Kesal Suara Azan, Gitaris Metal Malah Hijrah Jadi Pendakwah

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 13 Juni 2016 16:02
Kesal Suara Azan, Gitaris Metal Malah Hijrah Jadi Pendakwah
Dulu, Derry Sulaiman begitu terkenal sebagai gitaris band cadas Betrayer. Kini, dia tinggalkan dunia lamanya dan memilih jalur sebagai pendakwah.

Dream - Nama Derry Sulaiman begitu lekat dengan dunia musik cadas. Dia terkenal sebagai gitaris band aliran metal Betrayer.

Itu kisah yang berlangsung dulu. Kini, Derry telah meninggalkan dunia musik dan memilih hijrah sebagai pendakwah serta melahirkan sejumlah tembang religi.

Kisahnya bermula pada tahun 1998, ia memutuskan pergi dari Jakarta dan menetap di Bali. Dia ingin mengembangkan minat yang kala itu menyukai musik aliran cadas.

Bali menjadi tempat yang dipilihnya karena merasa tidak akan ada aturan yang akan mengikatnya. Di samping itu, Derry berpikir tidak akan lagi mendengar azan yang bisa merusak konsentrasinya.

" Karena musik saya metal itu, saya nggak cocok di Jakarta, apalagi di Sumatera, saya kira Bali yang pas untuk acara musik metal itu," kata Derry di acara Jakarta Ramadhan Festival, Minggu, 12 Juni 2016 kemarin.

Bagaiman Derry yang membenci suara azan hingga akhirnya menjadi pendakwah, klik halaman berikutnya.

 

 

1 dari 2 halaman

Hindari Azan, Justru Jadi....

Niat awal menghindari azan, Derry justru mendapat pengalaman yang berkebalikan. Ia malah mengenal Islam lebih dalam.

" Ketika saya datang ke Bali ingin bermain musik, dan saya beranggapan di sana nggak ada azan, justru di Bali saya mengenal Islam," ucap dia.

" Setiap wisatawan orang Islam, da'i yang datang ke Bali, pasti cari masjid, cari orang Islam. Karena saya punya studio musik di Legian, itu pasti mereka datang ke tempat saya untuk tanyakan sholat. Legian kan kalau orang mau ke Kuta, pasti lewat ke Legian," kata Derry.

Derry berujar, selama di Jakarta dengan penduduk mayoritas Muslim, dia tidak pernah bertemu dengan acara keagamaan. Tetapi ketika berada di Bali, dia malah sering ditemui pedakwah.

Derry mengaku ia pun kerap diajak oleh para pendakwah tersebut pergi ke masjid atau mushola. Tetapi, ajakan itu baru dapat dia jalankan sekitar tahun 2000.

" Ketika teman saya bilang, 'Der, ciri-ciri orang Islam itu sholat lima waktu, kalau laki-laki sholat berjamaah lima waktu di masjid'," terang dia.

 

2 dari 2 halaman

Dikurung 3 Hari di Masjid

Dia sempat mengalami kebingungan. Mendengar azan saja merupakan hal sulit terjadi di Bali, apalagi bisa sholat lima waktu berjamaah di masjid.

Temannya lantas menyuruh Derry berlatih terlebih dahulu untuk berdiam diri di masjid selama tiga hari. Ia turuti kata perintah itu.

" Saya tiga hari tiga malam dikurung di masjid dan nggak boleh keluar. Hari pertama itu berat sekali, karena hati sudah terpaut ke tempat hiburan, cafe, jadi rasanya sangat berat. Hari kedua mulai merasa nikmatnya masjid. Di hari ketiga, saya tahu tempat yang saya cari adalah Masjid," kata dia.

" Pada saat itu, akhirnya saya nggak mau keluar lagi dari masjid, karena waktu itu wudhu saya terjaga, sholat lima waktu berjamaah di awal waktu nggak pernah ketinggalan," sambungnya.

Selama menjalani proses hijrah, Derry mengaku merasakan semakin banyak tantangan berat yang dihadapinya. Ia mulai dikucilkan dari lingkungannya, dicemooh karena berpakaian gamis. Apalagi pada saat awal dia berhijrah di tahun berikutnya terjadi bom Bali, sehingga di juga sering dihujat sebagai teroris.

Tetapi, semua itu tidak mengurungkan niatnya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. " Saya ini maksiatnya banyak, salahnya banyak. Jadi, taubatnya harus sungguh-sungguh," tutur dia.

Laporan: Ilman Nafian

Beri Komentar