Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Saat ini, umat Islam memasuki tahun 1440 Hijriah. Ini ditandai dengan masuknya bulan Muharram.
Sebagian umat Islam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa menamai Muharram dengan Suro. Nama ini diambil dari nama hari kesepuluh bulan Muharram yaitu Asyuro.
Islam menganggap Asyura sebagai hari istimewa. Demikian pula dengan masyarakat Islam di Jawa.
Mungkin di benak kita muncul pertanyaan mengapa Muharram dijadikan sebagai bulan pembuka tahun. Sementara jika alasannya karena Muharram adalah bulan mulia, masih ada bulan-bulan lain yang istimewa.
Dikutip dari Islami.co, sejarah mencatatkan kalender Hijriah ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab RA. Ya, Umar memang dikenal sebagai pemimpin yang cukup inovatif.
Umar menjadikan peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah sebagai tahun pertama Hijriah. Bukan momen lahirnya Rasulullah maupun ketika Rasulullah diangkat sebagai Nabi oleh Allah SWT.
Dream - Hal ini bukan karena dasar. Sebelum menetapkan hal ini, Umar didatangi Maimun bin Mahran. Kepada Umar, Maimun menyodorkan dokumen tentang kesepakatan antara dua orang yang berlaku pada Sya'ban.
Umar kemudian bertanya kapan Sya'ban yang dimaksud dalam dokumen tersebut. " Tahun kemarin, tahun yang akan datang atau tahun ini?" tanya Umar.
Ketidakjelasan tahun itu membuat Umar berinisiatif mengumpulkan beberapa orang sahabat.
Kepada mereka, Umar meminta pendapat tentang penyusunan sistem penanggalan yang bisa dijadikan patokan untuk bermu'amalah atau mengikat perjanjian.
Sahabat pun memberikan usulan bermacam-macam. Ada yang mengusulkan mencontoh sistem kalender Persia dan Romawi, ada pula yang menyarankan kelahiran Rasulullah sebagai tahun awal.
Pun demikian dengan Ali bin Abi Thalib RA. Menantu Rasulullah itu menyarankan agar Umar menjadikan peristiwa hijrah sebagai tahun pertama lantaran diketahui banyak orang.
Umar pun sepakat dengan ide Ali. Akhirnya, ditetapkan tahun pertama Hijriah yaitu ketika Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah.
Pertimbangannya, hijrah merupakan peristiwa besar yang semua orang mengetahuinya. Selain itu, hijrah membawa perubahan besar bagi umat Islam.
Umar juga menetapkan Muharram sebagai bulan pembuka tahun. Alasannya, agar tidak merombak urutan bulan yang sudah baku kala itu.
Setelah semua proses selesai, Umar memberlakukan kalender Hijriah pada tahun ke-16 usai hijrah. Kala itu, Umar sudah dua tahun diangkat sebagai Khalifah.
(ism)
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

