Saudi Buka Lowongan Algojo Eksekusi Mati

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 20 Mei 2015 09:45
Saudi Buka Lowongan Algojo Eksekusi Mati
Tidak ada kualifikasi khusus dan pelamar yang lolos hanya diberi tugas mengeksekusi terpidana yang sudah divonis mati.

Dream - Jika Anda kebetulan sedang mencari pekerjaan dan tidak takut dengan darah serta punya mental baja, mungkin Anda akan menemukannya di Arab Saudi.

Ya, Kerajaan Arab Saudi saat ini sedang kekurangan tenaga kerja di bidang hukum. Namun jangan membayangkan Anda bekerja sebagai polisi, hakim atau pengacara.

Dikutip Dream dari laman Metro.co.uk, Rabu 20 Mei 2015, Arab Saudi sedang mencari delapan algojo pemancung kepala baru untuk memenuhi meningkatnya jumlah terpidana mati di kerajaan tersebut.

Iklan lowongan tersebut saat ini sedang ditayangkan di situs resmi pelayanan pegawai negeri sipil Saudi. Tidak ada kualifikasi khusus dan pelamar yang lolos hanya diberi tugas mengeksekusi terpidana yang sudah divonis mati.

Sebagai bonus, pelamar mungkin harus mengamputasi orang-orang yang dihukum dengan kejahatan ringan.

Namun, gaji untuk algojo disebutkan menempati level terendah dari skala pegawai pemerintahan Saudi.

Arab Saudi berada di peringkat nomor tiga di dunia setelah Tiongkok dan Iran dalam menempatkan hukuman mati. Di bawah Saudi, ada Irak dan Amerika Serikat, menurut Amnesty International.

Tidak seperti negara lainnya yang mengeksekusi terpidana mati dengan ditembak atau digantung, Saudi menggunakan metode pancung kepala di depan publik.

Tahun lalu 88 orang di dieksekusi pancung menurut Arab Saudi, namun Amnesty International mengatakan 90. Dan di tahun 2015 ini, sudah 85 orang dipancung di kerajaan tersebut.

" Sebagian dieksekusi karena melakukan pembunuhan, tapi sebanyak 38 orang dihukum mati karena menyelundupkan narkoba," tulis HRW.

Sekitar setengah terpidana mati adalah orang Saudi dan sisanya berasal dari Pakistan, Yaman, Suriah, Yordania, India, Indonesia, Myanmar (Burma), Chad, Eritrea, Filipina, dan Sudan.

Pemerintah Saudi tidak menyebutkan mengapa jumlah eksekusi mati meningkat begitu pesat, namun para diplomat telah berspekulasi mungkin karena terlalu banyak hakim yang ditunjuk dan kasus kejahatan.

Beri Komentar