SBY Sindir Kebijakan Presiden Jokowi di Twitter

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 10 Agustus 2015 13:01
SBY Sindir Kebijakan Presiden Jokowi di Twitter
Melalui akun twitternya @SBYudhoyono, mantan presiden ke-enam Indonesia ini mengingatkan Presiden Jokowi.

Dream - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada Minggu, 9 Agustus 2015, berkicau di akun twitter pribadinya. Kali ini, SBY tidak hendak melakukan kuliah tweet (kultweet) politik, melainkan menanggapi langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal pasal pencemaran nama baik.

SBY mengingatkan mantan Gubernur DKI itu agar tidak berlebihan menyikapi pasal yang mengatur penghinaan atau pencemaran nama baik presiden. Melalui akun @SBYudhoyono, SBY menuliskan pandangannya mengenai pasal pencemaran nama baik. Menurutnya, ada unsur subyektivitas dalam pasal itu.

" Pasal penghinaan, pencemaran nama baik & tindakan tidak menyenangkan tetap ada 'karetnya', artinya ada unsur subyektivitas," tulis SBY.

Untuk itu, SBY meminta segenap pihak menggunakan kebebasan secara wajar. Itu karena demokrasi memang menuntut kebebasan bicara dan kritik termasuk kepada Presiden.

" Tetapi, tak harus dengan menghina dan mencemarkan nama baik Presiden. Sebaliknya, siapapun, termasuk Presiden punya hak untuk menuntut seseorang yang menghina dan mencermarkan nama baiknya. Tapi, janganlah berlebihan," tulis SBY.

Dalam kicauan panjang itu, SBY juga bercerita soal pengalamannya selama menjadi presiden. SBY pernah dihina bahkan namanya pernah dituliskan pada pantat kerbau. Meski begitu dia enggan melaporkan tindakan itu.

" Barangkali saya juga justru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi..." tulisnya.

Tetapi, kicauan SBY itu memang tidak menyebut nama Presiden Jokowi. Sebab, SBY tidak secara langsung menautkan kritik dan pandangannya ke akun twitter resmi Jokowi, @jokowi. (Ism) 

1 dari 3 halaman

Kumpulan Cerita Lucu SBY Usai Tak Jadi Presiden

Kumpulan Cerita Lucu SBY Usai Tak Jadi Presiden

 

Dream - Setelah tak lagi menjabat sebagai Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono kini lebih sering menikmati waktu bersama keluarga, sesuatu yang jarang dilakukannya 10 tahun terakhir ini.

Layaknya warga biasa, SBY beserta keluarga mulai menikmati jalan-jalan di tempat keramaian. Bedanya, sekarang SBY dan Ibu Ani berjalan tanpa ada pengamanan super ketat dari petugas Paspampres.

Masyarakat pun bisa dengan bebas bersalaman, berbicara, mengajukan foto bareng hinggaselfie jika bertemu SBY dan keluarganya. Tanpa sungkan SBY pun melayaninya.

Nah, berikut ini momen lucu yang dialami SBY dan keluarga ketika melayani masyarakat yang ingin berfoto bareng. Dari di mal hingga di jalan raya. Simak halaman berikutnya! Kumpulan Cerita Lucu SBY Usai Jadi Presiden. (Ism)

2 dari 3 halaman

Merasa Difitnah, SBY: Doakan Saya Kuat

Merasa Difitnah, SBY: Doakan Saya Kuat

 

Dream - Tudingan pembubaran Petral akibat pemerintahan masa lalu ditanggapi serius mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dirinya pun berharap dukungan dari seluruh rakyat Indonesia menghadapi fitnah tersebut.

" Tuduhan dan fitnah yang disampaikan Menteri ESDM & pihak-pihak tertentu sulit saya terima. Rakyat Indonesia, doakan saya kuat menghadapi," kata SBY dalam akun Twitternya, @SBYudhoyono seperti dikutip Dream, Selasa, 19 Mei 2015.

Dalam kicauan tersebut, SBY membeberkan sejumlah bantahan terhadap tudingan Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Sudirman Said. Dia menegaskan dirinya tak pernah menerima satupun usulan pembubaran Petral.

Tak cuma itu, SBY juga menilai pembelaan yang dilakukannya mungkin takkan mudah. Apalagi dirinya tengah menghadapi pihak yang berkuasa.

" Kebenaran adalah `power` yang masih saya miliki," tegasnya.

Selama menjadi presiden, SBY menegaskan dirinya tidak pernah mengintervensi BUMN manapun. Termasuk dalam urusan tender dan bisnisnya. Satu-satunya pesan yang disampaikannya hanya, " yang penting jangan korupsi," kata SBY.

SBY kembali menegaskan dirinya senantiasa mendukung upaya pemerintah Presiden Jokowi untuk melakukan penertiban.

Tetapi, sambung SBY, dirinya justru mempertanyakan pemerintah Jokowi yang justru terus menyalahkan pemimpin dan pemerintahan sebelumnya. " Popularitas bisa dibangun tanpa menjelekkan pihak lain," kata dia.

3 dari 3 halaman

Curhat SBY 10 Tahun Hidup Penuh Hinaan

Curhat SBY 10 Tahun Hidup Penuh Hinaan

 

Dream - Mantan Presiden Ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal pasal pencemaran yang kembali akan dihidupkan pemerintah Joko Widodo.

SBY menilai demokrasi dan kebebeasan penting namun jangan melampaui batas.

" Demokrasi juga perlu tertib, tapi negara tak perlu refresif," kata SBY dalam akun Twitter resminya, @SBYudhoyono, Minggu, 9 Agustus 2015.

Selama 10 tahun menjabat presiden, SBY mengaku ada ratusan perkataan dan tindakan yang menghina, tak menyenangkan, dan mencemarkan nama baginya.

" Foto resmi Presiden dibakar, diinjak2, mengarak kerbau yg pantatnya ditulisi " SBY" & kata2 kasar penuh hinaan di media & ruang publik *SBY*," kenang SBY dalam akunnya.

Andai SBY menggunakan haknya untuk mengadukan ke polisi, dia memperkirakan akan ada ratusan orang diperiksa dan dijadikan tersangka.

" Barangkali saja juga justru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi. Konsentrasi saya akan terpecah," katanya.

Dari pengamatannya, SBY mengatakan tindakan-tindakan penghinaan semacam itu sudah hampir tidak ada. Unjuk rasa disertai penghinaan kepada presiden, maupun berita kasar di media menurut SBY sudah tak ada.

" Ini pertanda baik. Perlakuan " negatif" berlebihan kpd saya dulu tak perlu dilakukan kpd Pak Jokowi. Biar beliau bisa bekerja dgn baik," kata SBY.

Dengan sistem demokrasi, setiap penduduk memang diakui bebas melakukan kritik termasuk kepada presiden. Namun hal itu tidak harus dilakukan dengan menghina dan mencemarkan nama baiknya.

Sebaliknya, presiden juga bisa menunaikan haknya untuk menuntut seseorang yang menghina dan mencemarkan nama baiknya. " Tapi janganlah berlebihan," ujar SBY.

Seraya berpesan pasal penghinaan, pencemaran nama baik, dan tidak tidak menyenangkan tetap ada karetnya. Artinya, ada unsur subyektivitasnya.

Beri Komentar