Dipolisikan, Wanita Ngaku Hamil Korban Pemukulan Satpol PP Terancam 6 Tahun Bui

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 23 Juli 2021 14:00
Dipolisikan, Wanita Ngaku Hamil Korban Pemukulan Satpol PP Terancam 6 Tahun Bui
Wanita itu dipukul oleh anggota Satpol PP Gowa saat terjadi razia PPKM. Dia mengaku hamil.

Dream - Akademisi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Hasnan Hasbi, mengatakan, wanita pemilik kafe yang menjadi korban pemukulan anggota Satpol PP Kabupaten Gowa bisa diperkarakan apabila pengakuannya sedang hamil ternyata tidak benar alias bohong.

Dia menyebut pengakuan kehamilan korban menjadi pemicu kasus ini menjadi sorotan nasional.

" Pengakuan hamil itu bergelinding hingga menjadi isu nasional. Ketika itu tidak benar, itu menjadi keterangan palsu," kata Hasnan, dikutip dari rakyatku.com, Jumat 23 Juli 2021.

1 dari 8 halaman

Perlu Pertanggungjawaban Keterangan Tiap Pihak

Hasnan meyatakan, pemukulan yang dilakukan oknum satpol PP Gowa tidak bisa dibenarkan dan harus dipertanggungjawabkan melalui proses hukum yang adil.

" Kita tidak membahas penganiayaan. Penganiayaan murni pidana dan harus dipertanggungjawabkan meski asbabun nuzulnya adanya ketersinggungan," kata dosen Fakultas Hukum UMI ini.

Namun terkait keterangan soal kehamilan korban, menurutnya tetap harus dibuktikan.

" Tetapi aparat penegak hukum tidak boleh tinggal diam dengan keterangan atau statement (hamil) yang menjadi isu liar yang disampaikan oleh korban," kata Hasnan.

" Kenapa? Karena kronologi perbuatan terlapor tidak terpisah dengan keterangan saksi pelapor/korban agar semua keterangan-keterangan dapat dipertanggungjawabkan," imbuhnya.

2 dari 8 halaman

Terancam 6 Tahun Penjara

Lebih jauh Hasnan mengatakan, jika kehamilan korban tidak bisa dibuktikan secara medis maka hal tersebut dapat merugikan banyak pihak. Bahkan katanya, bisa melanggar ketentuan hukum.

“ Siapa yang dirugikan? Ya pembaca berita, dalam hal ini masyarakat yang akhirnya berasumsi liar akibat validitas kebenarannya belum teruji,” ungkap Hasnan.

“ Ketika keterangan yang diterima masyarakat melalui media bahwa korban hamil ternyata tidak benar, maka berita itu termasuk keterangan palsu atau berita hoax. Itu bisa dikenakan UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 28 ayat 2 tentang berita bohong dengan ancaman pidana enam tahun penjara dan atau denda Rp6 miliar,” kata Doktor hukum lulusan Universitas Tarumanegara Jakarta ini.

3 dari 8 halaman

Mengundang Huru-Hara

Hasnan juga mengingatkan, penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian tidak perlu menunggu laporan polisi karena keterangan korban perlu pertanggungjawaban.

“ Itu delik biasa. Polisi tidak perlu laporan karena masyarakat yang dirugikan. Tidak perlu aduan untuk memprosesnya. Bukan media yang keliru, tapi sumber keterangan, yakni korban yang dianggap tidak menyampaikan keterangan yang tidak benar atau hoax karena validitas kehamilan belum bisa dibuktikan,” paparnya.

“ Akibatnya, itu mengundang huru-hara dan ganggu ketentraman di masyarakat. Keterangan korban (hamil) harus dipertanggungjawabkan,” kata Hasnan Hasbi menerangkan.

Sementara, Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Gowa, Ajun Komisaris Polisi Mangatas Tambunan, mengatakan organisasi masyarakat (ormas) Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulsel melaporkan korban pemukulan Satpol PP Gowa karena dituding telah menyebarkan berita bohong terkait kehamilannya.

" Iya, kemarin mereka memasukkan pengaduannya," kata Mengatas dikutip dari Merdeka.com.

Menurut Mangatas, BMI Sulsel yang diketaui Muhammad Zulkifli S menuding pasutri pemilik kafe Ivan Riana di Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Gowa, berbohong di media sosial (medsos). Unggahan korban di medsos viral dan bahkan disinggung oleh Presiden Joko Widodo.

Sementara itu, Zulkifli S mengaku melaporkan Nur Halim dan Amriana karena menuding pasutri tersebut telah menyebarkan berita bohong soal kehamilan. Akibat unggahan pasutri tersebut, kata Zulkifli, membuat geger di medsos.

" Berdasarkan hasil medis dia kan negatif (hamil). Ucapan suaminya di medsos kalau istrinya hamil ini sudah tidak benar," kata dia.

Sumber: rakyatku.com

4 dari 8 halaman

Fakta Mengejutkan Satpol PP yang Pukul Ibu Hamil Pemilik Warkop hingga Kontraksi

Dream - Kasus dugaan pemukulan yang dilakukan oleh anggota Satpol PP Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, membuat banyak orang merasa prihatin. Video peristiwa itu tersebar ke media sosial.

Peristiwa itu terjadi saat tim gabungan melakukan patroli untuk menertibkan pedagang yang masih buka pada malam hari, Rabu 14 Juli 2021. Selama PPKM, memang aktivitas masyarakat dibatasi untuk menekan penularan Covid-19.

Saat itu, petugas gabungan mendapati salah satu warung kopi yang masih buka pada malam hari. Warung itu juga menyalakan musik dengan cukup keras. Saat razia itu, warkop tersebut membuka satu bagian pintu saja. Tidak ada satu pun pengunjung.

Namun, saat petugas datang sudah terlihat ketegangan. Petugas meminta pemilik warkop menutup total kafe mereka. " Katanya melarang keramaian, tapi tadi masuk rumah, ramainya luar biasa," kata pria pemilik kafe.

Salah satu anggota Satpol PP yang diketahui bernama Mardani Hamdan meminta surat izin usaha kepada pemilik kafe itu, sembari mengatakan bahwa dirinya adalah anggota Satpol PP yang memilik wewenang.

" Saya Satpol, mana izinmu? Saya punya kewenangan. Tadi kau bilang saya tidak punya kewenangan, saya Satpol. Mana izinnya? Saya tutup ini kalau tidak ada izinmu," kata Mardani kepada istri pemilik kafe.

" Santai pak, perempuan sedang hami itu, santai pak," kata sang suami kepada Mardani.

5 dari 8 halaman

Lakukan Penganiayaan

Keadaan yang terus memanas membuat emosi Mardani memuncak hingga akhirnya menghadiahi bogem mentah kepada pria pemilik kafe. Sang istri yang juga naik pitam melihat kejadian itu kemudian berusaha membela suaminya, Mardani kemudian juga ikut memukul istri pemilik kafe.

" Kurang ajar dia memukul, saya baik-baik ya tapi anda memukul. Tunggu ya saya lapor," kata pemilik kafe kepada Mardani.

Para petugas lain kemudian berusaha melerai Mardani dan sepasang suami istri pemilik kafe yang terlihat bertengkar. Tak lama berselang para petugas gabungan pun meninggalkan lokasi kejadian.

 

6 dari 8 halaman

Terkuak Fakta Baru Wanita Mengaku Hamil yang Dipukul Satpol PP, Ternyata...

Dream - Video pemukulan Satpol PP kepada seorang wanita disebut hamil di Gowa, Sulawesi Selatan, viral di media sosial. Wanita tersebut bahkan dikabarkan mengalami kontraksi ketika melaporkan kejadian yang dialaminya ke polisi.

Tetapi, sebuah kecurigaan muncul, wanita itu diduga tidak hamil. Akun Instagram @makassar_iinfo mengunggah video pengakuan wanita tersebut. Dalam video itu, dia mengatakan tidak berkenan diperiksa dokter kandungan.

Wanita itu mengaku perutnya kadang membesar. Namun, tidak lama kembali kempes. Dia juga mengatakan punya pengobatan sendiri lewat tukang urut. Wanita itu mengaku tak pernah ke dokter.

" Masalahnya ini pengobatan saya sendiri. Memang tidak bisa dijangkau dengan pikiran logika," kata dia.

7 dari 8 halaman

Disebut Tak Hamil

Kepala Bidang Komunikasi Kabupaten Gowa, Arifuddin Zaeni, menegaskan, wanita tersebut tidak hamil. Dia membantah pernyataan suami wanita itu yang diketahui bernama Ivan, 24 tahun, yang menyebut istrinya hamil 9 bulan.

Arifuddin mendasarkan pernyataannya pada penolakan wanita yang diketahui bernama Amriana itu untuk dites kehamilan. Dia pun tegas wanita tersebut tidak hamil

" Dia tidak hamil. Waktu mau dites USG, dia tidak mau. Ini perempuan tidak hamil," kata Arifuddin.

Dia mengaku heran Amriana tidak mau dites USG. Sementara tes plano tidak menunjukkan adanya gejala kehamilan.

" Hasil tes plano tidak menunjukkan gejala hamil. Ketika mau tes lanjutan USG, yang bersangkutan tidak mau dites USG. Artinya apa?" kata dia.

Namun demikian, bagaimanapun kondisi wanita itu, tentu kekerasan dalam menegakkan aturan juga tidak dibenarkan.

Beri Komentar