Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Ilmuwan China Ungkap Antibodi Vaksin Sinovac Melemah 6 Bulan Usai Suntikan Kedua

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 27 Juli 2021 11:01
Ilmuwan China Ungkap Antibodi Vaksin Sinovac Melemah 6 Bulan Usai Suntikan Kedua
Studi tersebut merekomendasikan suntikan booster untuk menguatkan respon kekebalan.

Dream - Studi terkini mengenai kemampuan vaksin Sinovac dalam menghasilkan antibodi terhadap Covid-19 mendapat temuan mengejutkan. Antibodi vaksin tersebut ternyata mengalami pelemahan setelah 6 bulan usai suntikan dosis kedua sehingga diperlukan dosis ketiga untuk menguatkan respons kekebalan.

Studi ini digelar bersama antara Otoritas Pengendalian Penyakit di Jiangsu, Sinovac, serta institusi China lainnya. Sementara hasilnya dipublikasikan pada Minggu.

Studi itu didasarkan pada sampel darah yang dikumpulkan dari partisipan yang sehat usia 18-59 tahun. Seluruhnya belum pernah menjadi relawan penelitian lain. Total sebanyak 540 orang telah diberikan suntikan ketiga. Tetapi hanya 271 relawan yang dimasukkan dalam laporan.

Ini merupakan studi pertama mengenai suntikan booster untuk vaksin China. Sinovac dan BUMN farmasi China Sinopharm yang vaksinnya telah disetujui WHO untuk penggunaan darurat, sedang sama-sama melakukan kajian mengenai suntikan booster atau penguat.

 

1 dari 3 halaman

Hanya 16,9% yang Anibodinya Masih Kuat

Hanya 16,9 persen hingga 35,2 persen peserta yang masih memiliki tingkat antibodi cukup kuat usai enam bulan setelah menerima dosis kedua. Interval yang lebih lama untuk tiga dosis dapat memicu respons imun yang lebih kuat.

Data studi itu menunjukkan booster yang diberikan enam bulan setelah dosis kedua mampu menghasilkan respons kekebalan yang jauh lebih baik. Bahkan hampir tiga kali lebih kuat dibandingkan suntikan ketiga yang diberikan empat pekan usai suntikan kedua.

Penelitian ini tidak menguji antibodi terhadap varian yang lebih menular. Perusahaan mengatakan studi laboratorium awal menunjukkan kapasitas penetralan vaksin terhadap varian termasuk strain Delta turun dibandingkan dengan virus yang lebih umum.

Sementara suntikan booster mungkin penting untuk mencegah orang terinfeksi oleh virus corona, program vaksinasi China saat ini memprioritaskan mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) daripada memberikan suntikan booster, dikutip dari Market Watch.

2 dari 3 halaman

China Kembangkan Booster Untuk Vaksin Covid-19 Sinopharm dan Sinovac

Dream - China disebut tengah mengembangkan dosis booster (penguat) bagi orang-orang yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 menggunakan Sinopharm dan Sinovac. Dua vaksin produksi China mendapat tudingan kurang efektif menghadapi varian delta yang sedang melanda seluruh dunia.

Perusahaan farmasi berbasis di Shanghai, Fosun Pharmaceutical telah bermitra dengan BioNTech untuk mengembangkan vaksin booster mRNA. Suntikan tersebut saat ini sedang dalam tahap administrasi menyusul tinjauan panel ahli yang dilakukan oleh regulator obat China.

Booster yang akan diberi nama merek Comirnaty akan masuk tahap produksi uji coba pada akhir Agustus. Nantinya vaksin ditawarkan secara gratis kepada orang-orang yang telah menerima suntikan Sinopharm dan Sinovac.

Direktur Pusat Penelitian Infeksi Virus, Shih Shin-ru, mengatakan pengembangan suntikan booster merupakan pukulan bagi Pemerintah China yang telah menggembar-gemborkan efektivitas vaksinnya.

" Saya pikir para ilmuwan di China juga menyadari fakta rendahnya antibodi dalam serum vaksin Sinovac atau Sinopharm. Mereka mungkin menyarankan Pemerintah China untuk memberikan suntikan lain sebagai pendorong," kata Shin-ru.

3 dari 3 halaman

Sinopharm dan Sinovac Dianggap Kurang Efektif

Pembicaraan tentang vaksin booster di China muncul setelah sebuah penelitian di Hong Kong yang diterbitkan di The Lancet pada 15 Juli menemukan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech meningkatkan antibodi 10 kali lebih banyak daripada vaksin Sinovac.

Para peneliti mengatakan tingkat antibodi pada 63 peserta yang menerima suntikan Pfizer meningkat secara substansial setelah dosis pertama. Kemudian meningkat lagi setelah dosis kedua vaksinasi.

Sebagai perbandingan, tingkat antibodi untuk 30 petugas kesehatan yang menerima suntikan Sinovac memiliki konsentrasi antibodi yang rendah setelah dosis pertama. Kemudian meningkat menjadi konsentrasi sedang setelah dosis kedua.

Dalam studi lain yang diterbitkan pada medRxiv Senin, para peneliti mendapat temuan vaksin Covid-19 Sinopharm memiliki respons antibodi yang lebih lemah terhadap varian Delta.

Menurut para ilmuwan, tingkat antibodi pada orang yang diberikan suntikan Sinopharm menunjukkan pengurangan 1,38 kali lipat pada varian Delta dibandingkan dengan strain asli Covid-19. Studi ini juga menemukan vaksin Sinopharm menunjukkan penurunan kemampuan antibodi 10 kali lipat pada orang terinfeksi varian Beta, dikutip dari International Business Times.

Beri Komentar