Muthmainnah (dua Dari Kiri) Mewujudkan Mimpi Menjadi Apoteker (ugm.ac.id)
Dream - Muthmainnah, 17 tahun, mungkin hanya seorang anak dari keluarga sederhana. Bisa duduk di bangku perguruan tinggi mungkin hanya akan menjadi mimpi indah. Apalagi menjadi seorang apoteker.
Mimpi itu mungkin juga sulit terwujud lantaran dia tinggal jauh di pelosok, tepatnya di Kampung Baru, Desa Masbagik Utara, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Ditambah kondisi perekonomian yang ala kadarnya semakin mempersulit mimpi itu menjadi kenyataan. Tetapi, tampaknya doa-doanya terkabul.
Iin, panggilan akrabnya, masuk dalam daftar salah satu calon mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi. Dengan program itu, Muthmainnah akan pergi meninggalkan desanya untuk menimba ilmu di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.
" Sangat senang sekali bisa diterima kuliah di UGM. Semua tidak lepas dari doa dan dukungan orangtua," kata Iin.
Meski berasal dari keluarga sederhana, Iin tidak putus asa. Dia semakin ketat menggembleng diri dengan rajin belajar disertai menguatkan tekad. Hingga akhirnya usaha dan tekad itu membuahkan hasil.
Sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), Iin tidak pernah terlempar dari posisi tiga besar di kelasnya. Selain itu, dia sempat mendapat amanah menjadi duta sekolah dalam Olimpiade Kimia dan Olimpiade Biologi di tingkat kabupaten.
Diterima menjadi mahasiswi Fakultas Farmasi UGM merupakan pintu gerbang bagi Iin untuk mengabdi. Selepas lulus dan menyandang profesi apoteker kelak, Iin ingin mengabdikan diri di tanah kelahirannya yang masih sangat minim fasilitas maupun tenaga kesehatan.
" Selepas lulus ingin balik ke kampung, mengabdi di sini," kata dia penuh semangat.
Iin adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mawardi, 65 tahun dan Mahimun, 45 tahun. Setiap hari, Mawardi yang menjadi tulang punggung keluarga menjalani pekerjaan sebagai sopir angkit dengan penghasilan tidak lebih dari Rp50.000
Uang itu digunakan Mawardi untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya bersama istri dan ketiga anaknya. Dengan uang itu pula, Mawardi membiayai sekolah anak-anaknya.
Tentu penghasilan sebesar itu tidak cukup untuk menutupi biaya hidup dan pendidikan. Untuk menyiasati persoalan tersebut, Mawardi memutuskan merangkap pekerjaan sebagai tukang parkir.
Mengetahui putri sulungnya diterima kuliah di UGM, Mawardi mengaku sangat bersyukur. Akhirnya, cita-cita yang sudah tertanam dalam diri anaknya itu bisa terwujud.
" Alhamdulillah, saya hanya bisa berucap syukur. Keinginan anak ingin kuliah akhirnya bisa terwujud," ujar Mawardi.
Mawardi merasakan kebahagiaan begitu besar. Saking gembiranya, Mawardi mengaku selalu bercerita tentang keberhasilan anaknya masuk perguruan tinggi ternama setiap kali bertemu tetangga.
" Akhirnya jadi banyak yang tidak memandang kami sebelah mata lagi, anak seorang sopir angkot bisa diterima kuliah di UGM. Roda kehidupan terus berjalan, ada di bawah dan ada saatnya berputar ke atas," kata dia sembari menitikkan air mata.
Keberhasilan Iin menjadi tolok ukur bagi Mawardi untuk mendorong anak-anaknya yang lain bisa menempuh pendidikan jauh lebih tinggi. Untuk itu, dia siap bekerja keras demi mewujudkan mimpi keluarga itu.
" Saya ingin anak-anak berilmu, jangan seperti saya nasibnya. Harapannya bisa lebih baik hidupnya dan menjadi orang sukses bisa membantu adik-adiknya dan membanggakan orangtua," kata Mawardi.
(Ism, Sumber: ugm.ac.id)