5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
(Foto: Shutterstock.com)
Dream - Perkembangan teknologi berdampak besar pada peradaban manusia. Tidak terkecuali di bidang kesehatan, lebih spesifik ke bidang farmasi.
Ahli Virologi Universitas Udayana, Ngurah Mahardika, mengatakan penemuan vaksin di zaman dulu membutuhkan waktu lama dan proses yang sangat panjang. Kehadiran teknologi memungkinan ditemukannya vaksin dalam waktu relatif singkat.
" Zaman dahulu tentu harus dapat agennya dulu yang murni, setelah itu diperbanyak, dan kemudian baru disiapkan sebagai vaksin. Itu yang menempuh waktu yang lama. Zaman sekarang, teknologi telah memungkinkan kita melakukannya dengan cepat. Tidak perlu lagi agen penyakit dan bisa dibuat sintetis, jadi bisa sangat cepat," ujar Mahardika.
Mahardika menjelaskan terdapat sedikitnya empat ragam vaksin berdasarkan bahan dasar pembuatannya. Ragam tersebut yaitu berbasis virus murni yang dimatikan sehingga tidak berbahaya bagi manusia, berbasis DNA atau mRNA, berbasis adenovirus, dan terakhir berbasis protein.
" Ragam basis vaksin ini punya kelebihan dan kekurangan tentunya, seperti vaksin berbasis virus yang dimatikan yang saat ini diujicobakan di Indonesia adalah jenis paling lazim, sehingga regulasi penggunaanya jauh lebih ringkas," kata Mahardika.
Sementara, lanjut dia, vaksin berbasis DNA dan adenovirus memang belum ada contohnya di Indonesia. Sehingga regulasinya memakan waktu lama.
Meski teknologi mempercepat proses penemuan vaksin, faktor kunci yang tidak boleh diabaikan adalah memastikan keamanannya. Para peneliti dan pengembang tidak bisa mengkompromikan aspek kualitas, daya guna dan keamanan bakal vaksin, termasuk pada vaksin Covid-19.
" Untuk aspek keamanan ini dimulai sejak fase pre-klinis yang diujikan pada hewan, lalu fase I yang melibatkan relawan manusia, fase II yang melibatkan ratusan relawan, dan fase III yang melibatkan ribuan relawan," ucap dia.
Pada semua fase, lanjut Mahardika, aspek keamanan dan daya guna menjadi perhatian serius. Teutama pada pada fase III yang melibatkan ribuan hingga puluhan ribu orang.
Tak hanya itu, setelah beredar di masyarakat vaksin akan terus dimonitor dan diaudit terus menerus untuk memastikan keamanannya.
Indonesia sangat memungkinkan untuk mengembangkan vaksin Covid-19 secara mandiri. Tetapi, kerjasama dalam masa pandemi Covid-19 seperti saat ini bukanlah hal yang tabu.
Kerjasama bertujuan untuk mendapatkan data berkualitas tinggi. Peneliti dan ilmuan di Indonesia juga membuka data-data kajian dalam negeri untuk memberi sumbangsih kepada keilmuan dunia dan menerima input positif dari peneliti luar negeri.
" Tanpa kerja sama saya kira kita mampu, tapi untuk mencapai kemajuan yang pesat dirasa perlu dengan jalan kerjasama antar negara dan keilmuan dunia," ucap Mahardika, dikutip dari Covid19.go.id.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?