Telepon Pencetak Hafiz Quran

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 16 Maret 2017 20:25
Telepon Pencetak Hafiz Quran
Metode ini dirancang untuk memudahkan umat Muslim belajar Alquran.

Dream – Ruangan itu penuh meja berpartisi. Dibatasi kaca. Ada selusin meja berbilik di tengah, terbagi dalam dua deretan. Di depan dihuni oleh enam pria berpeci. Bagian belakang, penuh perempuan berhijab. Semua memasang headset di kepala.

Di sudut kiri, juga ada meja serupa. Tapi tak terlalu panjang. Hanya ada tiga sekat saja. Perangkat komputer terpasang rapi di atas meja-meja mirip KBU warung internet itu.

Semua sibuk. Mata terus dipaku ke layar monitor. Kitab mungil di tangan terus dibolak-balik, lembar demi lembar. Sesekali jemari memainkan mouse, juga keyboard. Suasana semakin riuh saat ada tanda telepon menyala.

“ Oh mau baca Surat Al Lahab,” kata Asdi Suhendra, salah satu pria yang duduk di deret depan itu. Dia segera membenarkan letak headset. Memasang pendengaran tajam-tajam. Setelah itu, melantunlah ayat-ayat Alquran.

Tab bat yadaa. ‘Ya’ nya yang pendek,” pria itu memberi petunjuk orang di ujung telepon. “ Tab bat yadaa abii lahabinw-wa tabb. Jangan, taabat. Coba dulu pakai tajwid ya.”

Ruang itu bukanlah masjid atau surau, walau dipakai tempat mengaji. Bukan pula warung internet, meski punya beberapa meja berbilik. Kamar itu adalah ruang operator Qur’an Call, program belajar Alquran melalui telepon, di kantor Pusat Pembibitan Penghapal Alquran (PPPA) yang terletak di SCBD Ciledug, Kota Tangerang.

Program itu diselenggarakan PPPA, Yayasan Daarul Qur’an yang dipimpin ustaz kondang, Yusuf Mansur. Sistim ini sudah dijalankan sejak Maret 2016.

***
Metode ini dirancang untuk memudahkan umat Muslim belajar Alquran. Khususnya bagi mereka yang sibuk. Orang-orang yang tak sempat datang ke pesantren maupun surau. Semua bisa belajar membaca Alquran cukup lewat telepon.

Bisa diakses dari manapun, selama ada sambungan komunikasi jarak jauh itu. Bagi yang ingin belajar Alquran dengan metode ini, tinggal menghubungi nomor 0800-1500-311. Semua gratis. Seluruh biaya telepon dibebankan kepada Yayasan Daarul Qur’an.

Para penelepon akan dibimbing oleh 33 pengajar yang siap memandu bacaan tajwid ataupun menghafal Alquran. Bagi Muslimah, disediakan waktu menelepon mulai pukul 05.00 WIB sampai 17.00 WIB. Untuk pria, mulai pukul 12.00 WIB hingga pukul 23.59 WIB.

Program ini ternyata sangat diminati. Saat dibuka Maret tahun lalu saja, tercatat ada sekitar 3000 orang menelepon tiap bulan. Jumlah itu terus bertambah. Hingga kini ada 27.000 santri yang teregister belajar membaca maupun menghafal Alquran melalui metode ini.

Kini, saban hari ada sekitar 750 orang menelepon untuk belajar. Namun dari angka itu, hanya sekitar 600 penelepon yang bisa dilayani. “ Sementara 150-an akan diterima admin,” ujar Harnovery, pengawas teknis program ini.

“ Sekali menelepon, santri akan diberikan waktu 10 menit untuk belajar Alquran. Tapi durasi waktu itu fleksibel,” tambah pria yang karib disapa dengan nama Very itu.

Jumlah penelepon yang banyak dengan mentor terbatas membuat daftar tunggu menjadi lama. Apalagi, sebelum disalurkan ke pengajar, para penelepon akan diregistrasi terlebih dahulu oleh petugas admin. Very mencatat, pernah ada santri yang menelepon hingga satu jam.

Menumpuknya daftar tunggu membuat tagihan pulsa membengkak. Bahkan, dalam setahun total tagihan yang harus dibayar Daarul Qur’an mencapai Rp3,4 miliar. “ Pak Ustaz (Yusuf Mansur) sampai kaget,” ujar Humas PPPA, Ida Rosidah, sembari tersenyum.

Biaya memang tak jadi soal. Sebab, dana sumbangan para donatur PPPA Daarul Qur’an cukup untuk menutup operasional tersebut.

Untuk menghemat waktu, dan juga biaya, dicarilah cara yang lebih efisien. Untuk memudahkan pemahaman santri, pengajar Qur’an Call akan langsung membenarkan pengucapan ayat yang salah.

Misalnya ada penelepon yang membaca tujuh ayat, apabila ada kesalahan sebelum ayat itu habis, maka para mentor akan langsung membenarkannya.

“ Langsung dibenarkan kesalahannya. Walaupun tidak selesai, nanti sambung telepon selanjutnya,” kata pengawas mentor Qur’an Call, Ustaz Faisal Azhar.

Meski terdengar mudah, namun media belajar seperti ini punya kesulitan tersendiri. Suara menjadi alasan utamanya. Suara, kata dia, ada keterbatasan. Ketidakkonsistenan santri dalam penyebutan tanda harokat, mad, dan ghunnah, misalnya, masih dapat terdeteksi.

“ Tapi kalau misalnya, ha tebal atau tipis, sa, sya, sod, dhod, kadang-kadang (pengajar) sensitif, kadang ya...” kata Faisal sembari tersenyum.

Walau dirasa sulit, Quran Call tetap menghadirkan pengajar yang berkompeten. Untuk menjadi pengajar, minimal harus hafal lima juz Alquran. Selain itu tajwid juga harus benar. “ Serta punya penjelasan dan komunikasi yang bagus,” tutur dia.

Seperti program berbasis teknologi lainnya, Qur’an Call juga terus mengikuti perkembangan. Saat ini, tengah disiapkan Qur’an Call versi digital agar rekaman pembelajaran santri dapat dipelajari ulang. “ Insyaallah bisa dibuat website,” kata dia.

Tetapi, tegas Faisal, sebetulnya teknologi tak dapat mengalahkan model tradisional, apalagi harus 100 persen. Program ini utamanya dipakai untuk memancing masyarakat agar mau belajar Alquran untuk datang ke majelis-majelis Alquran, seperti Rumah Tahfiz Daarul Quran.

“ Stimulus cocoklah. Belajar Alquran itu tak bisa digantikan teknologi, meskipun ada Skype itu feel-nya beda. Tallaqi (simak) lah paling keren,” ucap Faisal.

***
Saat Dream berkunjung Senin sore lalu, kantor itu memang tengah sibuk-sibuknya. Peak season. Pukul 16.00 WIB, para penelepon perempuan menunggu giliran. Sebab, satu jam lagi masa belajar mereka akan habis. Giliran para santri pria.

Dan Asdi tetap saja sibuk melayani para santri yang akan belajar membaca atau menghafal Alquran. Dia menuturkan, para santri yang dia layani datang dari berbagai latar.

Tak hanya itu, para penelepon itu juga punya kemampuan beragam. Ada yang belum tahu sama sekali. Yang lumayan lancar juga ada. Bahkan ada penelepon yang meminta dibimbing untuk hafalan.

Asdi merasa beruntung bisa bergabung sebagai mentor dalam program Qur’an Call. Sebab, dia tak hanya bisa berbagi ilmu, melainkan juga bisa belajar dari para penelepon itu.

Salah satu yang berkesan bagi Asdi adalah saat petinggi salah satu stasiun televisi swasta menelepon. Minta diajari membaca Alquran. Dalam percakapan telepon, sang petinggi televisi yang menjadi santri menangis.

Saat itulah santri itu mencurahkan isi hatinya kepada Asdi. “ Ustaz, ternyata apa-apa yang saya dapatkan enggak ada apa-apanya,” Asdi menirukan ucapan santri yang menelepon kala itu.

“ Kalau boleh ditukar, tukar jabatan saya, asal saya bisa mengaji. Enggak apa-apa jabatan saya hilang asal bisa mengaji,” tambah Asdi, sambil mengenang pengalaman telepon itu.

Sejak program ini dibuka, setidaknya sudah ada 100 penelepon yang dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat tajwid dan tahfiz dari Qur’an Call.

Apapun caranya, Alquran merupakan kitab suci yang harus dipelajari oleh setiap Muslim. Sebab, dalam Alquran kita bisa menemukan petunjuk Allah.

Sehingga, belajar Alquran sangat penting. Salah satunya calling ke program Daarul Quran ini.

Beri Komentar