7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Pemerintah terus menjamin ketersediaan obat untuk penanganan Covid-19 di Tanah Air. Untuk memudahkan pasokan sebagian obat telah diproduksi di dalam negeri.
Meski demikian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan masi ada beberapa jenis obat yang belum bisa diproduksi dalam negeri sehingga terpaksa didatangkan lewat impor. Obat tersebut yaitu Remdesivir, Actemra, dan Gammaraas, yang saat ini sedang diburu banyak negara.
" Ini adalah obat-obatan yang di seluruh dunia juga sedang short supply karena semua orang sedang membutuhkan obat-obat ini," ujar Budi, disiarkan Sekretariat Presiden.
Budi mengatakan sebanyak 150 ribu butir Remdesivir akan tiba di Indonesia bulan ini disusul 1,2 juta butir pada Agustus mendatang. Dia menyatakan pihaknya tengah mengupayakan agar obat ini bisa diproduksi di dalam negeri.
Untuk Actemra, Budi menyebut harga obat ini sudah sangat mahal akibat semakin diyakini efektif mengatasi Covid-19. Sayangnya pasokan di dunia sangat sedikit.
Saat ini, harga Actemra bahkan sudah mencapai 50-an juta hingga ratusan juta. " Padahal harga sebenarnya cuma di bawah 10 juta," kata dia.
Meski begitu, Pemerintah tetap akan mengimpor obat ini. Menurut Budi, bulan ini akan ada 1.000 vial Actemra yang tiba di Indonesia.
" Tapi Agustus kita akan mengimpor 138 ribu (vial) dari negara-negara yang mungkin teman-teman tidak membahayakan, kita akan impor dari negara-negara tersebut. Kita cari ke seluruh pelosok dunia mengenai actemra ini," sambung Budi.
Sedangkan untuk Gammaraas, Pemerintah mengimpor 26 ribu vial bulan ini dan 27 vial di Agustus. Sedangkan pendistribusiannya, Budi akan melibatkan GP Farmasi.
" Kita harapkan sudah lebih baik distribusinya kita bekerjasama dengan GP (Gabungan Perusahaan) Farmasi. Mereka akan membantu kita mendistribusikan ke sekitar 12 ribu apotek aktif di Indonesia," kata Budi.
Dream - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kasus kematian pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri terjadi akibat terlambat masuk rumah sakit. Saat dalam kondisi kritis dan saturasi rendah, mereka tidak terpantau.
" Saya sudah cek dengan banyak direktur RS, penyebabnya telat masuk, saturasi sudah sangat rendah," ujar Budi, disiarkan Sekretariat Presiden.
Agar hal serupa tidak terulang, Budi menekankan pasien isoman perlu secara rutin memeriksa tingkat oksigen dalam darahnya menggunakan oxymeter. Jika saturasi sudah di bawah 94 persen, maka harus segera dibawa ke rumah sakit.
Tetapi jika di atas 94 persen, maka pasien tidak perlu dilarikan ke RS. Sehingga beban RS tidak terlalu berat.
" Orang yang butuh masuk (RS) jadi enggak bisa masuk, ya biarin di rumah yang penting ukur saturasinya," kata dia.
Budi menekankan pentingnya memastikan saturasi oksigen. Karena bisa jadi pasien merasa sehat padahal saturasi di bawah 94 persen.
" Kalau di bawah 94 persen baru dibawa ke RS, jangan sampai turun 80 persen, sampai 70, sebab merasa sehat," kata dia.
Menurut Budi, banyak kasus pasien merasa masih sehat dan menganggap gejala yang dialami ringan sehingga enggan ke rumah sakit atau tempat isolasi terpusat. Alhasil, kebanyakan pasien isoman meninggal akibat tidak terpantau.
" Sekali lagi, yang banyak wafat adalah karena terlambat masuk ke RS," kata dia.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?