5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Jacob Lewis (Metro.co.uk)
Dream - Prestasi membanggakan diraih oleh pemuda tunawisma, Jacob Lewis. Tak main-main, meski tak punya tempat tinggal tetap, pemuda 22 tahun ini diterima kuliah di kampus kenamaan dunia, Universitas Cambridge. Sudah begitu, nilai ujiannya sempurna: A.
Kisah hidup Lewis memang menginspirasi banyak orang. Tak pernah menyerah. Meski tergilas roda kehidupan, dia tak lantas melempar handuk. Pasrah dengan keadaan. Namun sebaliknya, dia terus berlari, mengejar cita-cita.
Lihat saja lika-liku kehidupannya. Dia harus keluar sekolah, drop out, pada usia 17 tahun karena tak punya biaya. Namun Lewis tak patah arang. Dia terus memperjuangkan nasibnya.
Datanglah saat itu. Ketika Coleg Y Cymoedd di Kota Aberdare, Wales, memberinya beasiswa. Tak hanya itu, karena tak punya tempat tinggal, Lewis juga ditempatkan di hotel.
Fasilitas itu tak membuat hatinya tenang. Lewis masih merasa sebagai tunawisma. Dia kemudian hidup menumpang dari rumah teman yang satu ke lainnya. Itu dia jalani selama bertahun-tahun. Selama belajar dan bekerja.
“ Itu perjuangan yang sangat sulit,” kata Lewis sebagaimana dikutip Dream dari The Independent, Sabtu 15 Agustus 2015.
“ Awal tahun ini saya bekerja 24 jam selama seminggu untuk membiayai pendidikan dan memenuhi kebutuhan, saya hampir tidak makan,” tambah dia.
Ya, jalan hidupnya benar-benar sulit. Sangat pahit. Menumpang tidur di sofa teman dan tetangga sudah biasa untuk Lewis. Bagi dia, memiliki sebuah rumah menjadi impian yang terlampau jauh untuk jadi kenyataan.
“ Memiliki rumah permanen dengan keluarga saya, itu bukan pilihan,” tutur Lewis mengenang masa sulit itu.
Namun, kondisi itulah yang menjadi bahan bakar. Dia terus memompa semangatnya untuk belajar. Demi memperbaiki nasib. Nafsu belajar pun membuncah. Dalam sehari, dia habiskan 12 jam di perpustakaan. Melahap buku-buku.
Semua perjuangan dan pengorbanan itu terbayar. Dia diterima di Fakultas Hukum. Sebuah fakultas bergengsi di kampus elite, Cambridge.
Lewis memang belum tahu pasti apakah setelah lulus nanti, bisa mebubah nasibnya. Tapi satu hal, dia tetap yakin. Dia ingin membuat kehidupannya menjadi jauh lebih baik. Setidaknya dengan keunggulan pendidikan elite itu.
Sementara, kepala sekolah Coleg y Cymoedd, Judith Evans, mengatakan, bisa masuk ke Fakusltas Hukum, Universitas Cambridge, sudah menjadi prestasi luar biasa bagi Lewis.
“ Tetapi ketika Anda melihat perjuangan Lewis maka ini benar-benar menakjubkan. Kami sangat bangga padanya dan senang menjadi bagian dari perjalanannya,” tutur Judith.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?