Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Teknologi Dorong Percepatan Penemuan Vaksin

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 8 November 2020 17:08
Teknologi Dorong Percepatan Penemuan Vaksin
Zaman dulu, penemuan vaksin membutuhkan waktu sangat lama.

Dream - Perkembangan teknologi berdampak besar pada peradaban manusia. Tidak terkecuali di bidang kesehatan, lebih spesifik ke bidang farmasi.

Ahli Virologi Universitas Udayana, Ngurah Mahardika, mengatakan penemuan vaksin di zaman dulu membutuhkan waktu lama dan proses yang sangat panjang. Kehadiran teknologi memungkinan ditemukannya vaksin dalam waktu relatif singkat.

" Zaman dahulu tentu harus dapat agennya dulu yang murni, setelah itu diperbanyak, dan kemudian baru disiapkan sebagai vaksin. Itu yang menempuh waktu yang lama. Zaman sekarang, teknologi telah memungkinkan kita melakukannya dengan cepat. Tidak perlu lagi agen penyakit dan bisa dibuat sintetis, jadi bisa sangat cepat," ujar Mahardika.

 

1 dari 3 halaman

4 Ragam Vaksin

Mahardika menjelaskan terdapat sedikitnya empat ragam vaksin berdasarkan bahan dasar pembuatannya. Ragam tersebut yaitu berbasis virus murni yang dimatikan sehingga tidak berbahaya bagi manusia, berbasis DNA atau mRNA, berbasis adenovirus, dan terakhir berbasis protein.

" Ragam basis vaksin ini punya kelebihan dan kekurangan tentunya, seperti vaksin berbasis virus yang dimatikan yang saat ini diujicobakan di Indonesia adalah jenis paling lazim, sehingga regulasi penggunaanya jauh lebih ringkas," kata Mahardika.

Sementara, lanjut dia, vaksin berbasis DNA dan adenovirus memang belum ada contohnya di Indonesia. Sehingga regulasinya memakan waktu lama.

 

2 dari 3 halaman

Faktor Kunci: Keamanan

Meski teknologi mempercepat proses penemuan vaksin, faktor kunci yang tidak boleh diabaikan adalah memastikan keamanannya. Para peneliti dan pengembang tidak bisa mengkompromikan aspek kualitas, daya guna dan keamanan bakal vaksin, termasuk pada vaksin Covid-19.

" Untuk aspek keamanan ini dimulai sejak fase pre-klinis yang diujikan pada hewan, lalu fase I yang melibatkan relawan manusia, fase II yang melibatkan ratusan relawan, dan fase III yang melibatkan ribuan relawan," ucap dia.

Pada semua fase, lanjut Mahardika, aspek keamanan dan daya guna menjadi perhatian serius. Teutama pada pada fase III yang melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang.

Tak hanya itu, setelah beredar di masyarakat vaksin akan terus dimonitor dan diaudit terus menerus untuk memastikan keamanannya.

 

3 dari 3 halaman

Kerja Sama Internasional

Indonesia sangat memungkinkan untuk mengembangkan vaksin Covid-19 secara mandiri. Tetapi, kerjasama dalam masa pandemi Covid-19 seperti saat ini bukanlah hal yang tabu.

Kerjasama bertujuan untuk mendapatkan data berkualitas tinggi. Peneliti dan ilmuan di Indonesia juga membuka data-data kajian dalam negeri untuk memberi sumbangsih kepada keilmuan dunia dan menerima input positif dari peneliti luar negeri.

" Tanpa kerja sama saya kira kita mampu, tapi untuk mencapai kemajuan yang pesat dirasa perlu dengan jalan kerjasama antar negara dan keilmuan dunia," ucap Mahardika, dikutip dari Covid19.go.id.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar