlah itu dinilai sudah cukup. Artinya tidak ada lagi beban yang tertunda layanannya dengan alasan tenaga kesehatan yang kurang.
“ Kita masih punya kekuatan besar, kalau tidak bisa ditangani di sini, kita masih punya rumah sakit tipe A di Makassar, kirim ke RS Wahidin, ahlinya juga masih banyak di sana. Kalau kurang ya kita kirim lagi, masih sangat sangat cukup,” ujar Yuri.
Selain tenaga kesehatan yang dianggap cukup, stok obat dalam kondisi aman. Sistem stok obat menggunakan buffer/safety stock yang dimiliki instalasi farmasi sehingga pencatatan dan pengeluaran yang selalu terpelihara. Selain itu stok obat juga terhubung dengan sistem logistik obat nasional yang dapat memantau bagian mana obat yang kurang.
“ Pedoman kita, obat harus aman untuk seminggu ke depan, nanti kalau sudah kurang tiga hari, baru kita dorong lagi,” ucap dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
