Sempurnakan Tangan Robot, `Iron Man` Bali Butuh Dana Rp 3 Juta

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 21 Januari 2016 07:03
Sempurnakan Tangan Robot, `Iron Man` Bali Butuh Dana Rp 3 Juta
"Saya mau menyempurnakan lagi alat robotik saya biar lebih maksimal. Saya sudah putus asa. Keajaiban untuk sembuh semakin ditunggu semakin tidak ada," kata dia.

Dream - I Wayan Sumardana. Inilah pria berjuluk manusia robot. Sejak tangan kirinya lumpuh, pemuda kelahiran 1984 ini membuat alat bantu. Dengan bantuan alat itu, tangan yang semula tak dapat digerakkan itu bisa kembali digunakan untuk bekerja. Kini dia dijuluki `Iron Man` Indonesia. 

Sumardana merakit sendiri alat bantu itu. Dia gunakan besi bekas alias rongsokan. Maklum, dia adalah tukang las. Sehingga besi bekas bisa mudah dia dapat. Dengan keahlian itu, kemudian dia rakit. Menyerupai robot.

Kendati tangan kiri sudah bisa dipakai untuk bekerja, Sumardana mengaku robot yang dipasang itu belum sempurna. Terutama di bagian jari. Dia kini berupaya menyempurnakan alat tersebut.

“ Kekurangannya di jari saja. Masih kurang alatnya, jadi belum sepenuhnya sempurna. Alatnya ada untuk menggerakkan jari,” kata Sumardana, saat ditemui di bengkelnya di Desa Nyuh Tebel, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, Rabu 20 Januari 2016.

Menurut dia, dua jari tangan kirinya, yakni jari manis dan kelingking, hingga kini belum bisa digerakkan.

“ Saya baru mengandalkan tiga jari saja. Biasanya jari selalu berlima, ini cuma tiga. Kasihan yang dua,” jelas bapak tiga anak ini.

Untuk menyempurnakan alat itu, Sumardana mengaku butuh dana Rp 3 juta lagi. Masih ada 10 alat untuk menggerakkan jari. Harganya sekitar Rp 300 ribu perbiji. “ Itu yang termurah. Ada yang mahal yang lebih canggih,” jelas Sumardana.

Tekat menyempurnakan alat ini sudah bulat. Sebab, hingga kini belum ada tanda-tanda tangan yang lumpuh itu akan sembuh.

“ Saya mau menyempurnakan lagi alat robotik saya biar lebih maksimal. Saya sudah putus asa. Keajaiban untuk sembuh semakin ditunggu semakin tidak ada,” tambah dia.

(Ism) 

1 dari 2 halaman

Tak Berharap Pemerintah

Dream - Sumardana mengaku tak terlalu berharap pada bantuan pemerintah. Bagi dia, tak masalah pemerintah mau membantu atau tidak.

“ Dikasih saya terima, tidak juga tak apa. Saya masih bisa bekerja meski masih dalam keadaan seperti ini,” ucap Sumardana.

Dia mengaku, sejak mengalami kelumpuhan, tak ada perhatian dari pemerintah.

“ Begitu saya sudah terekspose baru pada datang ke sini. Bahkan saya diminta mengusir teman-teman wartawan. Mungkin malu kemiskinan di Karangasem terungkap. Saya tidak peduli. Faktanya demikian.”

 

2 dari 2 halaman

Jangan Menyerah

Dream - Dulu, kata Sumardana, pernah mendapat dana Bantuan Sosial (Bansos). Namun, dana yang diberikan dipotong 50 persen dari jumlah yang seharusnya.

“ Lalu katanya ada bantuan bedah rumah. Janji saja, sampai sekarang saya tidak terima. Saya tanya soal bantuan itu, dijawab katanya saya orang luar daerah. Giliran bantuan saya dibilang luar daerah. Giliran urunan uang, saya dibilang orang dalam dan harus nyumbang,” keluh Sumardana.

Meski demikian, dia perpesan kepada semua orang untuk tidak putus asa dalam menjalani hidup. Meski tengah dirubung sakit, yang membuat fisik tak lagi berfungsi sempurna.

“ Berusaha bertahan hidup, jangan bergantung pada orang lain. Itu saja kuncinya. Yang sehat juga harus terus bekerja,” pesan dia. (Laporan: Berry Putra, Bali) 

Beri Komentar