Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebuah spanduk merah besar menyambut hampir 9.000 mahasiswa asal Kota Wuhan pada upacara kelulusan gabungan. Acara ini diadakan setelah selama kurang lebih setahun kota tersebut dihantam wabah pandemi Covid-19.
Dikutip dari Channel News Asia, terlihat foto para mahasiswa mengenakan jubah biru beserta aksesoris kelulusan tengah duduk dalam barisan yang begitu ramai, tanpa jarak sosial ataupun masker.
Di atas para wisudawan terpampang spanduk bertulisan, " Menyambut lulus 2020 kembali ke rumah. Kami berharap Anda semua memiliki masa depan yang cerah."
Virus Corona pertama kali muncul pada akhir 2019 di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, China bagian tengah, membuat kota berpenduduk 11 juta jiwa itu menerapkan kebijakan lockdown paling ketat di dunia.
Kebijakan lockdown tidak pernah dilonggarkan sampai April 2020 dan mulai dibuka kembali setelah 76 hari masa lockdown.
Kota itu mengadakan upacara kelulusan terbatas pada tahun lalu yang dilakukan secara online. Salah satunya yang dilakukan Universitas Wuhan pada bulan Juni 2020, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.
Sejak munculnya virus Corona di Wuhan, China terus melakukan pengendalian pencegahan penyebaran virus dengan sangat ketat. Seperti diantaranya kontrol perbatasan ketat, karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan, penggunaan aplikasi kesehatan online secara ketat dan berbagai kebijakan pembatasan perjalanan domestik.
Menurut data terakhir, pada Selasa 17 Juni 2021, China melaporkan adanya penambahan 20 kasus aktif termasuk 18 kasus impor dari luar negeri dan dua lainnya berasal dari provinsi Guangdong Selatan. Terdapat 4.636 kematian yang dilaporkan secara resmi, mayoritas berasal dari Wuhan.
Sumber: Channel News Asia
Dream - Tim WHO mengakhiri investigasi mereka di Wuhan, Hubei, China untuk menemukan asal usul penyebaran virus SARS-CoV-2 yang memicu pandemi Covid-19. Sejumlah bukti dikumpulkan dan sampai pada beberapa kesimpulan sementara.
Kepala tim WHO, Peter Ben Embarek, menyatakan investigasi telah mencakup sejumlah informasi baru mengenai virus corona namun tidak secara dramatis mengubah gambaran mengenai penyebarannya.
Dari temuan di lapangan, Embarek menyatakan tidak ada bukti kuat yang menyatakan virus tersebar akibat kebocoran laboratorium di Wuhan.
" Temuan menunjukkan bahwa hipotesis insiden laboratorium sangat tidak mungkin untuk menjelaskan masuknya virus ke populasi manusia," ujar Embarek dalam konferensi pers di Wuhan.
Temuan ini senada dengan bantahan otoritas China yang menyatakan virus tidak mungkin tersebar karena kebocoran. China kemudian menawarkan alternatif teori dengan menyebut bisa saja virus berasal dari tempat lain sebelum masuk ke Wuhan, termasuk pada kemasan makanan beku impor.
Embarek juga mengatakan hasil investigasi mengarahkan pada dugaan kelelawar menjadi hewan penular utama Covid-19. Tetapi, kecil kemungkinan kelelawar pembawa virus berasal dari Wuhan.
Kepala panel ahli Covid-19 China, Liang Wannian, meyakini penyakit bisa disebabkan dari transmisi zoonotic (penularan antar hewan). Bisa juga dari hewan ke manusia yang kemudian berevolusi.
Tetapi, dia menyatakan sumber penularan belum dapat teridentifikasi. Sementara kelelawar dan trenggiling memungkinan sebagai reservoir (sumber penularan) karena kesamaan urutan genetik, Liang menyatakan tidak ada bukti menunjukkan bahwa virus corona ada dua jenis hewan ini memiliki hubungan langsung dengan Covid-19.
" Virus corona yang secara genetik terhubung dengan SARS-CoV-2 telah teridentifikasi pada hewan yang berbeda termasuk kuda, kelelawar dan trenggiling," kata Liang.
" Pengambilan sampel kelelawar di provinsi Hubei, bagaimanapun, telah gagal menemukan bukti SARS-CoV-2 pada virus asli, dan pengambilan sampel satwa liar di berbagai tempat di China sejauh ini gagal untuk mengidentifikasi keberadaan SARS-CoV-2," ucap dia melanjutkan.
Liang mengatakan kerentanan kucing terhadap virus juga dapat berarti mereka bisa menjadi reservoir potensial. Tetapi, ukuran sampelnya tidak mencukupi dan saat ini masih diselidiki.
Lebih lanjut, Liang menjelaskan kasus awal pada 2020 terkait dengan penularan di Pasar Makanan Laut Huanan Wuhan. Ini karena sampel yang diambil mengandung kontaminasi permukaan yang meluas dari virus di pasar.
Meski demikian, dia mengatakan tidak mungkin menentukan bagaimana virus itu masuk ke pasar basah.
" Sementara beberapa kasus awal memiliki hubungan dengan pasar, yang lain terkait dengan pasar lain dan yang lainnya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan pasar," kata dia.
Sumber: abc.net.au
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya