6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi
Dream - Pelaksanaan pendidikan di daerah perbatasan hingga saat ini masih belum memadai dari segi kualitas. Masalah ini timbul lantaran kualitas pengajar yang belum memadai.
Hal ini menjadi perhatian khusus Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kelemahan daya saing sarjana Indonesia menjadi salah satu sebab lemahnya kualitas pengajar.
" Untuk menyiapkan sumber daya manusia tentunya punya bekal dari latar belakang pendidikan tinggi, namun harus diakui daya saing perguruan tinggi di dalam negeri masih sedikit," ujar Menristek Dikti Mohammad Nasir di Jakarta, Kamis, 5 November 2015.
Nasir mengatakan, lemahnya daya saing itu terlihat dari ranking universitas negeri yang dimiliki Indonesia di dunia. Dari ratusan universitas negeri Indonesia, hanya dua universitas yang masuk peringkat 500 dunia yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI).
Mengenai mutu pendidikan tinggi Nasir juga menyebut masih banyak program studi yang belum memenuhi standar nasional pendidikan tinggi. Ada beberapa persoalan lain yang mesti diberbaiki seperti Angka Partisipasi Kasar (APK) yang harus ditingkatkan dengan penambahan fasilitas, perbaikan metodologi, dan penambahan jumlah universitas.
" Publikasi internasional dosen masih minim. APK masih perlu ditingkatkan. Masih ada kesenjangan APK antardaerah. Sedikit sekali hasil penelitian perguruan tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dan banyak sarjana yang menganggur," tuturnya.
Mengenai pentingnya peningkatan SDM pendidik ini, Nasir menyebut ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satu di antaranya adalah ketimpangan kesejahteraan serta daya saing bangsa masih lemah.
" Kita harus lihat sumber daya manusia itu sendiri. Di sana ada tantangan kemiskinan, ketimpangan kesejahteraan, pengangguran, kebodohan dan keterbelakangan, dan daya saing bangsa masih lemah," ungkap dia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
