Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ibadah Haji (Shutterstock.com)
Dream - Informasi yang menyebutkan Arab Saudi tetap menggelar ibadah haji 1441 H/2020 M sempat beredar di media sosial. Dalam informasi yang disebar disebutkan pelaksanaan haji tahun ini dibatasi hanya 20 persen dari kuota normal.
Konsul Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali, membantah informasi tersebut. Dia menegaskan pemerintah Saudi sampai saat ini belum menetapkan keputusannya tentang pelaksanaan ibadah haji untuk musim 2020/1441 H.
" Informasi tentang 20 persen itu tidak benar, belum ada keputusan apapun sampai saat ini," ujar Endang, dikutip dari Kemenag.go.id.
Endang menjelaskan Saudi masih memiliki kasus positif Covid-19 yang tinggi. Jumlah penambahannya bahkan tembus 3.000 kasus per hari.
Menteri Agama Fachrul Razi sebelumnya memutuskan membatalkan pemberangkatan jemaah haji 1441 H. Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan belum stabilnya kondisi akibat pandemi Covid-19 serta belum adanya keputusan dari Saudi terkait penyelenggaraan haji tahun ini.
Selain Indonesia, ada beberapa negara yang juga memutuskan tidak mengirimkan jemaah haji. Seperti Singapura, Malaysia, Mesir, India, Brunei Darussalam, Uzbekistan, dan Afrika Selatan.
Dream - Pemerintah Arab Saudi sampai saat ini masih memperbolehkan dilakukannya ibadah haji. Sejumlah persyaratan kesehatan ketat dibuat demi mengurangi penularan Covid-19.
Indonesia sendiri, melalui Kementerian Agama, mengumumkan kalau tidak akan mengirimkan jemaahnya karena terlalu berisiko. Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir dan hal ini membuat Arab Saudi tengah mempertimbangkan pembatalan ibadah haji 2020.
Bila pembatalan ini dilakukan, maka ini adalah kali pertama dalam sejarah bahwa tidak ada umat Muslim yang naik haji. Pelaksanaan ibadah haji 2020 seharusnya diadakan pada akhir Juli.
" Masalah ini telah dipelajari dengan cermat dan berbagai skenario sedang dipertimbangkan. Keputusan resmi akan dibuat sekitar satu minggu ke depan, " kata seorang pejabat senior Arab Saudi kepada Financial Times melansir New York Post.
Sebelumnya, masalah kesehatan akibat COVID-19 telah menyebabkan pembatalan atau penundaan sejumlah acara besar termasuk Olimpiade di Tokyo dan acara besar lainnya.
Pemerintah Arab Saudi bertindak cepat untuk menerapkan aturan karantina wilayah setelah kasus pertama di negara itu dikonfirmasi pada 2 Maret. Namun, kasus-kasus baru-baru melonjak setelah anjuran tinggal di rumah dilonggarkan.
Ada lebih dari 3.000 kasus harian yang dilaporkan selama enam hari terakhir sementara setidaknya 893 orang telah meninggal karena virus, menurut data Johns Hopkins.
The Financial Times melaporkan bahwa para pejabat mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah kecil penduduk setempat untuk melakukan haji dengan protokol kesehatan yang ketat.
" Semua opsi ada di atas meja tetapi prioritasnya adalah untuk kesehatan dan keselamatan peziarah," kata pejabat Arab Saudi tersebut.
Laporan Ade Nasihudin Al Ansori/ Sumber: Liputan6.com
Dream - Malaysia juga tidak mengirimkan jemaah haji ke Tanah Suci tahun ini akibat pandemi Covid-19. Keputusan ini diambil setelah dua negara tetangganya, Indonesia dan Singapura memutuskan tak memberangkatkan jemaah haji ke Arab Saudi.

Setiap tahun, Malaysia mengirimkan puluhan ribu jemaah ke Mekah dan Madinah untuk ritual ibadah tahunan tersebut. Malaysia berupaya mencegah warganya bepergian ke luar negeri untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19 selama vaksin belum ditemukan.
" Saya harap jemaah dapat bersabar dan menerima keputusan ini," ujar Menteri Agama Malaysia, Zulkifli Mohamad Al Bakri, dikutip dari Aljazeera.com.
Arab Saudi menangguhkan ibadah haji dan umrah hingga pemberitahuan selanjutnya dalam upaya menekan penyebaran Covid-19. Sementara jemaah Malaysia memiliki waktu tunggu hingga 20 tahun untuk dapat menjalankan haji sesuai kuota yang ditetapkan Saudi.
Dalam pernyataan terpisah, Tabung Haji yang merupakan badan pengelola dana jemaah haji menyatakan pembatalan tersebut berdampak pada sedikitnya 31.600 calon jemaah yang dijadwalkan berangkat tahun ini.
Malaysia melaporkan kasus positif Covid-19 sebanyak 8.369 pasien, dengan angka kematian mencapai 118 orang.
Pekan lalu, pembatalan pemberangkatan haji juga diumumkan Menteri Agama Indonesia Fachrul Razi. Sementara beberapa pekan sebelumnya Singapura juga membuat keputusan yang sama.
Sekitar 2,5 juta jemaah dari seluruh dunia akan berkumpul di Mekah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji yang puncaknya jatuh akhir Juli nanti. Musim haji juga memberikan pendapatan yang sangat signifikan kepada Saudi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya