Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Raja Faisal Bin Abdulaziz Al Saud (kiri) Bersama Presiden AS Richard Nixon, 1971 (Foto: National Archive Catalog)
Dream - 45 tahun yang lalu, tepatnya pada 25 Maret 20 1974, Arab Saudi menghadapi kabar mengejutkan. Sang Raja, Faisal bin Abdulaziz Al Saud ditembak keponakannya, Faisal bin Musaid.
Peristiwa penembakan itu terjadi di suatu pertemuan. Saat itu, Raja Faisal sedang menggelar openhouse agar warga dapat masuk dan mengajukan petisi.
Sebelum prosesi dimulai, terlihat Pangeran Faisal berbincang dengan perwakilan Kuwait di ruang tunggu. Awal pertemuan itu berjalan biasa.
Raja Faisal mencium Pangeran Faisal, yang disebut baru saja kembali dari Amerika Serikat. Tapi, pada saat bersamaan, Pangeran Faisal mengambil pistol dan menembak Raja Faisal.
Dilaporkan BBC, tembakan pertama mengenai dagu raja sementara peluru kedua mengenai telinganya. Tembakan itu sontak membuat pengawal Raja Faisal bereaksi. Pengawal itu memukul Pangeran Faisal dengan pedang yang masih tersarung.
Niat untuk membunuh Pangeran Faisal terhenti saat Menteri Perminyakan, Zaki Yamani berteriak agar Pangeran Faisal tak dibunuh.
Raja Faisal segera dibawa ke rumah sakit. Tetapi, perawatan medis tak menolongnya.
The Guardian mendeskripsikan, pembunuhan itu dilakukan oleh `pria yang tidak waras`.
Tetapi, setelah persidangan berlangsung, Pangeran Faisal dinyatakan sehat. Dia mendapat hukuman mati. Dia dipenggal di lapangan umum di Riyadh.
Usai kematian itu, salah satu teori mengenai motif penembakan Raja Faisal yaitu balas dendam. Pangeran Faisal konon membunuh Raja Faisal untuk menuntaskan kematian Pangeran Khalid bin Musaid.
Pangeran Khalid ditembak mati polisi karena diduga membuat protes dengan kekerasan karena upaya reformasi Arab Saudi yang dibuat Raja Faisal. Seperti diketahui, Raja Faisal dianggap sebagai raja yang memodernisasi Arab Saudi dengan diizinkannya televisi dan pembangungan sejumlah fasilitas agama.
Dia juga dikenal menghilangkan perbudakan. Melalui dekrit, Raja Faisal mengeluarkan penghapusan total perbudakan pada 1962.
Sebanyak 1.682 budah dibebaskan. Arab Saudi menanggung biaya pelepasan budak tersebut dengan biaya US$2.000, atau setara Rp28,4 juta per orang.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya