Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Pandemi virus corona covid-19 masih terjadi di seluruh dunia. Hingga kini, belum ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir.
Dilansir laman World O Meters, Sabtu 7 November 2020 pagi sudah ada 49.465.073 kasus covid-19 di seluruh dunia. Sementara jumlah korban tewas mencapai 1.247.969 orang.
Sayangnya di tengah usaha dunia melawan pandemi ini, hoaks juga tak berhenti beredar. Bahkan WHO menyebut penyebaran hoaks ini sama berbahayanya dengan virus itu sendiri.
Lalu apa saja hoaks yang beredar dari awal pandemi virus corona covid-19 dan alasannya dipercaya masyarakat. Berikut beberapa diantaranya dilansir Scientificamerican.com:
Virus corona covid-19 memang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China. Itu sebabnya beberapa orang termasuk Presiden AS, Donald Trump pernah menuduh virus ini sengaja dibuat China.
Faktanya:
Intelijen AS telah membantah kemungkinan virus corona covid-19 dibuat oleh laboratorium di China. Hal ini sesuai dengan bukti dan penelitian yang ada.
Selain itu China juga telah mengundang peneliti WHO dan bekerjasama untuk mencari asal virus ini.
Alasan orang percaya:
Orang ingin mencari kambing hitam karena situasi saat ini dan kehancuran ekonomi akibat pandemi virus corona covid-19. Apalagi China saat ini negara raksasa ekonomi dunia dan salah satu pesaing Amerika Serikat.
Sejak awal pandemi virus corona covid-19, Presiden AS Donald Trump yang menggaungkan hoaks ini. Dia menyebut covid-19 tidak lebih berbahaya ketimbang flu musiman.
Faktanya:
Di AS, covid-19 telah menyebabkan lebih dari 242 ribu kematian sedangkan musim flu terburuk dalam dekade terakhir yang menewaskan sekitar 61 ribu orang terjadi pada 2017-2018.
Selain itu, covid-19 sejauh ini telah membunuh lebih banyak orang di AS bila dibandingkan dengan gabungan (jumlah kasus dalam) lima musim flu terakhir, dan ratusan lainnya meninggal setiap hari.
Sebuah studi CDC yang dirilis pada 20 Oktober 2020 menemukan pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 di Administrasi Kesehatan Veteran memiliki risiko kematian lima kali lebih tinggi daripada pasien flu.
Tingkat kematian covid-19 juga berada di angka 0,5 sampai 1 persen. Sementara flu hanya 0,1 persen.
Alasan orang percaya:
Banyak orang yang terus menyerukan hal ini termasuk Presiden AS Donald Trump. Dia juga menyebut angka kematian covid-19 dibesar-besarkan. Faktanya justru banyak kematian yang disebabkan covid-19 belum terhitung.

Memakai masker menjadi salah satu hoaks yang terus bergulir selama pandemi ini. Mulai dari menyebabkan sesak napas hingga mengakibatkan penyakit tertentu jika dipakai terus-menerus.
Faktanya
Dilansir dari The Lancet, lebih dari 170 studi yang menunjukkan memakai masker bisa mencegah penularan virus corona covid-19. Apalagi banyak orang yang positif virus corona covid-19 tanpa gejala, sehingga memakai masker merupakan cara preventif mengurangi penyebaran virus itu.
Alasan orang percaya
Saat awal pandemi WHO dan CDC memang tidak konsisten pada pemakaian masker ini. Awalnya mereka hanya menyuruh orang yang sakit untuk memakai masker, namun sekarang semua orang harus memakai masker.
Selain itu pada awal pandemi, harga masker melambung jauh dan membuat orang enggan memakainya hingga sekarang. Alasan lain enggan memakai masker, karena orang menganggap kebebasan mereka terenggut.

Pada awal pandemi sejumlah negara seperti Swedia dan Inggris berencana untuk membiarkan virus corona covid-19 menyebar sehingga akan timbul herd immunity. Yakni virus akan berhenti karena orang sudah punya kekebalan sendiri. Namun kedua negara telah membantah rencana ini dan malah menerapkan lockdown.
Faktanya
Untuk mencapai herd immunity dibutuhkan 60-70 persen dari populasi. Namun angka itu akan menimbulkan jumlah kematian yang sangat besar, bahkan hingga jutaan orang jika penduduk suatu negaranya besar seperti Indonesia.
Tragedi ini pernah terjadi pada pandemi flu Spanyol tahun 1918 yang menewaskan 50 juta orang.
Alasan orang percaya
Semua orang ingin kembali ke kehidupan normal secepat mungkin. Bahkan beberapa ada yang percaya kita sudah mencapai tahap herd immunity meski faktanya tidak demikian.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya