Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Petugas Melipat Kertas Suara (Foto: Liputan6.com)
Dream - Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM menemukan sejumlah penyebab meninggalnya ratusan anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) selama pemilu 2019.
" Tanggal 8 Mei kami sudah melakukan FGD untuk menentukan langkah kerja selanjutnya, dalam FGD itu juga kami menemukan tiga poin penting yang menjadi pendalaman riset ini," kata dosen Fisipol UGM, Abdul Gaffar Karim, dikutip dari Liputan6.com, Jumat 10 Mei 2019.
Dari identifikasi yang dilakukan dalam riset gabungan Fisipol bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) dan Fakultas Psikologi UGM itu menemukan adanya celah dalam rekruitmen petugas Pemilu 2019.
Misalnya, surat kesehatan yang dibuat secara massal dan tidak adanya pemeriksaan kesehatan yang memadai. Selain itu, usia petugas di atas 50 tahun.
Masalah lain yang muncul yaitu, cara, ritme, dan jam kerja, yang terindikasi memiliki masalah. Kemudian adanya faktor politik diduga menjadi berkontribusi pada kondisi mental petugas pemilu.
Dekan FKKMK UGM, Ova Emilia, mendukung kajian mendalam untuk syarat petugas KPPS. Dia mengatakan, tiap anggota KPPS perlu diperiksa secara fisik dan mental.
" Bukan hanya di selembar kertas," ujar dia.
Ova menampik, kelelahan bisa menyebabkan orang meninggal. Meski, hanya sebagai pemicu. Dia menyebut, tak semua orang mengetahui jika tubuhnya memiliki indikasi gejala penyakit tertentu.
" Kalau orang yang terbiasa lelah dan memiliki ketahanan tubuh yang baik tidak masalah. Tetapi, jika dia ternyata membawa penyakit yang tidak disadari bisa menjadi pemicu," ucap dia.
Ova masih mempertimbangkan perlu-tidaknya autopsi. Dia menyarankan, sebelum autopsi jenazah anggota KPPS meninggal, perlu adanya wawancara terhadap orang di sekitar korban.
" Namun, kalau ada data-data yang kontroversial maka kami bisa mengusulkan autopsi fisik," kata dia.
Sumber: Liputan6.com/Switzy Sabandar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya