Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rumah Sakit Indonesia Di Gaza Ini Melayani 250 Pasien Setiap Hari (arabnews.com)
Dream - Warga Palestina di Jalur Gaza mungkin bisa sedikit tersenyum. Sebagian penderitaan mereka akan terobati.
Sebuah Rumah Sakit yang dibangun LSM Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) resmi beroperasi. Bernama Rumah Sakit Indonesia, sarana ini akan melengkapi fasilitas kesehatan di Gaza yang dalam kurun waktu 10 tahun tidak berfungsi maksimal.
Pembangunan RS yang membutuhkan waktu lima tahun itu sempat tersendat lantaran gempuran dan blokade Israel dan Mesir. Namun pembangunan tetap berjalan dan puncaknya pada 27 Desember tahun lalu, RS ini mulai berfungsi dan melayani 250 pasien setiap hari.
Berlokasi di puncak bukit di Jabalya yang merupakan kawasan kamp pengungsian terbesar di Gaza, RS ini akan melayani 300.000 penduduk yang tinggal di kawasan utara. Ini merupakan daerah yang terkena dampak paling parah akibat konflik dengan Israel pada 2014.
Di tahun itu, militer Israel membombardir Gaza lewat udara dan menewaskan sebanyak 2.100 penduduk yang kebanyakan adalah warga sipil. Berdasarkan laporan Pemerintah Palestina, serangan tersebut mengakibatkan kerusakan yang luas.
RS Indonesia dibangun dengan dana mencapai 9 juta dolar, setara Rp125 miliar. RS ini dilengkapi dengan 110 tempat tidur, sementara RS lokal yang telah lama berdiri hanya memiliki 62 tempat tidur.
" Ini akan membuat perubahan besar pada populasi lokal," ujar Kepala Media dan Hubungan Masyarakat RS Indonesia Muaeen Al Masri.
Gaza, rumah bagi dua juta orang, memiliki sekitar 30 RS dan klinik. Jika dibandingkan antara jumlah tempat tidur dengan pasien, seluruh fasilitas ini hanya dapat menyediakan 1,3 fasilitas bagi 1.000 penduduk, mengacu pada data Bank Dunia.
Sementara Israel dapat menyediakan rata-rata 3,3 tempat tidur setiap 1.000 penduduk dan Uni Eropa 5,4 tempat tidur setiap 1.000 penduduk.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf Al Qidra mengatakan masih terdapat masalah di Gaza yaitu kurangnya jumlah tenaga dokter dan ahli bedah yang terlatih. Pasien kritis harus pergi ke Israel, Mesir atau negara lain jika membutuhkan perawatan khusus.
" Karena Israel hanya menerima pasien yang terancam mati dan Mesir tetap menjaga agar perbatasan tidak dilewati warga Gaza dalam skala besar, ratusan nyawa terancam," kata Qidra. Sementara RS terbesar di kawasan itu hanya Shifa, yang terletak di pusat Kota Gaza dengan 750 tempat tidur.
Sumber: arabnews.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya