Misteri Penyebab Tsunami Palu Terungkap

Reporter : Sugiono
Kamis, 13 Desember 2018 11:42
Misteri Penyebab Tsunami Palu Terungkap
Peneliti BPPT jelaskan penyebab terjadinya tsunami Palu yang dahsyat hingga menewaskan 1.000 orang lebih.

Dream - Para ilmuwan semakin dekat dalam memahami bencana tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah yang terjadi pada akhir September 2018 lalu.

Hasil awal dari berbagai investigasi bencana tsunami disampaikan dalam pertemuan Persatuan Geofisika Amerika di Washington DC.

Pertemuan yang digelar pada 10-14 Desember itu mulai bisa mengungkap fenomena bencana tsunami di Kota Palu dan sekitarnya.

Seperti diketahui bahwa gelombang tsunami menerjang Kota Palu setelah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7,8 Magnitude.

Saat itu, para peneliti merasa bingung dengan besarnya tsunami yang menerjang Kota Palu. Namun, sebuah survei di pesisir pantai Kota Palu menunjukkan kemungkinan penyebab terjadinya tsunami dalam skala yang luas itu.

Temuan survei memperlihatkan adanya penurunan dasar laut secara signifikan setelah terjadi gempa tersebut. Anjloknya dasar laut inilah yang diduga sebagai penyebab bergeraknya air secara tiba-tiba yang kemudian menerjang daratan Kota Palu. 

1 dari 2 halaman

Penjelasan Peneliti BPPT

Menurut temuan survei, gempa terjadi pada apa yang disebut dengan strike-slip fault atau patahan sesar geser.

Patahan sesar geser adalah fenomena di mana salah satu patahan terus bergeser secara horisontal melewati patahan lainnya.

Konfigurasi patahan seperti itu umumnya tidak dikaitkan dengan tsunami berukuran sangat besar. Namun demikian, itulah yang terjadi di Kota Palu pada 28 September menjelang Maghrib.

Saat itu, dua gelombang besar terpantau, dengan gelombang kedua menjadi yang terbesar hingga masuk ke daratan sejauh 400 meter.

Udrekh Al Hanif, dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakan pada pertemuan Persatuan Geofisika Amerika bahwa sumber tsunami seharusnya berjarak sangat dekat dengan Kota Palu.

Mengingat interval antara awal gempa dan datangnya tsunami hanya berkisar kurang dari tiga menit.

Dia dan rekan-rekannya berusaha mencari jawaban menggunakan peta kedalaman laut (batimetrik) di teluk sempit dan panjang yang mengarah ke Kota Palu.

Tim Udrekh masih terus bekerja menemukan jawabannya. Namun data menunjukkan dasar laut di sebagian besar teluk anjlok karena gempa.

Hasil ini, dikombinasikan dengan gerakan patahan secara tiba-tiba ke utara, hampir bisa dipastikan sebagai penyebab munculnya tsunami.

" Ketika kami bandingkan data batimetrik dari sebelum dan sesudah (tsunami), kami dapat melihat bahwa hampir semua bagian dasar laut di dalam teluk mengalami penurunan. Dan dari data ini, kami juga bisa mengamati pergerakan patahan ke utara. Dengan demikian, kami melihat adanya pergeseran vertikal dan horizontal," kata Udrekh kepada BBC News.

Namun, apakah fenomena ini sudah cukup untuk menjelaskan ukuran tsunami, masih perlu dipertanyakan. 

2 dari 2 halaman

Bencana Ketiga Atau Keempat di Palu

Sebenarnya ada faktor lain yang bisa menjadi penyebab munculnya tsunami berukuran besar di Kota Palu.

Menurut data Udrekh, ada bukti yang menunjukkan terjadinya beberapa tanah longsor di bawah air.

Selain itu, ada gerakan dasar laut yang mengarah ke atas di sebuah kawasan dekat Kota Palu. Hal ini menyebabkan patahan sesar geser terpecah ke jalur yang berlainan.

Pergerakan secara bersamaan pada kedua jalur tersebut kemungkinan menekan lempengan yang berada di antaranya.

" Ini adalah fenomena yang sangat tidak umum, namun dalam ilmu tektonik hal ini bisa terjadi lagi," kata Finn Lovholt dari Norwegian Geotechnical Institute.

Lovholt yakin bahwa fenomena ini bukan kali pertama terjadi di Kota Palu. Tapi mungkin yang ke ketiga atau keempat yang menyebabkan korban dalam jumlah besar.

" Kami punya data tentang fenomena yang sama pada tahun 1920an dan 1960an," jelas Lovholt.

Namun, sayang, Lovholt tidak merinci kejadian gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun-tahun tersebut.

(ism, Sumber: BBC.com)

Beri Komentar
Rumah Emas Selamat dari Tsunami, Ini Amalan Sang Pemilik