Mencekam! Pilot Salah Atur Autopilot, Pesawat Anjlok 152 Meter

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 8 November 2018 18:01
Mencekam! Pilot Salah Atur Autopilot, Pesawat Anjlok 152 Meter
Bagaimana pilot menyelamatkan pesawat itu?

Dream - Penerbangan Flybe dari Bandara Belfast, Irlandia Utara ke Bandara Glasgow, Skotlandia pada 11 Januari 2018 berlangsung mencekam. Pesawat itu mengalami insiden saat terbang di ketinggian 1.500 kaki atau 487 meter.

Dalam 18 detik, ketinggian pesawat anjlok hingga 500 kaki, atau 152 meter. Sebanyak 40 penumpang dinyatakan selamat dari insiden itu.

Baru-baru ini, investigasi dari Air Accident Investigation Branch (AAIB) menyatakan, insiden itu terjadi karena pengaturan autopilot ketika mencapai ketinggian 411 meter.

Dilaporkan Belfast Telegraph, pesawat akhirnya terus menanjak hingga ketinggian 487 meter, namun 'menekuk ke bawah dan kemudian turun dengan cepat'.

Kondisi itu ternyata muncul karena fasilitas autopilot diatur dengan ketinggian target nol kaki.

Alarm kokpit mengingatkan kapten dan co-pilot mengenai kondisi yang terjadi. Mereka kemudian melaporkan adanya 'visual daratan'.

Kapten akhirnya memutus autopilot dan mengembalikan posisi pesawat yang telah turun ke 928 kaki, 282 meter. Keputusan ini menyelamatkan pesawat jatuh ke daratan.

Seorang juru bicara Flybe mengatakan maskapai telah mengambil tindakan serius dengan memecat pilot. " Flybe mempertahankan pendekatan ketat untuk memastikan standar tinggi penerbangan."

Juru bicara itu juga menyebut, Flybe telah menerapkan perbaikan yang disarankan AAIB. " Flybe mengoperasikan lebih dari 158 ribu penerbangan per tahun dan keselamatan penumpang dan awak kami menjadi prioritas," kata juru bicara itu.

1 dari 3 halaman

5 Kecelakaan Pesawat Terparah yang Mengubah Dunia Penerbangan Selamanya

Dream - Dalam hal jumlah korban, kecelakaan pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 Penerbangan JT610 pada Senin pagi, 29 Oktober 2018, lalu menjadi kecelakaan terparah kedua dalam dunia penerbangan Indonesia.

Pesawat Lion Air dengan nomor registrasi PK-AXC yang mengangkut 189 orang itu jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Sebelumnya, kecelakaan pesawat terparah di Indonesia dengan korban terbanyak menimpa maskapai Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia GA-152 rute Jakarta-Medan mengalami kecelakaan pesawat terparah setelah menabrak tebing Gunung Sibolangit pada hari Jumat, 26 September 1997 silam.

Saat itu, pesawat berjenis Airbus A300-B4 tersebut hendak mendarat di Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara. Namun kesalahan komunikasi antara menara kontrol dengan pilot menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung.

Meski terjadi kecelakaan pesawat terparah, namun banyak yang mengakui bahwa melakukan perjalanan dengan pesawat terbang jauh lebih aman daripada jika menggunakan angkutan darat atau laut.

Mengapa terbang dengan pesawat sangat aman? Sebagian karena kejadian kecelakaan pesawat terparah sebelumnya, mendorong perusahaan pembuat pesawat terbang untuk melakukan perbaikan keselamatan penerbangan.

Tidak itu saja, kecelakaan pesawat terparah juga memicu para ahli untuk menciptakan teknologi baru yang bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan kejadian serupa.

Dilansir dari Popular Mechanics, berikut adalah 5 kecelakaan pesawat terparah yang mengubah dunia penerbangan untuk selamanya.

Kecelakaan pesawat terparah yang mengubah dunia penerbangan untuk selamanya

1. TWA Penerbangan 2 dan United Airlines Penerbangan 718

Yang berubah: ATC yang lebih baik dan sistem penghindar tabrakan

Kecelakaan pesawat terparah antara TWA dan United Airlines saat sama-sama mengudara mengubah dunia penerbangan untuk selamanya. Akibat tabrakan dua pesawat berbeda jenis pada tahun 1956 itu, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan dana US$250 juta untuk memutakhirkan sistem air traffic control (ATC) yang nantinya menjadi standar keamanan penerbangan internasional. Kejadian kecelakaan pesawat terparah itu juga melahirkan Federal Aviation Administrastion (FAA) pada tahun 1958 yang sebelumnya bernama Federal Aviation Agency.

Pada tahun 1986, kecelakaan pesawat terparah terjadi lagi yang melibatkan sebuah pesawat pribadi dengan pesawat penumpang DC-9 milik Aeromexico di Los Angeles. Akibat dari kecelakaan pesawat tersebut, FAA meminta pesawat kecil dan pribadi untuk memakai transponder yang bisa memancarkan posisi dan ketinggian kepada ATC. Sementara itu, pesawat penumpang harus dilengkapi dengan penerima sinyal penghindar tabrakan TCAS II yang akan mendeteksi potensi terjadi tabrakan dengan pesawat yang memiliki transponder.

 

2 dari 3 halaman

Tak Ada Lagi Kapten Adalah Tuhan

2. United Airlines Penerbangan 173

Yang berubah: Kerjasama di dalam kokpit

Sebuah pesawat DC-8 milik United Airlines dengan 181 penumpang di dalamnya, berputar-putar di atas bandara selama satu jam karena mengalami masalah pada roda pendaratan. Meskipun sudah diperingatkan pasokan bahan bakar yang berkurang dengan cepat oleh teknisi penerbangan di atas kabin, sang kapten tidak segera memulai pendaratan daruratnya. Akibatnya DC-8 kehabisan bahan bakar dan jatuh di pinggiran kota, menewaskan 10 orang.

Sebagai jawaban dari kasus tersebut, United Airlines mengubah prosedur pelatihan awak kabinnya sehingga melahirkan apa yang sampai sekarang disebut dengan konsep Cockpit Resource Management (CRM). CRM ini mengubah peran 'kapten adalah Tuhan' yang sebelumnya jadi panduan dunia penerbangan tradisional. CRM menekankan kerja tim dan komunikasi di antara para awak pesawat. Dan sejak itu menjadi standar industri dunia penerbangan.

3. Air Canada Penerbangan 797

Yang berubah: Detektor asap dan material tahan api

Kecelakaan pesawat terparah dialami Air Canada Penerbangan 797 ketika gumpalan asap keluar dari toilet belakang pesawat. Segera, asap hitam tebal mulai memenuhi kabin, dan pesawat mulai melakukan pendaratan darurat. Hampir tidak bisa melihat panel instrumen karena asap, pilot mendaratkan pesawat di Cincinnati. Namun tak lama setelah pintu dan pintu darurat dibuka, kabinnya meledak dengan cepat sebelum semua orang bisa keluar. Dari 46 orang yang di dalam pesawat, 23 menjadi korban tewas.

FAA kemudian mengeluarkan aturan bahwa toilet pesawat harus dilengkapi dengan detektor asap dan alat pemadam kebakaran otomatis. Dalam lima tahun, semua bantal kursi pesawat penumpang dipasang lapisan penghalang api. Lantai pesawat juga dipasang lampu untuk menuntun penumpang keluar pesawat jika muncul asap tebal. Pesawat yang dibuat setelah 1988 selalu menggunakan bahan tahan api untuk bagian interiornya.

 

3 dari 3 halaman

Alat Pelacak dan Black Box Pintar

4. Delta Air Lines Penerbangan 191

Yang berubah: Pemutakhiran pendeteksi downdraft dan wind shear

Kecelakaan pesawat Delta Air Lines Penerbangan 191 mendekat untuk mendarat di Bandara Dallas/Fort Worth, sebuah badai/thunderstorm terbentuk di sekitar landasan. Saat mendekati landasan tersebut, Penerbangan 191 terkena microburst (gaya dorong angin ke bawah yang terjadi di dekat permukaan tanah) yang membuatnya terdorong ke bawah sehingga mengalami downdraft (dorongan angin yang kuat ke arah bawah).

Pesawat kehilangan kecepatannya dan terus menukik ke bawah dengan kecepatan tinggi. Penerbangan 191 menghunjam landasan dan terpental beberapa kali. Pesawat sempat menabrak truk pemadam kebakaran dan berputar ke kiri sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak dua tangki air berukuran besar. Akibatnya, 134 tewas dari 163 orang yang ada di dalam pesawat.

Kecelakaan pesawat terparah yang dialami Delta Air Lines ini mendorong NASA dan FAA melakukan riset selama tujuh tahun. Hasilnya, setiap pesawat komersial harus dilengkapi radar pendeteksi downdraft dan wind shear (angin yang berubah arah dan kecepatan secara mendadak dalam waktu singkat) yang akhirnya menjadi standar dunia penerbangan sejak pertengahan tahun 1990an.

5. Malaysia Airlines MH370

Yang berubah: Alat pelacak real time dan kotak hitam pintar (masih dalam pengembangan)

Tidak ada panggilan May Day atau tanda-tanda terjadi masalah ketika Malaysia Airlines Penerbangan 370, yang membawa 239 orang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing, hilang dari layar radar pada 8 Maret 2014. Lebih dari 4 tahun kemudian, MH370 masih merupakan misteri yang paling menyulitkan dunia penerbangan.

Pertanyaan terbesar: Mengapa transponder pesawat seperti dinonaktifkan, membuat MH370 hampir tidak terlihat di layar radar? Beberapa ahli percaya MH370 terbang hingga tujuh jam dengan autopilot sebelum kehabisan bahan bakar dan jatuh di Samudera Hindia.

Yang jelas, para ahli masih dibuat penasaran dan mereka percaya seandainya MH370 dilengkapi dengan alat pelacak real time, pesawat tersebut pasti bisa ditemukan.

Akibat kasus kecelakaan pesawat terparah yang dialami MH370, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional telah memerintahkan semua maskapai penerbangan untuk memasang alat pelacak yang akan memonitor pesawat lebih dekat, terutama yang di atas lautan.

Selain itu, perusahaan pembuat pesawat juga mengembangkan kotak hitam yang akan keluar secara otomatis dan mengapung di permukaan air ketika sebuah pesawat jatuh di lautan.

Beri Komentar
Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-