Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Park Hyun (Facebook.com Via Scmp.com)
Dream - Di tengah pandemi virus corona jenis baru, Covid-19, semua orang harus lebih waspada, meski tidak boleh panik. Jangan pernah meremehkan, apalagi merasa tidak pernah akan terjangkit virus tersebut karena telah menerapkan hidup sehat.
Virus ini bisa menjangkiti siapa saja. Dengarlah kisah Park Hyun, sebagaimana dimuat South China Morning Post. Pria 48 tahun asal Korea Selatan itu baru saja terinfeksi virus Covid-19. Padahal, dia rutin pergi ke gym untuk berolahraga. Lima hari dalam seminggu.
Park bahkan selalu menjaga kebersihan. Dia mencuci tangan kapan saja. Bahkan South China Morning Post menyebut Park cenderung berlebihan menggunakan sanitizer. Dia merasa aman. Tapi, Park --seperti kita semua-- tetap tidak tahu kapan bisa terjangkit virus itu.
Melalui Facebook, Park, yang saat ini telah pulih, menulis pengalamannya terinfeksi virus corona, " untuk membantu teman-teman dan orang-oran tercinta menangkal virus yang sangat menular ini."
Korea Selatan memang sedang berperang melawan virus corona jenis baru ini. Hingga kini sudah lebih 8.000 orang terinfeksi dan 72 di antaranya meninggal dunia.
" Kita harus berhati-hati! Tetapi jangan panik dan jangan takut," tulis Park.
" Saya naif dan bodoh berpikir bahwa [wabah] bukan masalah saya. Ya, seperti biasa, aku terlalu percaya diri," tambah dia.
Kota Busan, yang menjadi tempat tinggal Park, melaporkan kasus pertama positif virus corona jenis baru pada 21 Februari. Pada hari itu juga dia merasa tenggorokannya sakit ringan. Dia juga mengalami batuk kering yang ringan.
Dua hari kemudian, dia merasakan dadanya sesak, meski hanya ringan saja. Dia kemudian memutuskan untuk tinggal di rumah. Tidak pergi ke tempat gym. " Bukan karena merasa tidak sehat, tapi kerana ada pasien virus corona yang dilaporkan tinggal di dekat rumahku."
Pada 24 Februari pagi, dia mengalami masalah pernapasan. Park mulai takut karena Gereja Oncheon, tempat kelompok pasien di Busan tertular virus corona, berada di lingkungannya.
Jadilah dia panik dan menelepon otoritas kesehatan. Pada telepon pertama, dia disarankan tidak perlu melakukan tes virus corona hanya karena ada antrean panjang di pusat tes. Selain itu dinilai berisiko tertular. Gejala Park kala itu juga belum menunjukkan tingkat yang serius.
Namun makin hari gejala yang dialami Park semakin buruk. Saat menelepon untuk ketiga kalinya, Park disarankan ke rumah sakit terdekat untuk melakukan tes.
Pagi-pagi sekali Park ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Tapi saat itu antrean sudah mengular. Semua hendak tes virus corona. Dia diberi tahu bakal mengantre sekitar empat jam.
" Setelah 30 menit menunggu di antrean, saya kesulitan bernapas (tersengal) lagi dan jatuh, kepalaku membentur lantai," tulis Park. Dia kemudian dirawat karena luka di kepala dan menjalani tes virus corona.
Park kemudian mengarantina diri dan hari berikutnya mendapat pesan singkat dari rumah sakit yang mengabarkan hasil tes menunjukkan dirinya positif terinfeksi virus corona.
Setelah menerima konfirmasi itu, dia tetap tinggal di rumah selama 24 jam sebelum akhirnya dirawat di rumah sakit. Petugas kesehatan kemudian mewawancarainya untuk melacak pergerakannya serta mengetahui orang-orang yang berinteraksi dengannya.
Selama wawancara itulah kondisi Park memburuk dan akhirnya pada tengah malam ditempatkan di karantina unit gawat darurat Kosin University Gospel Hospital. Dia mendapat perawatan dan sejumlah tes sebelum akhirnya dipasang alat bantu pernapasan.
" Saya merasa sakit seperti terbakar di dada dan perut, meskipun saya tidak yakin apakah karena reaksi obat atau karena virus," tulis Park.
" Saya mengalami sedikit demam dan kondisi saya tidak stabil. Pertama saya merasa seperti ditimpa piringan besi, menekan dada saya. Rasa sakit yang menusuk secara bertahap mereda sampai terasa seolah seseorang meremas dadaku dengan keras," tambah dia.
" Saya terkadang merasa sangat lapar. Saya tahu saya harus makan agar bertahan tapi sangat sulit untuk menelan karena saya kesulitan bernapas."
Dia disuruh beristirahat selama sembilan hari selama dirawat dan kini genap 14 hari di karantina dan dinyatakan pulih.
Park mengatakan semua orang yang dia hubungi seminggu sebelum dia dirawat di rumah sakit, termasuk ibu dan saudara perempuannya, telah dites dan hasilnya negatif virus corona.
Dia berterima kasih kepada staf medis yang merawatnya. Dia merasa diperlakukan seperti keluarga oleh para perawat. Mereka, " melakukan yang terbaik untuk menghindari menyebabkan rasa sakit yang tidak perlu sambil merawat pasien dengan suntikan, membawa makanan kepada mereka dan bahkan membersihkan kamar mereka."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya