Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Liputan6.com)
Dream - Pemerintah berencana memberlakukan standarisasi tarif tes usap (swab test) Covid-19. Hal ini mengingat masih banyaknya rumah sakit yang menerapkan tarif sangat tinggi untuk sekali tes.
Plt Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Dody Ruswandi, mengungkapkan saat ini masih ada rumah sakit yang memberlakukan tarif antara Rp2,5 juta hingga Rp5 juta untuk tes usap.
Dalam beberapa waktu ke depan, kata Dody, Kepala BNPB akan mengajukan masukan standarisasi tarif tersebut kepada Menteri Kesehatan.
" Saat ini kita sedang siapkan standar biaya untuk rumah sakit swasta kami sedang bekerja siapkan itu jadi mungkin nanti kepala BNPB akan berikan saran ke Menkes mungkin plafon maksimalnya sekian," ujar Dody.
Menurut perhitungan BNPB, kata Dody, seharusnya tarif tes usap paling tinggi Rp500 ribu. Sementara, dia mengakui banyak rumah sakit yang menerapkan tarif sangat mahal demi keuntungan.
Ke depan, BNPB mengusahakan agar rumah sakit memberlakukan tarif standar dan mengambil margin keuntungan dalam batas wajar. Pihaknya masih melakukan pengkajian terkait tarif standar tersebut.
" Kajian itu sudah berjalan. Kami sudah punya baseline harga sebenarnya di bawah Rp500 ribu. Kalau diberlakukan di RS swasta tinggal ditambah margin keuntungan yang wajar," kata Dody.
Pemerintah telah menambah kemampuan pemeriksaan Covid-19. Saat ini sebanyak 300 laboratorium beroperasi untuk pemeriksaan dengan peralatan dukungan BNPB dan Pemerintah.
" Sebagian ini yang dibantu adalah rumah sakit ataupun lab Pemerintah, Kemenkes, Labkesda, atau lab di RS Pemerintah atau RSUD," kata Dody.
Dengan begitu, kata Dody, seharusnya pemeriksaan di lab-lab tersebut sudah gratis. Apalagi, BNPB juga memberlakukan skema bantuan alat PCR dan mesin ekstraksi otomatis.
Selain itu, ada perusahaan yang mendapat bantuan dalam penyediaan jasa testing. Hal ini mendorong peningkatan kemampuan testing sehingga deteksi kasus positif juga dapat ditingkatkan.
" Kami juga bantu penyediaan jasa testing, ada lima perusahaan yang kami bantu perbesar kapasitas lab itu. Biaya kami bayar, ini sudah terselenggara," ucap Dody.
Sumber: Merdeka.com/Ahda Bayhaqi
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya