Sebarkan Moderasi Beragama, 50 Guru Agama Dikirim ke Pedalaman

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Senin, 15 Juli 2019 19:00
Sebarkan Moderasi Beragama, 50 Guru Agama Dikirim ke Pedalaman
Selama 12 bulan para guru agama Islam ini akan menyebarkan paham Islam yang moderat.

Dream - Sebanyak 50 guru Pendidikan Agama Islam dikirim ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, Senin 15 Juli 2019. Mereka bertugas mengajar dan menyebarkan moderasi beragama.

" Guru agama ikut menyebarkan tentang moderasi beragama, yaitu beragama secara moderat, tidak liberal dan radikal," ujar Sekretaris Direektorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Imam Safei, dikutip dari kemenag.go.id.

Safei mengingatkan, seorang guru diharapkan tidak terpengaruh bahkan terlibat dalam politik praktis. " Saya minta Kepala Bidang dan Kepala Seksi mengawal guru bina kawasan di daerah," ucap dia.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Ditjen Pendais Kemenag, Nasri, mengatakan, 50 guru yang mendapat tugas mengajar di wilayah perbatasan itu terdiri dari peserta lama dan peserta baru.

" Ada 50 guru bina kawasan yang terbagi dari 25 peserta lama yaitu peserta tahun 2017/2018, dan peserta baru yang mendaftarkan diri pada tahun ini," kata Nasri.

Para guru tersebut tinggal dan mengajar perbatasan selama 12 bulan. Mereka akan dikirim ke 47 Kabupaten yakni, Aceh Singkil, Pandeglang, Seluma, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Bengkayang, Sambas, Hulu Sungai Utara, Seruyan, Mahakam Ulu, Berau, Nunukan, Lampung Barat, Lampung Pesisir Barat, Kepulauan Aru, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, Sumba Timur, Belu.

Kemudian Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Ende, Sorong, Polewali Mandar, Janeponto, Banggai, Buol, Toli-Toli, Banggai Laut, Donggala, Konawe, Konawe Kepulauan, Bombana, Talaud, Solok Selatan, Pasaman Barat, Musi Rawas utara, Nias, Nias Utara, Nias Selatan.

1 dari 5 halaman

Kemenag Uji Sahih Terjemahan Alquran

Dream - Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama akan menyelenggarakan Ijtimak Ulama Alquran Tingkat Nasional. Kepala LPMQ, Muchlis M Hanafi mengatakan, ijtimak yang digelar di Bandung, 8 hingga 10 Juli 2019, ini mengusung tema “ Uji Sahih Terjemahan Al-Qur’an Edisi Penyempurnaan”.

Muchlis mengatakan, ada dua agenda besar yang akan dibahas pada Ijtimak Ulama Al-Qu'ran Tingkat Nasional. Dia menyebut, agenda pertama yaitu seminar penerjemahan Alquran. Seminar ini didiskusikan kajian seputar penerjemahan Alquran dan upaya penerjemahan Alquran.

Sejumlah narasumber yang akan hadir yaitu, Thomas Djamaluddin, Zainul Majdi, Dadang Sunendar, dan Said Agil al-Munawwar.

“ Agenda kedua adalah pembahasan terjemahan Alquran Kementerian Agama Edisi Penyempurnaan juz 21 hingga juz 30. Ini merupakan kelanjutan dari Mukernas Ulama Alquran tahun 2018 yang telah membahas juz 1 hingga juz 20,” kata Muchlis melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 2 Juli 2019.

Muchlis menyebut, penyempurnaan terjemah Alquran merupakan rekomendasi dari Mukernas Ulama Alquran 2015.

2 dari 5 halaman

Apa yang Disempurnakan?

Pelaksanaan penyempurnaan terjemah ini, kata Muchlis, dilakukan melalui lima rangkaian kegiatan. Pertama, konsultasi publik ke komunitas-komunitas tertentu, mulai dari perguruan tinggi, MUI, dan pesantren untuk menjaring masukan dan saran konstruktif untuk penyempurnaan terjemahan Alquran.

Kedua, konsultasi publik secara daring melalui portal konsultasi publik. Ketiga, penelitian lapangan terkait penggunaan terjemahan Alquran di masyarakat.

Keempat, sidang reguler anggota tim pakar kajian. Kelima, uji publik atau uji sahih hasil kajian dan penyempurnaan terjemahan Alquran melalui forum ilmiah yang dihadiri para ulama dan pakar Alquran dari pelbagai provinsi di Indonesia.

“ Ada beberapa aspek yang disempurnakan, di antaranya aspek bahasa, substansi atau makna, dan konsistensi,” ucap dia.

Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional akan diikuti 110 peserta, diantaranya para ulama, akademisi, dan pemerhati kajian tafsir dan ilmu Alquran dari unsur Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dosen Perguruan Tinggi Islam, Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren, Asosiasi Ilmu Al-Qu'ran, dan Pusat Studi Al-Qur'an.

“ Ijtimak Ulama Al-Qur’an Tingkat Nasional ini diharapkan menjadi sarana uji publik atau uji sahih terjemah Alquran edisi penyempurnaan. Kegiatan ini juga diharapkan menghasilkan rekomendasi sebagai panduan dan bahan pertimbangan untuk kajian Alquran di masa yang akan datang,” ujar dia.

3 dari 5 halaman

Kemenag Kembangkan Masjid Ramah Disabilitas dan Anak

Dream - Kementerian Agama berencana mengembangkan masjid ramah disabilitas dan anak. Rencana ini digagas menyusul sudah berjalannya program pengadaan Alquran dan kitab fikih braile.  

Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin, menyatakan program masjid ramah disabilitas dan anak sudah masuk dalam rancangan anggaran 2019-2020. Menurut dia, program ini ditargetkan mulai berjalan tahun depan.  

" Kita sudah mengadakan Alquran braile, kemudian sekarang kita cetak fikih braile dan seterusnya," kata Amin, dilaporkan Bimas Islam, Selasa, 25 Juni 2019.

Amin mengatakan gagasan masjid ramah disabilitas muncul atas keprihatinan banyaknya kelompok penyandang disabilitas yang diusir saat hendak memasuki masjid. Alasannya bermacam-macam, mulai kursi roda yang tidak bersih dan lain-lain. 

" Karena yang masuk masjid tidak semua normal. Diantaranya tadi yang saya katakan, biasanya karena alasan kursi roda mereka tidak bersih, oleh pengurus masjid dilarang masuk," kata Amin. 

Salah satu fokus yang ingin dicapai Bimas Islam dalam program masjid ramah disabilitas pengadaan layanan kursi roda untuk wudhu

Selain itu, hal lain yang juga menjadi perhatian Bimas Islam yaitu menjadikan masjid sebagai lokasi ramah bagi anak-anak. Menurut Amin, salah satu kriteria masjid ramah anak yaitu adanya fasilitas tempat bermain.

4 dari 5 halaman

10 Masjid Dipantau

Sebagai langkah awal, Bimas Islam sejauh ini telah menetapkan 10 masjid sebagai percontohan pada 2019. Selanjutnya, Gerakan Masjid Ramah Anak menjadi program bersama antara Kementerian Agama dan Dewan Masjid Indonesia.

" Nanti ada tempat khusus bagi anak anak yang masih di bawah umur itu. Supaya mereka tidak mengganggu masjid, tapi ada tempat khusus, difasilitasi, jadi nanti ada yang khusus menjaga anak-anak sementara orangtuanya beribadah di dalam," kata Amin.

Amin mengatakan sangat penting bagi anak untuk mengenal tempat ibadah sejak dini. Dia juga menyampaikan keprihatinan atas banyaknya remaja yang tidak tertarik mengurus masjid dan sibuk dengan urusannya masing-masing.

" Jangankan orangtuanya, pengurus masjidnya mengusir anak-anak. Kan nggak boleh. Ajaklah anak itu pergi ke masjid. Pergi mengenal tentang masjid. Itu penting menurut saya," ujar dia.

5 dari 5 halaman

Kemenag dan MUI Bahas Penyatuan Kalender Hijriah

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mewacanakan penyatuan kalender hijriyah dan moderasi beragama. Upaya ini merupakan aspirasi dan kehendak banyak kalangan untuk memiliki sebuah kalender hijriah yang menyatukan umat.

" Khususnya dalam kita menjalani ibadah, terkait dengan penetapan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah," kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Selasa 21 Mei 2019.

Lukman berharap, MUI dapat menggelar halaqah dan mudzakarah untuk mengumpulkan para ahli falaq guna membicarakan wacana ini.

Sementara itu, Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin, mengapresiasi niat pemerintah tersebut. Wacana dan proses ini, kata dia, berlangsung sejak lama. 

Penentuan awal bulan yang lazim di Indonesia biasanya menggunakan wujudul hilal dan imkanur rukyat. " Kita mungkin tidak bisa menyatukan, tapi kita bisa lebih mendekatkan dua pendekatan yang ada," kata Ma'ruf.

Selama ini, Kemenag kerap berdialog dengan ahli astronomi, falaq, dan kader muda Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan ormas lain yang ingin penyatuan ini. Kemenag ingin menyelesaikan perbedaan ini dengan pendekatan ilmiah.

Beri Komentar
Tips Jitu Menyeimbangkan Karier dan Pendidikan Ala Tiffani Afifa