Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Viral Emak-Emak Ngamuk Tuding RS Nyaris Covidkan Anaknya

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 22 Juni 2021 16:00
Viral Emak-Emak Ngamuk Tuding RS Nyaris Covidkan Anaknya
Soal tudingan rumah sakit yang ingin meng-Covid-kan seseorang, PERSI pun memberi klarifikasi.

Dream - Belakangan viral seorang ibu membagikan penglaman tak mengenakkan saat membawa sang anak berobat ke rumah sakit. Menurut pengakuannya, pihak rumah sakit tidak mau melakukan foto rontgen anaknya dengan alasan harus tes rapid antigen terlebih dahulu.

Dalam unggahan akun TikTok @zanzabella666, wanita tersebut menjelaskan bahwa sang anak mengalami penyakit paru-paru, bukan Covid-19. Sang wanita yang mengenakan kaus berwarna merah itu mengaku melihat petugas rumah sakit berbisik-bisik di dalam ruangan dan menyatakan bahwa RS tidak bisa melakukan foto rontgen.

" Ibu-ibu wajib dengar ini. Ini pengalaman pribadi saya dengan anak saya. Anak saya batuk, sakit paru-paru. lalu saya bawa ke rumah sakit untuk rontgen. Tapi masih di IGD, mereka cek biasa doank, mereka lalu masuk ke dalam dan berbisik-bisik, lalu keluar lagi dan bilang 'tidak bisa rontgen langsung', harus antigen dulu," terangnya.

Sang wanita sempat bertanya mengapa harus melakukan test antigen, alih-alih mendapat jawaban, pihak RS hanya menegaskan kembali tidak bisa rontgen bila tidak ada hasil tes antigen.

1 dari 4 halaman

Sempat Berfirasat Buruk

Pada akhirnya, wanita itu memilih tak berobat dan pihak rumah sakit memberikan surat rujukkan ke rumah sakit lain yang bisa melakukan rontgen tanpa perlu rapid antigen.

" Saya tidak percaya, dan memang hati kecil saya mengatakan 'jangan'. Akhirnya saya enggak mau, anak saya bawa pulang. Lalu mereka memberi rujukan rumah sakit. 'Mungkin di sana bisa tidak antigen, langsung rontgen'. Begitu kata mereka," katanya.

Berfisarat tidak baik dengan tes antigen di rumah sakit rujukan tersebut, wanita itu lantas memilih membawa anaknya ke bandara terlebih dahulu untuk tes antigen.

" Saya tidak langsung pergi ke RS, tapi ke bandara dulu. Setelah dites rapid antigen di bandara, ternyata hasilnya negatif," katanya.

2 dari 4 halaman

Berikan Pesan ke Publik

Keputusannya tersebut berbuah baik, karena setelah membaca dengan saksama isi surat rujukan tersebut ternyata anaknya dikatakan mengarah ke Covid-19.

" Lalu, saat di mobil, entah kenapa saya ingin membaca benar-benar surat rujukan itu sebelum ke RS. Ternyata isinya dibilang anak saya mengarah ke corona dan orang tua pasien menolak untuk antigen. Wow," katanya.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk merawat anaknya sendiri di rumah menggunakan negulator. Pada akhirnya, sang anak sembuh dalam waktu satu hari dan ia pun mengingatkan para orang tua anak agar tetap berhati-hati.

" Jadi anak saya saya bawa pulang, saya nebulizer sendiri di rumah. Satu hari, anak saya sembuh total. Kalau saya mengikuti (rujukan) mereka mungkin saja hasilnya (antigen) anak saya positif. Dan mungkin anak saya mati sekarang. Hati-hati. Tolong sangat hati-hati," katanya lagi.

@zanzabella666

##foryoupage ##fyp? ##corona ##anak ##mamamuda serem

? original sound - cleopatra_tzb

 

 

3 dari 4 halaman

Klarifikasi PERSI

Sementara itu, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menegaskan bahwa tidak ada satu pun rumah sakit yang ingin meng-Covid-kan seseorang. Pernyataan itu disampaikan atas adanya beberapa tudingan yang dilayangkan oleh sejumlah pihak.

Menurut Sekjen PERSI, Lia G Partakusuma, ada aturan yang sangat kuat mengenai kapan pasien ditentukan atau didiagnosis Covid-19.

" Jadi, masyarakat jangan merasa kalau diagnosa Covid itu pasti akan diklaim oleh rumah sakit sebagai pasien Covid," kata Lia dalam siaran pers virtual kanal YouTube PERSI, Minggu 20 Juni 2021.

Lia pun meminta agar masyarakat bersama-sama menaruh kepercayaan bahwa dokter akan mengobati tiap pasien sesusai kebutuhannya.

4 dari 4 halaman

Ada Kesalapahaman

Lia menegaskan, apabila ditemukan seorang yang di-Covid-kan, PERSI bisa memastikan mereka merupakan oknum. Ia pun berharap tidak ada rumah sakit yang berkeinginan seperti itu.

Menurut Lia, kasus semacam itu sangat bisa berakibat buruk bagi rumah sakit yang ada di Indonesia.

" Lebih baik dudukkan persoalannya, kalau perlu kita tanya betul bagaimana. Mungkin kesalahpahaman dalam penyampaian, itu yang lebih sering terjadi."

 

Beri Komentar