Sebar Hoaks Jatuhnya Lion Air, Wanita Ini Ditangkap Polisi

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 4 November 2018 17:39
Sebar Hoaks Jatuhnya Lion Air, Wanita Ini Ditangkap Polisi
Nasib tersangka...

Dream - Seorang perempuan berinisial A, 30 tahun, diamankan polisi. Dia menyebarkan berita hoaks tentang kecelakaan pesawat Lion Air JT610 lewat Facebook atas nama Anisa Repa.

Polisi menangkap A di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat pada Jumat, 2 November 2018 pukul 21.00 WIB.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan A mengaku mengunggah konten tersebut hanya ungkapan belasungkawa ke korban kecelakaan Lion Air. Tapi, caranya salah karena potongan video yang diunggah tak sesuai.

" Dia memposting potongan video yang tidak benar tentang jatuhnya pesawat Lion Air JT610 tujuan Jakarta-Pangkalpinang, setelah melihat berita di televisi," kata Dedi, dikutip dari Liputan6.com, Minggu 4 November 2018.

Polisi tidak menjerat A dengan Undang-undang ITE namun dengan Pasal 14 ayat 2 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Berikut bunyi pasal yang dimaksud.

" Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun."

Sumber: Liputan6.com/Nafiysul Qodar

 

1 dari 3 halaman

Berikut 7 Penumpang Lion Air JT610 yang Diidentifikasi Tim DVI

Dream - Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri, Kramat Jati, Jakarta berhasil mengidentifikasi tiga penumpang pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Laut Jawa, Sabtu, 3 November 2018.

Kepala Bidang DVI Polri, Kombes Lisda Cancer mengatakan, tiga penumpang Lion Air JT610 yang berhasil diidentifikasi di antaranya, Endang Sri Bagusnita, 20 tahun; Wahyu Susilo, 31 tahun; dan Fauzan Azima, 25 tahun. Lisda menyebut, tiga penumpang pesawat nahas itu teridentifikasi berkat bantuan rekam sidik jari dan medis.

" Endang beralamat di Kedaung, Tangerang, Banten. Teridentifikasi melalui sidik jari dan medis," kata Lisda dikutip dari Liputan6.com, Minggu, 4 November 2018.

Sementara Wahyu teridentifikasi sebagai warga Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Adapun, Fauzan teridentifikasi beralamat di Balai Mansiro, Sumatera Barat.

Dengan tiga penumpang ini, total tim DVI berhasil mengidentifikasi sebanyak tujuh penumpang. Empat penumpang sebelumnya yang berhasil diidentifikasi yaitu, Candra Kirana, 29 tahun; Monni, 41 tahun; Hizkia Jorry Saroinsong, 23 tahun; dan Jannatun Cintya Dewi, 24 tahun.

Sumber: Liputan6.com/Nanda Perdana Putra

 

2 dari 3 halaman

Tiga Jasad Penumpang Lion Air JT610 Teridentifikasi

Dream - Tiga penumpang Lion Air JT610 teridentifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri. Identitas jasad tiga penumpang itu diputuskan dalam sidang rekonsiliasi yang digelar pada 16.00 WIB.

" Ada body part yang dinyatakan teridentifikasi," kata Kepala RS Polri, Kombes Pol Musyafak, di Jakarta, Jumat 2 November 2018.

Tiga penumpang yang teridentifikasi tersebut masing-masing bernama Candra Kirana, 29 tahun; Monni, 41 tahun; dan Hizkia Jorry Saroinsong, 23 tahun.

Dari tiga penumpang itu, Hizkia ditemukan melalui bantuan sidik jari yang dilacak oleh Inafis Mabes Polri.

Kepala Pusat Inafis Bareskrim Polri, Brigjen Pol Hudi Suryanto, menyatakan, identifikasi berhasil dipenuhi karena adanya kecocokan tiga sidik jari milik Hizkia. Tim Inafis menggunakan tiga sidik jari telunjuk, jempol, dan kelingking.

Menurut Hudi, pada sidik jari jempol terekam 14 titik persamaan. " Yang berarti sudah melebihi 12 titik yang menjadi keharusan. 12 titik ini jadi ukuran, kami yakin ini identik," ujar Hudi.

Sebelumnya, TIM DVI telah mengidentifikasi satu penumpang atas nama Jannatun Cintya Dewi. Jasad perempuan 24 tahun tersebut telah dimakamkan di Sidoarjo, Jawa Timur.

3 dari 3 halaman

Mengenal Dekompresi, Kondisi yang Renggut Nyawa Penyelam Pencari Lion Air

Dream - Seorang penyelam tim Basarnas bernama Syachrul Anto dilaporkan meninggal saat bertugas mencari korban Lion Air di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Jumat 2 November kemarin.

Dansatgas SAR, Kolonel Laut (P) Isswarto, mengatakan penyelam yang merupakan anggota dari Indonesia Diver Rescue Team itu meninggal diduga akibat mengalami dekompresi.

" Diduga dekompresi karena tekanan. Harusnya naik pelan-pelan. Lima meter berhenti dulu sampai muncul (ke permukaan). Dia mungkin langsung," kata Isswarto saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu 3 November 2018.

Bagi penghobi olahraga selam, kata dekompresi mungkin terdengar tidak asing lagi. Namun lain halnya dengan orang awam yang mungkin tidak tahu apa itu dekompresi.

Dikutip dari Alodokter.com., dekompresi adalah penyakit atau kondisi yang mengancam jiwa akibat tubuh mengalami perubahan tekanan, baik air atau udara, yang terjadi terlalu cepat.

Bagi seorang penyelam, dekompresi ini selalu mengintai kapan saja jika tidak hati-hati ketika naik ke permukaan.

Ketika seorang sedang menyelam, maka dekompresi akan muncul jika proses kembali menuju ke permukaan tidak dilakukan secara bertahap.

Untuk kasus Syachrul, dia kemungkinan tidak menerapkan safety stop yaitu berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu, sesuai aturan dasar keselamatan menyelam.

Pada dasarnya, tubuh perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan yang ada di sekitarnya.

Jika perubahan tekanan terjadi terlalu cepat, nitrogen yang terkandung dalam darah akan membentuk gelembung-gelembung yang bisa menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ.

Pembuluh darah atau jaringan organ yang tersumbat itu dapat menimbulkan rasa sakit dan gejala lain jika tidak segera ditangani dengan baik.

Beri Komentar