Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran
Dream - Kelompok penyintas dan tenaga medis merupakan pahlawan sesungguhnya dalam menghadapi pandemi Covid-19. Lewat peran mereka, penyebaran kasus bisa ditekan hingga tidak terjadi lonjakan jumlah pasien positif.
Hal ini diungkap oleh dua pekerja sosial Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, Wina dan Milly. Keduanya hingga saat ini tergabung sebagai relawan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran.
Salah satu tantangan yang dihadapi para penyintas adalah stigma sosial. Hal ini juga menjadi tantangan terbesar dalam memberikan Layanan Dukungan Psikososial kepada para pasien, utamanya bagi mereka yang telah sembuh agar bisa kembali diterima di masyarakat.
Munculnya stigma sosial disebabkan ketidaktahuan serta ketidakpahaman masyarakat terhadap pandemi. Saat ini, Wina dan Milly bersama 414 pekerja sosial lain terus memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak.
Wina mengaku punya motivasi tersendiri hingga memutuskan bergabung sebagai relawan di Wisma Atlet Kemayoran. Dia mengaku semua di luar ekspektasi.
" Namun, ketika sudah bergabung, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh orang lain," kata Wina, dalam keterangan tertulis dari Kementerian Sosial.
Pemberian layanan psikososial di RSD Wisma Atlet tidak berjalan mudah. Banyak tantangan dihadapi, yang pada akhirnya mengasah kemampuan para pekerja sosial dalam berhubungan dengan para penyintas.
" Rasa takut dan was-was dalam menjaga imunitas tubuh juga sering dirasakan namun profesionalitas dalam bekerja membuat kami dapat menyelesaikan tugas dengan baik," kata Wina.
Pekerja sosial lain, Milly, punya pandangan berbeda soal 'pahlawan'. Dia menilai, kata 'pahlawan' layak disematkan kepada para tenaga medis karena yang paling utama menyelamatkan pasien Covid-19 dan terjun langsung di titik episentrum.
Ditambah secara statistik, jumlah pasien meninggal karena Covid-19 sebagian adalah tenaga medis. Tak hanya itu dukungan dari tim lain seperti logistik, relawan non-medis, edukator masyarakat, Satgas Penanganan Covid-19 pusat hingga daerah juga laik disebut pahlawan.
" Tanpa dukungan mereka, penanganan dampak Covid-19 tidak akan berjalan maksimal," kata Milly.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya