Mengharukan, Nenek Sewa Wanita untuk Jadi Anaknya

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 14 Desember 2016 18:02
Mengharukan, Nenek Sewa Wanita untuk Jadi Anaknya
Dia menawarkan iPhone 7 dan menanggung biaya akomodasinya.

Dream - Rasa kesepian bisa melanda siapa saja. Tak hanya pemuda dan pemudi jomblo, kesepian juga dirasakan orang tua yang minim perhatian dari putra-putrinya.

Nasib itulah yang dirasakan seorang nenek asal Zhejiang, China, bernama Li Yanling. Nenek berusia 63 tahun tersebut sedang menjadi perbincangan di media sosial negeri Tirai Bambu lantaran hendak membayar seseorang agar bertindak sebagai putrinya.

Li ingin gadis yang 'disewanya' dapat menemani liburan ke Hainan. Sebagai bayaran, dia menawaran sejumlah uang dan iPhone 7 miliknya.

" Aku tinggal sendirian di Zhengzhou... saya suka gadis ramah berusia 19 hingga 24 tahun menemani saya berbincang dan berfoto bersama saat bepergian," tulis Li di akun WeChat-nya.

" Saya ingin melihat laut di Sanya saat musim dingin, namun aku takut kesepian jika pergian sendirian," ucap dia menambahkan.

Dilansir dari laman Shangaiist, beberapa pengguna media sosial yang membaca unggahan Li tertarik menemani perjalanan nenek tua itu. Bahkan beberapa orang ingin menemani tanpa mendapatkan imbalan.

" Saya tidak perlu iPhone, tapi aku akan datang menemani Bibi dan aku akan membayar tagihan perjalananku sendiri. Selama itu bisa mengurangi kesepian Anda," kata seorang pengguna media sosial.

Li tinggal sendirian sejak sang putri bermigrasi ke Kanada. Adapun suaminya kerap melakukan perjalanan menyusuri pegunungan.

Dia pun enggan mengikuti biro perjalanan karena beralasan tidak adanya sosok seperti 'anak perempuan' yang mendampinginya.

1 dari 2 halaman

Kakek Miskin yang Dermawan Wafat, Dunia Berduka

Dream - Liu Shenglang. Inilah kakek dermawan. Pria 93 tahun ini bukanlah orang kaya raya. Pekerjaannya hanyalah pemulung. Namun dari barang-barang bekas yang dipungut itulah Liu beramal. Memberi inspirasi kepada banyak orang.

Sudah lebih 20 tahun Liu menjadi pemungut sampah. Sejak itu pula dia telah membiayai lebih dari 100 mahasiswa hingga lulus kuliah. Semua dana yang dia santunkan itu dari hasil memungut sampah.

Liu biasanya pergi ke kantor pos dengan mengendarai sepeda untuk mengirimkan uang agar para mahasiswa miskin bisa tetap kuliah. Kakek asal Kota Yantai, Provinsi Shandong, China, ini benar-benar menghabiskan sisa umurnya dengan berbagi untuk sesama.

Awal tahun ini kakek Liu ini meninggal dunia pada usia 93 tahun. Tak heran, hampir semua orang yang mengenalnya berduka atas kepergian kakek inspiratif ini.

Sekitar Rp 212 juta telah dia dermakan untuk para mahasiswa. Dan cara ini telah ditiru banyak orang. Hingga kini, sekitar 700 organisasi dan 500 ribu orang relawan di China yang mau melakukan kebaikan seperti Liu.

Selamat jalan kakek Liu. Si miskin yang dermawan.

Baca selengkapnya di tautan berikut ini. (CCTV News)

2 dari 2 halaman

Ingin Bantu Nenek Lusuh, Tak Disangka, Ternyata...

Dream - Penjual Nasi Lemak Anak Dara (NLAD), Sitti Hajjar, kembali viral di media sosial. Kali ini bukan menyangkut dagangannya, melainkan karena kebaikan hatinya.

Gadis cerdas lulusan jurusan teknik ini dinilai memiliki sifat yang suka membantu orang lain. Baru-baru ini Siti berbagi pengalamannya setelah bertemu dengan seorang wanita tua berpakaian lusuh.

Pertemuan tersebut membuatnya merasa iba sekaligus kagum. Lantaran si nenek tersebut awalnya enggan dibantu. Namun apa yang terjadi setelah itu?

Simak pengalaman gadis berparas manis itu bersama nenek yang tak mau menyusahkan orang lain itu berikut ini.

Peristiwa terjadi beberapa hari yang lalu. Kebetulan saat itu aku singgah di Aeon Big di Batu Pahat untuk belanja bahan-bahan membuat menu sup buah.

Mungkin ini takdir Allah mempertemukanku dengan seorang nenek yang menurut orang lain terlihat menjijikkan. Tapi bagiku, hati dia sangat mulia.

Pada saat sedang memilih buah, ada sesuatu yang membuatku tersentuh. Kemudian, aku dekati nenek yang sedang kebingungan memilih barang keperluannya. Maklum, saat ini harga barang-barang menjadi mahal.

Kemudian, kuulurkan sedikit uang kepadanya. Namun, nenek itu tak mau menerimanya. Tapi aku terus memaksanya agar mengambil uang itu. Hingga akhirnya, aku berhasil membujuknya dan melihat rasa syukur di wajahnya.

Kemudian aku pun kembali memilih barang keperluanku. Namun aku masih tak bisa melepaskan pandangan dari nenek itu. Dari kejauhan, aku lihat banyak yang jijik dengan nenek itu. Ya Allah, padahal dia juga manusia seperti mereka.

Selang beberapa menit kemudian, dia datang ke arahku sambil memberikan sedikit manisan yang dia jual di dekat pintu masuk. Dia bilang 'ambil asam ini, nanti bisa buat camilan'.

Aku menolaknya dan mengatakan kepadanya manisan itu lebih baik dijual agar dapat uang. Aku bilang aku bantu nenek karena ikhlas. Nenek itu memang dari awal terlihat tidak ingin menyusahkan banyak orang.

Dia mencari rezeki dengan berjualan manisan, bukan dengan minta-minta. Aku suka cara dia itu dan hatinya memang bersih. Aku lihat setiap kali melihat harga makanan yang di rak, nenek itu meletakannya kembali ke tempat asalnya karena harganya yang tak terjangkau olehnya.

Aku pun cepat-cepat mengambil barangku dan pergi ke arahnya. Aku suruh dia letakkan makanan yang sudah diambil ke troli belanjaanku. Seperti sebelumnya, dia juga menolak melakukannya karena tak mau menyusahkan aku.

Sekali lagi aku bilang kepadanya aku akan membantunya selagi mampu melakukannya.

Nenek itu agak enggan meletakan makanan yang ada di tangannya, meski akhirnya mau melakukannya. Setelah membayar semua barang belanjaan, kami berjalan sambil berbincang-bincang. Ketika aku bertanya 'nenek ini Melayu atau Tionghoa?', dia hanya menjawab 'saya Islam'.

Rasa penasaran muncul karena nenek itu memiliki logat seperti seorang Tionghoa. Jadi, aku rasa nenek ini adalah seorang China Muslim.

Kami terus berbincang hingga mendekati pintu keluar Aeon Big. Jika tidak ada urusan lain, ingin rasanya mengantarkan nenek itu sampai ke rumahnya. Kebutulan nenek itu juga beralasan sedang menunggu teman yang entah pergi ke mana.

Aku tak tahu apa memang nenek itu tak mau diantar karena tak ingin merepotkan, atau dia tak punya tempat untuk menetap. Ya Allah, tak sampai hati melihat keadaannya.

Ketika kami berpisah, nenek itu mengulurkan sesuatu dalam bungkusan kertas yang dikemas dalam plastik rapi. Aku menduga itu adalah barang yang dijualnya setiap hari selain manisan yang dia berikan tadi.

Semoga nenek itu diberikan rezeki dan dipermudah segala urusannya. Amin.

(Sumber: Ohbulan)

Beri Komentar