Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Liputan6.com)
Dream - Belakangan viral seorang ibu membagikan penglaman tak mengenakkan saat membawa sang anak berobat ke rumah sakit. Menurut pengakuannya, pihak rumah sakit tidak mau melakukan foto rontgen anaknya dengan alasan harus tes rapid antigen terlebih dahulu.
Dalam unggahan akun TikTok @zanzabella666, wanita tersebut menjelaskan bahwa sang anak mengalami penyakit paru-paru, bukan Covid-19. Sang wanita yang mengenakan kaus berwarna merah itu mengaku melihat petugas rumah sakit berbisik-bisik di dalam ruangan dan menyatakan bahwa RS tidak bisa melakukan foto rontgen.
" Ibu-ibu wajib dengar ini. Ini pengalaman pribadi saya dengan anak saya. Anak saya batuk, sakit paru-paru. lalu saya bawa ke rumah sakit untuk rontgen. Tapi masih di IGD, mereka cek biasa doank, mereka lalu masuk ke dalam dan berbisik-bisik, lalu keluar lagi dan bilang 'tidak bisa rontgen langsung', harus antigen dulu," terangnya.
Sang wanita sempat bertanya mengapa harus melakukan test antigen, alih-alih mendapat jawaban, pihak RS hanya menegaskan kembali tidak bisa rontgen bila tidak ada hasil tes antigen.
Pada akhirnya, wanita itu memilih tak berobat dan pihak rumah sakit memberikan surat rujukkan ke rumah sakit lain yang bisa melakukan rontgen tanpa perlu rapid antigen.
" Saya tidak percaya, dan memang hati kecil saya mengatakan 'jangan'. Akhirnya saya enggak mau, anak saya bawa pulang. Lalu mereka memberi rujukan rumah sakit. 'Mungkin di sana bisa tidak antigen, langsung rontgen'. Begitu kata mereka," katanya.
Berfisarat tidak baik dengan tes antigen di rumah sakit rujukan tersebut, wanita itu lantas memilih membawa anaknya ke bandara terlebih dahulu untuk tes antigen.
" Saya tidak langsung pergi ke RS, tapi ke bandara dulu. Setelah dites rapid antigen di bandara, ternyata hasilnya negatif," katanya.
Keputusannya tersebut berbuah baik, karena setelah membaca dengan saksama isi surat rujukan tersebut ternyata anaknya dikatakan mengarah ke Covid-19.
" Lalu, saat di mobil, entah kenapa saya ingin membaca benar-benar surat rujukan itu sebelum ke RS. Ternyata isinya dibilang anak saya mengarah ke corona dan orang tua pasien menolak untuk antigen. Wow," katanya.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk merawat anaknya sendiri di rumah menggunakan negulator. Pada akhirnya, sang anak sembuh dalam waktu satu hari dan ia pun mengingatkan para orang tua anak agar tetap berhati-hati.
" Jadi anak saya saya bawa pulang, saya nebulizer sendiri di rumah. Satu hari, anak saya sembuh total. Kalau saya mengikuti (rujukan) mereka mungkin saja hasilnya (antigen) anak saya positif. Dan mungkin anak saya mati sekarang. Hati-hati. Tolong sangat hati-hati," katanya lagi.
@zanzabella666 ##foryoupage ##fyp? ##corona ##anak ##mamamuda serem
? original sound - cleopatra_tzb
Sementara itu, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menegaskan bahwa tidak ada satu pun rumah sakit yang ingin meng-Covid-kan seseorang. Pernyataan itu disampaikan atas adanya beberapa tudingan yang dilayangkan oleh sejumlah pihak.
Menurut Sekjen PERSI, Lia G Partakusuma, ada aturan yang sangat kuat mengenai kapan pasien ditentukan atau didiagnosis Covid-19.
" Jadi, masyarakat jangan merasa kalau diagnosa Covid itu pasti akan diklaim oleh rumah sakit sebagai pasien Covid," kata Lia dalam siaran pers virtual kanal YouTube PERSI, Minggu 20 Juni 2021.
Lia pun meminta agar masyarakat bersama-sama menaruh kepercayaan bahwa dokter akan mengobati tiap pasien sesusai kebutuhannya.
Lia menegaskan, apabila ditemukan seorang yang di-Covid-kan, PERSI bisa memastikan mereka merupakan oknum. Ia pun berharap tidak ada rumah sakit yang berkeinginan seperti itu.
Menurut Lia, kasus semacam itu sangat bisa berakibat buruk bagi rumah sakit yang ada di Indonesia.
" Lebih baik dudukkan persoalannya, kalau perlu kita tanya betul bagaimana. Mungkin kesalahpahaman dalam penyampaian, itu yang lebih sering terjadi."
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam