Merinding! Isi Surat Adik yang Meninggal 3 Tahun Silam

Reporter : Puri Yuanita
Kamis, 25 Agustus 2016 09:29
Merinding! Isi Surat Adik yang Meninggal 3 Tahun Silam
Kisah ini diunggah sendiri oleh abang kandungnya di akun Facebook.

Dream - Tak ada satupun manusia yang bisa mengetahui kapan dirinya mati. Namun satu yang pasti, setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Sudah seharusnya kita sebagai hamba Allah harus mempersiapkan diri sebelum ajal menjemput kita kapan saja.

Seperti yang dialami oleh seorang wanita, yang kisahnya diunggah oleh abang kandungnya sendiri di Facebook. Dia menulis 'tidak penting dengan siapa aku sekarang, pada akhirnya engkau akan sendirian'.

" Tiga tahun yang lalu adik tercinta meninggal setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu. Beberapa hari lalu, saya membongkar lemarinya dan menemukan tas yang ternyata berisi sepujuk surat yang berjudul 'Pinjami aku satu hari'," si abang mulai menceritakan kisahnya.

Lebih mengejutkan lagi, tanggal surat tersebut sama dengan hari meninggalnya adiknya. Dalam surat itu, wanita tersebut menceritakan penyesalannya karena keburu meninggal sebelum sempat meminta maaf kepada semua orang.

Begini kisah dalam surat itu.

 

1 dari 3 halaman

Pinjaman Aku Sehari

Dream - " Perlahan, tubuhku diturunkan ke dalam lubang yang sempit. Namun dengan cepat kemudian tubuhku ditimbun tanah. Lalu semua orang meninggalkanku.

Masih terdengar jelas langkah kaki mereka. Kini aku sendirian, di tempat yang gelap, tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sekarang aku sendiri menunggu ujian dan pertanyaan-pertanyaan. Belahan jiwa pun pergi. Abah, Umi, abang, adik, yang tubuhnya mengalir sedarah denganku pergi. Suamiku pun juga pergi apalagi sahabatku.

Kawan, tak seorangpun yang mau ikut denganku. Ternyata aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka. Menyesal pun tak guna.

Taubat tak lagi diterima. Minta maaf tak lagi didengar. Kini aku sendirian mempertanggungjawabkan apa yang pernah aku lakukan.

Ya Allah, kalau bisa tolong pinjamkan satu hari saja milik-Mu. Aku akan berkeliling memohon maaf kepada mereka yang telah merasakan kezalimanku.

Yang susah dan sedih karena ulahku, yang aku sakiti hatinya, yang telah aku tipu, yang telah aku lukai. Ya Allah..berikan aku satu hari saja. Untuk memberi seluruh baktiku kepada Abah dan Umi tercinta.

Demi memohon maaf atas kata-kataku yang kadang tak sopan. Maafkan aku Abah, maafkan aku Umi. Aku sungguh ingin sujud memohon ridha mereka.

 

2 dari 3 halaman

Maafkan Aku Suami Imamku

Dream - Maafkan aku, Suami Imamku, maafkan aku. Aku titipkan anakku yang cantik sebagai penggantiku. Jaga anakku, bimbing dan jadikan anakku menjadi seorang anak yang sholeha.

Dan aku ingin mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih, atas apa yang mereka korbankan untukku. Ya Allah, pinjamkan aku satu hari saja. Yang akan aku gunakan setiap detiknya untuk rukuk dan sujud kepada-Mu.

Beramal soleh dengan tulus, menyedekahkan seluruh hartaku yang tersisa di jalan-Mu. Menyesal sekali rasanya. Banyak waktuku di dunia berlalu dengan sia-sia, Bahkan Alquran, firman-Mu, dengan malas kubaca.

Hadist Rasulullah pun tak pernah aku hiraukan. Andai bisa kuputar ulang waktu itu, Tapi aku dimakamkan hari ini.

 

3 dari 3 halaman

Seratus Tahun pun Takkan Hilang

Dream - Manalah mungkin? Sakitnya sakaratul maut masih menancap pada setiap senti tubuhku yang kini kaku. Sakit, sakit sekali.

Seratus tahun pun tak akan hilang rasa sakitnya. Seandainya aku masih bisa bercerita. Tentu tak akan tenang tidur kawan-kawanku yang masih hidup.

Seumur hidup mereka tak akan pernah lagi tidur nyenyak. Andai saja mereka tahu. Baru beberapa saat dalam gelap masih terdengar sayup-sayup suara orang-orang yang meninggalkanku. Tanah kuburku masih gembur, baru saja ditidurkan seorang diri.

Akankah diluaskan lagi kuburku setelah ini? Bagaimana aku menjawab pertanyaan malaikat nanti? Ooohh, Andaikan aku bisa keluar dari sini.

Yaa Allah, yaa Rahman, ampuni dosa-dosa kami, segala kekhilafan kami, Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.

Yaa Robbal Alamin, pertemukan kami semua kelak dalam Surga FirdausMU Aamiin yaa Mujibassailiin."

(Sumber: eberita.org)

Beri Komentar