Persalinan Normal Juga Punya Risiko Komplikasi, Sudah Tahu?

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 4 November 2020 14:02
Persalinan Normal Juga Punya Risiko Komplikasi, Sudah Tahu?
Banyak yang beranggapan kalau persalinan normal bebas dari masalah komplikasi. Ketahui faktanya.

Dream - Kelahiran per vaginam atau secara normal tidak selalu mudah. Mungkin banyak orang beranggapan kalau persalinan secara normal akan berdampak jauh lebih positif bagi ibu dan bayi, bahkan tanpa komplikasi.

Faktanya tak selalu demikian. Menurut Jane Barry, seorang bidan profesional asal Austrial mengungkap kalau risiko komplikasi selalu ada di tiap persalinan. Ibu dan tenaga kesehatan yang menangani harus selalu waspada.

" Kelahiran pervaginam banyak yang menganggap merupakan cara ideal bagi bayi untuk dilahirkan dan membawa banyak manfaat fisik dan psikologis bagi ibu dan bayinya. Namun, persalinan pervaginam tidak selalu mulus dan pada beberapa ibu justru mengalami komplikasi setelahnya dan berdampak selama tahun-tahun berikutnya," kata Barry, dikutip dari KidSpot.

 

1 dari 5 halaman

Tergantung Kondisi Ibu

Setiap kehamilan adalah unik. Sebagai individu, setiap kehamilan dan kelahiran berbeda. Pada beberapa kondisi ibu tak mengalami masalah apapun, tapi ada juga yang mengalami masalah kesehatan justru setelah melahirkan.

" Komplikasi bervariasi tergantung pada kondisi ibu, dan proses persalinan. Beberapa masalah muncul setelah persalinan tanpa gejala apapun. Inilah mengapa sangat penting perawatan setelah melahirkan normal bagi ibu," kata Barry.

 

2 dari 5 halaman

Komplikasi yang Bisa Muncul Saat dan Setelah Persalinan Normal

- Tekanan darah tinggi - juga disebut preeklamsia
- Perdarahan - jika ini terjadi sebelum bayi lahir, disebut perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum jika terjadi setelah bayi lahir
- Bukaan tidak berkembang - juga disebut kegagalan untuk maju 
- Kesulitan obstruksi dengan kelahiran bayi. Ini terkadang terjadi jika panggul ibu kecil dan janin berukuran besar
- Kelelahan ibu sampai-sampai tidak bisa mendorong bayi keluar. Terkadang alat forsep atau ekstraksi vakum digunakan untuk membantu bayi lahir
- Kerusakan pada perineum - baik akibat robekan atau episiotomi.
- Kerusakan pada dasar panggul ibu.
- Fistula vagina - kondisi ketika terbentuknya celah pada rongga vagina dengan organ lain, seperti kandung kemih, usus besar, atau rektum (bagian bawah usus besar yang dekat dengan anus).

 

3 dari 5 halaman

Perubahan Mengagumkan Pada Tubuh Ibu Pasca Melahirkan

Dream - Tubuh ibu mengalami transformasi besar selama kehamilan, saat persalinan dan setelah persalinan. Banyak ibu yang kaget dan bingung dengan kondisi tubuhnya setelah melahirkan.

Edukasi kesehatan seputar kesehatan ibu pasca melahirkan tak segencar saat hamil. Keluhan akan muncul.

Mulai dari tangan yang gemetar, rahim yang masih merasakan kram setelah melahirkan, lemas, hingga depresi dan stres kerap dialami ibu setelah persalinan.

Ibu membutuhkan masa pemulihan setelah melahirkan. Fisik, hormon dan mentalnya mengalami perubahan drastis. Berikut perubahan pasca persalinan di tubuh ibu yang penting diketahui, agar bisa dihadapi dan ditangani dengan baik.

Hormon
Ibu akan merasa bukan dirinya yang sebelumnya, dan hal ini terjadi karena perubahan hormon secara drastis. Tepat setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, yang dapat berkontribusi pada " baby blues" (perubahan suasana hati, kecemasan, kesedihan atau lekas marah, yang hilang dalam waktu satu minggu atau lebih setelah kelahiran) atau depresi pascapartum (gejala serupa yang lebih intens, bertahan lebih lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari).

" Beberapa hormon naik dari yang tertinggi ke yang paling rendah, tepat sebelum melahirkan hingga setelahnya," kata Ann Dunnewold, psikolog yang juga penulis buku The Real Mom's Postpartum Survival Guide.

Sementara itu, oksitosin atau hormon cinta akan membanjiri tubuh. Ini mengubah perilaku menjadi keibuan. Saat oksitosin meningkat, kecemasan juga bisa meningkat. 
" Hormon-hormon ini mempengaruhi satu sama lain dalam tarian yang kompleks dan memengaruhi energi dan suasana hati," ujar Dunnewold.

Hormon tiroid, yang membantu mengatur suhu tubuh, metabolisme, dan fungsi organ, juga dapat dipengaruhi oleh proses melahirkan. Menurut American Thyroid Association, lima hingga 10 persen wanita menderita tiroiditis pascapartum, yaitu pembengkakan kelenjar tiroid, dan penyebab pastinya tidak diketahui.

 

4 dari 5 halaman

Penurunan level vitamin dan mineral

Merasa gemetar dan kelelahan cukup umum terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Gejalala ini juga dapat dikaitkan dengan kadar zat besi yang rendah. 
“ Ibu berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi setelah melahirkan, karena kehilangan darah selama persalinan,” kata Sarah O’Hara, seorang pakar gizi.

Tetap minum multivitamin kaya sat besi setelah melahirkan dan menyusui. Perbanyak makanan kaya zat besi, seperti daging merah, produk biji-bijian yang diperkaya, kacang-kacangan, lentil, dan sayuran hijau. Ibu merasa lebih baik dalam beberapa minggu setelah meningkatkan asupan zat besi.

 

5 dari 5 halaman

Uterus, vagina dan vulva

Rahim mengalami banyak perubahan saat hamil, melahirkan dan setelahnya. Pemulihan persalinan pervaginam (normal) dan operasi caesar memang berbeda, tapi memiliki persamaan.

Ibu tetap akan mengalami nyeri, yang terasa seperti kram menstruasi, dimulai segera melahirkan dan berlangsung selama dua atau tiga hari. Kontraksi pun akan terus berlanjut terus selama beberapa minggu ke depan. Ini membantu rahim menyusut ke kondisi sebelum melahirkan. Selama sekitar enam minggu, rahim akan berkontraksi ke ukuran aslinya, akhirnya turun ke belakang tulang kemaluan.

Ibu juga akan mengalami keluarnya cairan berdarah, yang disebut lokia, hingga enam minggu setelah melahirkan. Darah dan lendir itu, yang warnanya menjadi lebih terang dan mengalir seiring waktu, berasal dari area tempat plasenta menempel pada otot rahim.

Sumber: Todays Parent

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More