Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
RS Dr Sardjito Yogyakarta (Foto: Liputan6.com)
Dream - Pasien perempuan berusia 75 tahun menjalani perawat di ruang isolasi RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta. Pasien itu menderita batuk-batuk, pilek, demam, dan memiliki riwayat usai pulang menjalani ibadah umroh pada Minggu, 1 Maret 2020.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Paru RSUP Dr Sardjito, Ika Trisnawati mengatakan saat ini pasien dalam kondisi stabil. Sebelumnya pasien sempat mengalami dehidrasi, tak mau makan dan minum.
" Kondisi pasien yang dirujuk kemarin stabil, artinya tidak ada penurunan. Tetapi juga sudah diatasi. Karena sebelumnya pasien tidak mau makan minum, dehidrasi. Jadi lemahnya karena kekurangan cairan. Setelah pemberian cairan sudah lebih baik," ujar Ika dilaporkan Merdeka.com, Rabu, 4 Maret 2020.
Terkait kondisi pasien yang harus dirawat di ruang isolasi, Ika menyebut karena kondisi yang dikeluhkan dan pasien baru saja pulang dari negara yang memiliki catatan adanya kasus virus corona.
Ika mengatakan, pasien memang dimasukkan ke dalam kategori pengawasan. Sehingga sesuai dengan SOP dari Kementerian Kesehatan dan WHO maka penanganannya di ruang isolasi.
" Kemungkinan virus, wabah corona (Covid-19) itu kemungkinan paling akhir. Kemungkinan paling dekat adalah infeksi paru akibat pertama karena lanjut usia, atau bronkitis akut atau pneumonia bakteri. Kami menduganya bukan karena virus tapi bakteri," ujar Ika.
Ika menyebut, pasien telah diambil sampelnya. Sampel ini dikirimkan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes. Hasil laboratorium akan keluar dalam dua atau tiga hari mendatang.
Sumber: Merdeka.com/Purnomo Edi
Dream - Sembilan warga negara asing (WNA) yang berada di Bali menjalani observasi dari instansi terkait. Langkah tersebut diambil setelah kesembilan WNA itu berinteraksi dengan seorang warga Selandia Baru yang positif terinfeksi virus corona.
Warga negara Selandia Baru yang terinfeksi sempat transit di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Sembilan WNA tersebut ditemukan duduk berdekatan dengan warga negara Selandia Baru. Mereka berinteraksi dengan percakapan tunggal dan tidak berbicara langsung.
" Kami sudah tindaklanjuti ada contact rap dari kasus ini. Kebetulan dia transit di Bandara (I Gusti Ngurah Rai). Kita lakukan contact tracing (pelacakan) kepada penumpang yang ada di depan dua dan dua di belakang dan ini kami sudah ketahui di mana keberadaannya," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya, Selasa, 3 Maret 2020.
Warga Selandia Baru yang positif virus corona atau Covid-19 diketahui berusia 60 tahun dan duduk di kursi nomor 37. Dia terbang dari Teheran, Iran, ke Auckland menggunakan maskapai Emirates Airline dengan nomor penerbangan EK 450 Rabu, 26 Februari 2020.
Kemudian, untuk sembilan WNA yang berinteraksi telah dikoordinasikan kepada pihak hotel untuk karantina di sejumlah hotel yang ditempati mereka di Bali selama 14 hari.
" Yang kontak rap ini sudah kami identifikasi ada di tiga tempat dan kami lakukan monitor. Tentu dengan waktu masa 14 hari seusai masah inkubasi yang terpanjang," kata dia.
Suarjaya juga mengatakan, untuk sembilan warga asing itu dari pengawasannya dalam keadaan sehat. Tetapi, mereka tetap di monitor sepanjang waktu selama 14 hari sejak warga Selandia Baru dinyatakan positif.
Selain itu, mereka juga telah diambil sample-nya untuk dilakukan tes laboratorium. Kemudian, diminta untuk mengurangi aktifitasnya.
" (Mereka) orang asing semua, kita sudah komunikasikan bahwa sebagai kontak rap mereka mematuhi sebagai standar protokol WHO. Petugas kesehatan surveilans kami mengawasi (mereka) sepanjang waktu sampai 14 hari ke depan," ujar Suarjaya.
Kementerian Kesehatan segera menelusuri riwayat perjalanan Warga Negara (WN) Selandia Baru yang dikabarkan positif virus corona (Covid-19) ke Imigrasi Denpasar, Bali. Alasannya, WN Selandia Baru tersebut sempat transit di Bali sebelum dinyatakan positif terjangkit virus asal Wuhan, China itu.
" Masih nunggu tracking imigrasi," ucap Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 29 Februari 2020.
Sebagai informasi, Selandia Baru mengkonfirmasi kasus virus corona pertama di negaranya, Jumat 28 Februari 2020. Perempuan berusia sekitar 60 tahun itu terbang dari Iran dengan tujuan Auckland. Dia sempat transit di bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Setibanya di Auckland pada Rabu, 26 Februari 2020, perempuan itu merasa tak enak badan. Dia pun dirujuk ke rumah sakit dan dinyatakan positif virus corona.
(Sumber: Merdeka.com/Moh Kadafi)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya