PBNU: Pandemi Corona, Sholat Tarawih Selama Ramadan di Rumah Masing-Masing

Reporter : Amrikh Palupi
Sabtu, 4 April 2020 13:25
PBNU: Pandemi Corona, Sholat Tarawih Selama Ramadan di Rumah Masing-Masing
Ini isi lengkap dari surat edaran PBNU.

Dream - Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri akan datang tak lama lagi. Namun pandemi virus corona di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Hingga kini bahkan pasien Covid-19 terus meninggat.

Untuk itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat edaran terkait Ibadah Ramadan. Organisasi kemasyarakatan itu mengimbau masyarakat, khususnya warga Nahdliyin, untuk melakukan ibadah di rumah masing-masing selama Ramadan dan Idul Fitri untuk menghindari penyebaran virus corona.

Dalam surat edaran itu, PBNU meminta kepada seluruh pengurus wilayah hingga ranting, lembaga badan otonomi, serta Nahdliyin dan umat Islam pada umumnya untuk tetap melakukan ibadah wajib dan ibadah lainnya.

Selain itu, untuk menjalankan sholat Tarawih selama bulan Ramadan dan sholat Idul Fitri selama pandemi Covid-19, agar dilaksanakan di rumah masing-masing atau sesuai protokol pencegahan penyebaran Covid-19 yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah masing-masing.

 Surat edaran PBNU 1© Surat edaran PBNU 1

" Kepada seluruh warga Nadlatul Ulama dan Umat Islam pada umumnya agar seantiasa melaksanakan peribadatan wajib dan meningkatkan amaliyah, berupa taqorrub kepada Allah SWT dengan memperbanyak amalan sunnag seperti shodaqog, membaca alquran, mujahadah, menajalankan doa untuk para leluhu serta berbagai amaliyah dan ibadah lainnya," demikian isi surat Edaran PBNU, dikutip dari Jatimtimes.com, Sabtu 4 April 2020.

" Termasuk menjalankan sholat tarawih selama bulan Ramadhan dan sholat idul fitri selama pandemi Covid-19 di rumah masing-masing atau sesuai protokol pencegahan penyebaran Cvid-19 yang ditetapkan oleh pemerintah usat dan ppemerintah Daerah masing-masing," imbuhnya.

 Surat edaran PBNU 2© Surat edaran PBNU 2

Tak hanya itu, surat edaran PBNU meminta seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama membentuk Gugus Tugas NU Peduli Covid-19. Alasannya untuk memprioritaskan kesehatan dan informasi tentang Covid-19 di seluruh wilayah.

PBNU juga meminta agar anggota diseluruh wilayah meningkatkan silaturahmi dan hubungan sosial antara sesama tetap dijaga saat pendemi Covid-19 di Indonesia. PBNU juga ingin seluruh warga mentaati keputusan dan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam pencegahan penyebaran Covid-19 termasuk mudik lebaran.

" Agar terus memperkuat tali silaturahmi dan hubungan sosial sesama dalam momentum Hari Raya Idul Fitri 1441 H dengan tetap mengacu pada kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan menjaga jarak fisik (physical distancing) yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing."

Surat Edaran bernomor 3953/C.I.034.04.3030 telah ditandatangai oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj, dan Sekretaris Jenderal H A Helmy Faishal Zaini.

Sumber : jatimtimes.com

1 dari 5 halaman

PBNU: Meninggal Akibat Corona Termasuk Syahid

Dream - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggolongkan virus corona sebagai wabah yang dikenal dalam istilah agama sebagai tha'un. Sedangkan mereka yang meninggal akibat terserang wabah ini berkedudukan syahid fil akhirah.

Wakil Sekretaris LBM PBNU, KH Mahbub Maafi Ramdhan, mengatakan kedudukan syahid tidak hanya didapat oleh mereka yang mati di medan perang. Melainkan juga mati karena wabah.

" Kita mengikuti keterangan para ulama, bahwa yang dimaksudkan dengan dengan kesyahidan orang-orang itu adalah mereka yang gugur bukan di medan perang," ujar Kiai Mahbub, dikutip dari NU Online.

Dasar penetapan hukum ini adalah salah satu riwayat Imam Muslim yang menjelaskan peristiwa ketika Rasulullah Muhammad SAW bertanya kepada para sahabatnya mengenai mati syahid. Riwayat tersebut memiliki derajat shahih.

Rasulullah SAW bertanya (kepada sahabatnya), ‘Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah.’ Rasulullah SAW menanggapi, ‘Kalau begitu, sedikit sekali umatku yang mati syahid.’" " Para sahabat bertanya, ‘Mereka itu siapa ya Rasul?’ Rasulullah SAW menjawab ‘Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, orang yang mati karena sakit perut juga syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid'.

 

2 dari 5 halaman

Meraih Gelar Syuhada

Kiai Mahbub juga mengatakan dasar lain yang digunakan LBM PBNU adalah pendapat dari Imam An Nawawi yang tercantum dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim. Pendapat tersebut merupakan penjelasan dari hadis di atas.

" Ulama mengatakan, yang dimaksud dengan kesyahidan mereka semua, selain yang gugur di medan perang, adalah bahwa mereka kelak (di akhirat) menerima pahala sebagaimana pahala para syuhada yang gugur di medan perang. Sedangkan di dunia, mereka tetap dimandikan dan disholati sebagaimana penjelasan telah lalu pada bab Iman."

Berdasarkan pendapat tersebut, Kiai Mahbub menegaskan mereka yang mati karena Covid-19 akan mendapatkan pahala sebagaimana yang diterima para syuhada.

" Kita berdoa semoga Allah menerima amal kebaikan mereka dan segera mengangkat wabah ini dari Indonesia dan dari negara-negara lain," ucap Kiai Mahbub.

3 dari 5 halaman

Ketum PBNU Tegas Tolak Pemulangan WNI Eks ISIS di Depan Menlu

Dream - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj menegaskan penolakan terhadap wacana pemulangan WNI eks ISIS. Hal itu disampaikan langsung kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang tengah berkunjung ke kantor PBNU membicarakan wacana tersebut.

" Beliau Ibu Menteri minta masukan ke PBNU. Selama ini pemerintah belum berpendapat," ujar Said di kantornya, Selasa 11 Februari 2020.

Said mengatakan salah satu dasar penolakan NU yaitu para WNI itu secara sukarela menyatakan keluar dari Indonesia. Mereka lebih memilih bergabung dengan gerakan teroris.

Dia mengutip Surat Al Ahzab ayat 60 yang menyebutkan apabila ada orang-orang yang membuat kegaduhan atau kejahatan di dalam suatu wilayah, hendaknya untuk diusir.

" Secara teologis Alquran mengatakan Surat Al Ahzab ayat 60, orang-orang yang bikin gaduh di Madinah usir," ucap dia.

4 dari 5 halaman

"Ganggu Ketenangan 260 Juta Warga Indonesia"

Merujuk pada ayat tersebut, menurut Said, penolakan WNI eks ISIS dipulangkan ke Indonesia sudah tepat. Dia khawatir ratusan WNI tersebut akan menimbulkan kegaduhan di Tanah Air.

" Jangan sampai mengganggu ketenangan warga masyarakat. Oleh karena itu bicara pemulangan 600 orang kalau ganggu ketenangan 260 juta warga Indonesia," kata dia.

Kiai yang belajar agama selama 15 tahun di Arab Saudi ini kemudian memberikan masukan kepada Retno agar tidak memulangkan WNI eks ISIS. Selain membakar paspor, para WNI eks ISIS juga telah menyatakan Indonesia negara thogut dan mengancam akan membunuh para pejabatnya.

" Saya beri masukan dengan tegas kami PBNU menolak Kombatan ISIS," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Retno mengaku hingga kini pemerintah masih melakukan profiling terhadap 600 WNI eks ISIS.

" Kita kalau ditanya posisi kita sejauh ini adalah akan melakukan pendataan terlebih dahulu," Retno.

5 dari 5 halaman

Kepala BNPT Beber Faktor yang Menyulitkan Pemulangan WNI Eks ISIS

Dream - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius mengatakan, belum ada keputusan untuk memulangkan 600 Warga Negara Indonesia (WNI) eks simpatisan ISIS. Saat ini, BNPT masih melakukan verifikasi terhadap data WNI tersebut.

Menurut Suhardi, respons pemerintah daerah yang nanti akan menerima warga yang jadi simpatisan ISIS di Suriah juga masih beragam.  

" Pemerintah daerahnya masih beragam ini responnya soal itu, ada yang merespon ada yang enggak. Padahal mereka itu mantan-mantan deportant mau berangkat ke masing masing daerah, ini tingkat kesulitan yang mau kita sampaikan," ujar Suhardi di kantornya, Jakarta, Jumat 5 Februari 2020.

Dia mengatakan, BNPT selama ini sudah menyiapkan program deradikalisasi untuk WNI yang terlibat atau terpapar radikalisme.

" Saya libatkan ustaz-ustaz dari Muhammadiyah dari NU, dari psikolog termasuk konsultan anak, cuma satu bulan," ujar dia.

Selain itu, pelibatan kementerian dan lembaga juga penting. Sehingga, dalam melakukan upaya deradikalisasi secara efektif.

" Kemudian kita kembalikan ke daerah, saya minta ke Mendagri waktu itu, 'mas tolong kirim dong perwakilan dari daerah tujuan', karena gini ada juga para deportant itu aslinya Sulawesi lalu minta pulangnya ke Malang, karena istrinya dari Malang," ucap dia.(Sah)

Beri Komentar