Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Lihatlah dua insan itu. Wajah mereka sungguh terang benderang. Yang wanita dibalut gaun pengantin putih muslimah. Dipadu dengan kerudung. Kalung mutiara menjuntai. Dengan sepatu tumit tinggi, dia memiliki hampir semua hal untuk disebut anggun mempesona.
Sesekali dia tertawa kecil. Dan inilah hari yang berbilang bulan sudah dibayangkan itu. Pernikahan. Ke pelaminan dikepit seorang pria yang hari itu menjadikan dunia begitu mengkilap. Hajatan itu pun tuntas.
Lalu Fisya, begitu nama si anggun itu, beranjak dari pelaminan. Tangannya terapit di lengan kiri Fikri, suami yang akan menjadi imamnya sepanjang hayat. Mereka tampak mesra. Berbalut tuxedo dan dasi kupu-kupu, Fikri perlahan menuntun istrinya menuruni tangga.
Pada sebuah lorong apartemen mereka berhenti. Fikri yang sudah memakai cincin kawin di jari manis itu memeluk mesra kepala Fisya. Silahkan membayangkan betapa bahagianya dua insan ini.
Sebelum melanjutkan kisah ini, perlu pembaca ketahui, ini hanya teaser sebuah film. Sebuah video pendek berdurasi 30 detik, yang ditayangkan di situs berbagai video, Youtube. Puluhan ribu orang sudah menonton tayangan ini. Dan semuanya datang dengan sanjungan.
Fikri dan Fisya hanyalah nama lakon belaka. Fisya diperankan Dewi Sandra dan Fikri dilakonkan Richard Kevin. Nama film itu Air Mata Surga. Kisah dilayar lebar itu sesungguhnya disadur dari kisah nyata, yang hidup di Yogyakarta. Kisah dari kota Gudeg itu dinovelkan dalam Air Mata Tuhan.
Film itu diputar serentak pada sejumlah bioskop di sejumlah kota, 22 Oktober lalu. Dan memang laris manis. Penonton berjubel membeli tiket, memberi sanjungan atas karya para sineas film ini.
******
Air Mata Surga, sukses bersama ramainya sejumlah film bernafas Islami beberapa tahun belakangan ini. Film-film itu umumnya diadopsi dari cerita nyata, dari novel yang juga laris, yang kisahnya bisa menuntun banyak orang ke jalan yang benar.
Lihatlah Ayat-ayat Cinta, yang membetot berjuta orang tujuh tahun silam. Film besutan sutradara muda Hanung Bramantyo ini meledak di pasaran. Kisah yang diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy itu ditonton 3.582.947 orang.
Kesuksesan Ayat-ayat Cinta itu kemudian diikuti sejumlah film lain. Sukses yang susul menyusul itu turut menghidupkan kembali dunia perfilman lokal di Indonesia. Bisnis dunia perfilman kita juga kemudian kian terlihat kinclong.
Tapi film-film yang bernafas Islami sesungguhnya sudah lama melaju ke layar bioskop. Dan marilah kita pulang ke tahun 1964. Saat Usmar Ismail membuat film bertajuk Tauhid. Atau mundur lagi ke lima tahun sebelumnya, 1959, saat Asrul Sani membesut Titian Serambut Dibelah Tujuh. Dua film ini juga terhitung sukses.
Film Titian Serambut Dibelah Tujuh itu, bahkan dibuat ulang oleh Chairul Umam pada 1982, yang juga sukses dilayar lebar.
Sesudah film-film perdana itu, sejumlah film bernafaskan Islam berikutnya susul menyusul mengukir kisah sukses. Seperti Al Kautsar (1977), Nada dan Dakwah (1992), dan Fatahillah (1997). Dan setelah tahun 2000 muncul sejumlah film seperti Ketika Cinta Bertasbih I dan II, Cinta Suci Zahra, dan Atheis.
Air Mata Surga, film yang baru lahir bulan Oktober ini memang masih jauh dari rekor Ayat-ayat Cinta. Namun baru dua pekan tayang di layar bioskop, film ini sudah ditonton 212.818 pasang mata.
Data para penonton di bioskop itu bisa dilihat pada situs filmindonesia.or.id. Dan dari catatan mereka diketahui bahwa sepanjangan tahun 2015 ini, posisi puncak diraih film Surga yang Tak Dirindukan.
Film yang tayang Juli 2015 ini telah menyedot perhatian 1.523.570.
Film-film yang bernuansa Islami ini terus bermunculan. Selain Air Mata Surga, sejumlah bioskop kini juga sedang memutar film Bait Surau. Yang segera muncul adalah Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Sebuah film yang diproduksi dengan cara yang tidak biasa. Biaya untuk memproduksi film ini adalah hasil urunan sejumlah orang.
Bukan Sekadar Film...
© Dream
Meski banyak kisah sukses, film-film bernuansa Islam belakangan ini memang tidak semengkilap beberapa tahun lalu. Apa sebabnya? Dengarlah penjelasan pengamat film Yan Widjaya. Film-film lokal, termasuk yang bernafaskan Islam, seperti agak lesu belakangan ini. Animo masyarakat agak berkurang. “ Kemungkinan karena terlalu banyak judul film yang beredar," katanya kepada jurnalis Dream, Maulana Kautsar.
Itulah sebabnya, lanjut Yan, para pembuat film bernafaskan Islami semakin dituntut kreatif. Ceruk mereka sangat spesifik. Menyasar kalangan agamis dan komunitas muslim. Sedang biaya untuk memproduksi sebuah film tidaklah murah. Diperkirakan Rp 10 miliar. Uang sejumlah itu digunakan dari proses produksi hingga promosi.
Toh CEO MD Picture , Manoj Punjabi, menilai animo publik Indonesia menonton film-film lokal selama ini, sungguh memberi semangat kepada industri film, bahkan ketika ekonomi nasional sedang lesu darah. Semangat para penonton itu, katanya, adalah modal yang “ Lebih Luar Biasa,” ketimbang sekedar hitungan untung rugi.
Meski mengakui film lokal sedikit meredup, Rifki Danial yang menjadi sutradara dua judul film Islami La Tahzan dan Haji Backpaker, memastikan film-film bernafas Islami masih bisa hidup. Para pemilik uang, katanya, masih mau membenamkan dana. Bukan cuma untuk biaya produksi, mereka juga mau membuka dompet untuk promosi.
Untuk lakon pada film-film jenis ini, kata Danial, sutradara tak mau ambil aktris sembarangan.Yang diajak hanya aktor atau aktris yang premium. Seperti Dewi Sandra, Laudya Chintya Bella, Raline Shah, Dian Sastro, Abimana, Reza Rahardian yang aktingnya sudah teruji.
" Fedi Nuril itu masih juaranya film religi dan fluktuasi tarif artis-artis mahal di Indonesia ini sudah kaya mau beli rumah," ungkap Danial sambil tertawa.
Kabar baik soal film-film Islami ini juga disampaikan oleh jejaring bioskop di Indonesia, Cinema 21. Catherine Keng, corporate secretary Cinema 21 mengaku animo masyarakat pada film-film bernuansa Islami memang masih tinggi. “ Cerita dan produksinya juga bagus,” kata Catherine.
Indonesia, katanya, memang punya segmen penonton film-film Islami yang kuat. Namun mereka bukan penonton buta. Para penonton akan teliti, melihat ide cerita, maupun kualitas produk dari karya yang ditawarkan.
“ Penonton akan mau tonton asal cerita dan produksinya bagus,” ujarnya.
*****
Meski dihadapi sejumlah tantangan, para sineas dan produsen film-film lokal bernafaskan Islam ini terus bersemangat. Mereka punya idealisme dan memandang jauh ke depan. Sangat yakin bahwa segmen ini akan tumbuh subur di negeri ini.
MD Picture bahkan sudah menyiapkan sejumlah rencana. Majob mengaku sedang berpikir untuk membuat sekuel film Habibie dan Ainun 2, serta film Ayat-Ayat Cinta 2. " Kami akan tetap bermain di genre ini. Tinggal bagaimana meramunya," tegas Manoj.
Bagi Danial, menggarap sebuah film Islami tak selamanya soal duit belaka. Hidup di keluarga yang kental dengan pendidikan agama, Danial ingin menjadikan film sebagai media dakwah.
Film Islami, katanya, dibuat untuk mengajak orang-orang yang salah kepada ajaran yang benar. " Agama itu lebih enak kalau diambil intisarinya yaitu ingin mengajak orang jadi baik," harap Danial seraya menyeruput teh serai panas.
(Laporan: Maulana Kautsar, Ratih Wulan)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya