Hebat! Tunawisma Ini Diterima Kuliah di Universitas Cambridge

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 15 Agustus 2015 13:30
Hebat! Tunawisma Ini Diterima Kuliah di Universitas Cambridge
Jalan hidupnya benar-benar sulit. Sangat pahit. Menumpang tidur di sofa teman dan tetangga sudah biasa untuk Lewis.

Dream - Prestasi membanggakan diraih oleh pemuda tunawisma, Jacob Lewis. Tak main-main, meski tak punya tempat tinggal tetap, pemuda 22 tahun ini diterima kuliah di kampus kenamaan dunia, Universitas Cambridge. Sudah begitu, nilai ujiannya sempurna: A.

Kisah hidup Lewis memang menginspirasi banyak orang. Tak pernah menyerah. Meski tergilas roda kehidupan, dia tak lantas melempar handuk. Pasrah dengan keadaan. Namun sebaliknya, dia terus berlari, mengejar cita-cita.

Lihat saja lika-liku kehidupannya. Dia harus keluar sekolah, drop out, pada usia 17 tahun karena tak punya biaya. Namun Lewis tak patah arang. Dia terus memperjuangkan nasibnya.

Datanglah saat itu. Ketika Coleg Y Cymoedd di Kota Aberdare, Wales, memberinya beasiswa. Tak hanya itu, karena tak punya tempat tinggal, Lewis juga ditempatkan di hotel.

Fasilitas itu tak membuat hatinya tenang. Lewis masih merasa sebagai tunawisma. Dia kemudian hidup menumpang dari rumah teman yang satu ke lainnya. Itu dia jalani selama bertahun-tahun. Selama belajar dan bekerja.

“ Itu perjuangan yang sangat sulit,” kata Lewis sebagaimana dikutip Dream dari The Independent, Sabtu 15 Agustus 2015.

“ Awal tahun ini saya bekerja 24 jam selama seminggu untuk membiayai pendidikan dan memenuhi kebutuhan, saya hampir tidak makan,” tambah dia.

Ya, jalan hidupnya benar-benar sulit. Sangat pahit. Menumpang tidur di sofa teman dan tetangga sudah biasa untuk Lewis. Bagi dia, memiliki sebuah rumah menjadi impian yang terlampau jauh untuk jadi kenyataan.

“ Memiliki rumah permanen dengan keluarga saya, itu bukan pilihan,” tutur Lewis mengenang masa sulit itu.

Namun, kondisi itulah yang menjadi bahan bakar. Dia terus memompa semangatnya untuk belajar. Demi memperbaiki nasib. Nafsu belajar pun membuncah. Dalam sehari, dia habiskan 12 jam di perpustakaan. Melahap buku-buku.

Semua perjuangan dan pengorbanan itu terbayar. Dia diterima di Fakultas Hukum. Sebuah fakultas bergengsi di kampus elite, Cambridge.

Lewis memang belum tahu pasti apakah setelah lulus nanti, bisa mebubah nasibnya. Tapi satu hal, dia tetap yakin. Dia ingin membuat kehidupannya menjadi jauh lebih baik. Setidaknya dengan keunggulan pendidikan elite itu.

Sementara, kepala sekolah Coleg y Cymoedd, Judith Evans, mengatakan, bisa masuk ke Fakusltas Hukum, Universitas Cambridge, sudah menjadi prestasi luar biasa bagi Lewis.

“ Tetapi ketika Anda melihat perjuangan Lewis maka ini benar-benar menakjubkan. Kami sangat bangga padanya dan senang menjadi bagian dari perjalanannya,” tutur Judith.

Beri Komentar