Pandji Pragiwaksono Dukung Jokowi dan Anies Baswedan Karena Satu Alasan Ini

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 23 April 2019 14:27
Pandji Pragiwaksono Dukung Jokowi dan Anies Baswedan Karena Satu Alasan Ini
Pandji pernah memilih Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI Jakarta namun putar haluan saat Ahok-Djarot melaju.

Dream - " You can't teach old dog a new trick. (Kamu tak bisa ajari anjing tua trik baru)."

Kalimat itu muncul dari mulut komika, Pandji Pragiwaksono. Idiom itu dia buat untuk menggambarkan karakter yang dimiliki Prabowo Subianto.

Pandji mengkritik kemampuan Prabowo terbuka terhadap kritik dan kebaruan. Ucapan itu muncul dalam video Pandji di Youtube, berjudul Presiden Pilihan Saya Adalah....

Dalam video berdurasi 28 menit 27 detik itu, Pandji memaparkan alasannya memilih Joko Widodo. Selama ini, sosok Jokowi kerap dikritiknya karena masalah penyelesaian kasus Hak Asasi Manusia (HAM).

Meski mengkritik petahana, Pandji telah menetapkan pilihan. Dengan empat alasan, Pandji memberikan suaranya untuk pasangan Jokowi-Maruf Amin. Salah satu poin mengenai gaya kepemimpinan sipil.

" Secara umum, dari dulu, gue nggak pernah suka gaya kepempimpinan yang keras. Gue tidak pernah memilih pemimpin yang kelihatan punya kesulitan mengontrol dirinya," kata Pandji di akun Youtube pribadinya.

1 dari 6 halaman

Alasan Tak Mendukung Ahok

Mundur ke belakang, alasan Pandji memberikan suara pada seseorang pernah dia utarakan saat memilih Gubernur DKI Jakarta 2017.

Meski memilih Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (BTP) pada Pilgub DKI Jakarta 2012, Pandji diketahui putar haluan. Di Pilkada 2017, Pandji memilih pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uni dan tercatat sebagai salah satu juru bicara pasangan tersebut.

Di laman pribadinya, Pandji menjelaskan posisi politiknya kala memilih Jokowi.

" Saya memilih gubernur yang peduli dengan cara dia melakukan sesuatu bukan hanya melakukan tanpa pertimbangan dalam tindakan. Gubernur yang memilih pendekatan humanis..."

2 dari 6 halaman

Harapan Setelah Jokowi Kembali Menjabat

Setelah Jokowi tak lagi menjabat Gubernur DKI Jakarta, Pandji punya alasan khusus tak mendukung BTP. " Penggantinya, tidak memiliki pendekatan yang sama," kata dia.

Pandji kemudian memaparkan data 8.000 kepala keluarga menjadi korban penggusuran beberapa bulan usai BTP menjabat. " Coba bandingkan dengan Fauzi Bowo yang menggusur 3200 kepala keluarga dalam 5 tahun!"

Meski mendukung pemimpin yang berkarakter tenang, terbuka, dan memiliki rekam jejak baik, serta program mumpuni, Pandji terus memberikan kritik.

Dia menyebut, Jokowi harus terus diawasi lantaran orang-orang di sekeliling RI 1 itu. " Jokowi harus dijagain dari lingkungan sekitar. Pengusaha kayu, tambang, yang dekat sekali dengan beliau," ucap dia.

Pandji berharap, seandainya Jokowi terpilih, dia ingin melihat kepemimpinan kedua yang lebih berani mengambil keputusan penting untuk masyarakat. Dia juga berharap, pada 2024 nanti muncul capres baru yang lebih segar.

3 dari 6 halaman

Pandji Pragiwaksono Akhirnya Pilih Jokowi, Alasannya Mengejutkan

Dream - Pandji Pragiwaksono akhirnya buka suara terkait pilihannya dalam Pilpres 2019. Komika itu membuat pengakuan lewat video yang diunggah ke Youtube.

" Oke seperti yang saya janjikan, sekarang saatnya saya mengumumkan siapa yang gue pilih di pemilihan presiden 2019 ini," tutur Pandji dalam video yang diunggah ke Youtube, Senin 22 April 2019.

Dalam keterangan video itu Pandji menulis video ini dibuat sebelum hasil Pilpres 2019 diketahui. " Presiden republik indonesia pilihan gue adalah Bapak Joko Widodo. Mari gue kasih tahu alasannya," tambah Pandji.

Pandji mengaku sebelumnya telah mengunggah video tentang sejumlah poin yang menjadi pertimbangannya memilih presiden. Dia menyebut ada empat poin.

Poin pertama adalah karakter kepimpinan. Ke dua rekam jejak. Ke tiga adalah program dan gagasan. Sementara ke empat adalah suara hati. " Bukan alasan, tapi kalau lo diam terus tanya ke hati lo, hati lo jawab siapa."

4 dari 6 halaman

Tak Emosional

Soal kepemimpinan, Pandji mengaku tidak suka dengan gaya kemepimpinan yang keras. Dia tidak pernah memilih pemimpin yang tidak bisa mengontrol diri.

" Prinsip yang gue pakai di dunia entertainment, kalau lo tidak bisa mengontrol diri lo, tidak bisa mengatur acara. Kalau lo enggak bisa megatur diri lo, lo enggak bisa mengatur acara," kata ddia.

Prinsip itu juga dia terapkan dalam memilih presiden. Dia mengaku tidak pernah memilih orang yang emosional.

Prinsip ini sudah dia pegang sejak zaman Susilo baambany Yudhoyono. Menurut dia, SBY merupakan sosok yang tenang dan cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan.

" Pak Jokowi seperti itu, Mas Anis seperti itu, dan kali ini Pak Jokowi seperti itu," tambah dia.

5 dari 6 halaman

Tak Sulut Kebakaran

Pandji menegaskan dirinya tidak pernah setuju dengan pendapat yang menyebut rakyat Indonesia harus dipimpin dengan sifat keras. Menurut dia, pendapat itu sama saja menghina rakyat Indonesia.

" Dan dari alasan itu aja, gue lebih cenderung memilih Pak Jokowi daripada Pak Prabowo, kerena gue masih pegang prinsip yang sama," kata dia.

" Kalau lo tahu lagi musim kering, panas banget, jangan masuk hutan sama orang yang merokok alias jangan masuk ke area berbahaya dengan orang yang bisa menyulut kebakaran," tambah Pandji.

6 dari 6 halaman

Adaptif

Pertimbangan lain adalah adaptif terhadap perubahan. Pandji melihat Prabowo sebagai orang yang konsekuen. Kata dia, Prabowo cenderung saklek. " Tapi juga menggambarkan beliau tidak adaptif," ujar Pandji.

" Nah, Pak Jokowi kendatipun, istilahnya, rada-rada mencla-mencle, gue ngerasa Indonesia zaman sekarang, dunia zaman sekarang, 2019, kita butuh orang yang terbuka terhadap kebaruan," taambah dia.

Menurut dia, Prabowo tidak pernah berubah narasinya. Untuk orang seusia Prabowo, maupun Ma'ruf Amin yang menjadi pasangan Jokowi, sangat susah untuk berubah.

Beri Komentar